Semakin Sering Terpapar Sinar Matahari Ternyata Bisa Bikin Bahagia

Oleh: Maya Saputri - 9 Desember 2017
Dibaca Normal 1 menit
Tim peneliti Universitas Brigham Young di Amerika Serikat menemukan orang-orang merasa lebih banyak tekanan mental saat sedikit terpapar sinar matahari.
tirto.id - Apakah sinar matahari benar-benar bisa membuat Anda bahagia? Sebuah studi baru-baru ini dari Universitas Brigham Young di Amerika Serikat telah mengungkapkan bahwa jumlah waktu antara matahari terbit dan terbenam mempengaruhi suasana hati semua orang - bahkan melebihi faktor lain seperti suhu, polusi, dan hujan.

Tim peneliti menemukan orang-orang merasa lebih banyak tekanan mental saat sedikit terpapar sinar matahari. Panjang waktu seseorang terpapar sinar matahari saat siang hari mempengaruhi suasana hati orang tersebut.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorder pada 2016 ini mencuat setelah para peneliti memeriksa data soal atmosfer dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat.

Mereka juga membandingkan antara pengaruh cuaca dengan kesehatan mental pasien di pusat pelayanan konseling dan psikologi di Universitas Brigham Young.

"Itulah salah satu kesimpulan mengejutkan penelitian kami," kata salah satu peneliti, Mark Beecher dalam siaran persnya, seperti dilansir dari Medical Daily.

"Saat hujan, atau hari-hari dengan lebih banyak polusi, orang-orang merasa mereka tak tertekan. Namun, kami tak melihat itu. Kami melihat radiasi matahari, atau jumlah sinar matahari yang terpapar. Kami mencoba memperhitungkan hari saat cuaca berawan, hujan, banyak polusi. Satu hal yang benar-benar penting adalah waktu antara matahari terbit dan terbenam, " tambahnya.

Baru-baru ini, beberapa penelitian lain telah mencoba melihat efek cuaca pada suasana hati, namun hasilnya beragam.

Selain itu, menurut penelitian lainnya, orang dengan gangguan psikotik seperti skizofrenia mungkin akan merasa lebih baik jika mereka menghabiskan lebih banyak waktu di bawah sinar matahari, dikutip dari Eureka Alert.

Asosiasi Psikosis Dini Internasional telah melaporkan bahwa penelitian dari Universitas Oslo Norwegia yang dipresentasikan dalam konferensi tahunan di Italia menunjukkan bahwa kadar vitamin D rendah "terkait dengan gejala negatif dan depresi yang meningkat" pada pasien tersebut.

Tim peneliti menyelidiki apakah vitamin D rendah dapat dikaitkan dengan gejala spesifik dan juga defisit kognitif pada pasien muda. Dalam kedua kasus tersebut, beberapa ratus pasien dipelajari; hasilnya menunjukkan hubungan antara kekurangan vitamin D dan gejala negatif kejiwaan dan hubungan antara vitamin dan "gangguan kognitif dalam pemrosesan kecepatan dan kelancaran verbal."

Vitamin D memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah untuk penyerapan kalsium di dalam tubuh, menurut National Institutes of Health.

Manfaat lainnya berperan dalam pertumbuhan sel dan tulang dan fungsi kekebalan tubuh. Karena tubuh kita memproduksinya saat kulit kita terkena sinar matahari, orang yang menghabiskan banyak waktu di dalam rumah bisa menjadi kekurangan vitamin dan terlebih lagi di musim dingin.

Baca juga artikel terkait KEBAHAGIAAN atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri
Dari Sejawat
Infografik Instagram