Seluk Beluk Berkendara dengan Ban Baru

Ilustrasi ban mobil. Getty Images/iStockphoto
Reporter: Yudistira Perdana Imandiar - 25 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Saat musim mudik lebaran, kewaspadaan pada kondisi kendaraan cukup menguras perhatian pemilik kendaraan. Namun, perhatian pada kondisi komponen kendaraan terutama ban wajib terus jadi perhatian.
tirto.id - "Ban itu nyawa kita di jalan!"

Peringatan kewaspadaan semacam ini sering kali keluar dari mulut orang-orang terdekat atau ulasan-ulasan ihwal keselamatan berkendara di jalan. Apa yang terjadi pada ban, tentu akan berdampak pada kondisi dan keselamatan kendaraan dan para penumpangnya. Sehingga kondisi kesehatan ban harus menjadi ritual wajib untuk diperiksa oleh para pengguna kendaraan seperti mobil.

Prinsip ini berlaku universal, artinya tidak ada pengecualian, termasuk bagi pemilik mobil yang sudah memasang ban baru pada kendaraannya. Ketebalan karet ban bukan parameter mutlak, ban masih aman dibawa berkendara. Padahal banyak aspek remeh temeh yang sangat penting.

Langkah awal yang harus dilakukan saat menggunakan ban baru, yaitu mengisi angin ban sesuai ketentuan dari pabrikan mobil. Petunjuk bisa dilihat di buku manual kendaraan, atau biasanya dicantumkan dalam stiker di pintu supir. Ada baiknya mengisi angin ban dengan nitrogen yang punya tekanan lebih stabil.

Selanjutnya, ban baru perlu pemanasan agar bisa menemukan cengkeraman optimal di atas permukaan jalan. Pada paparan Bridgestone Indonesia, karet ban memerlukan waktu adaptasi sekiranya sampai jarak tempuh seratusan kilometer.

Selain untuk menyesuaikan temperatur ban, pemanasan juga bertujuan menghilangkan cairan kimia yang digunakan pabrikan ban untuk membuat tampilan ban lebih mengkilap saat proses produksi. Mengemudikan mobil dengan ban baru juga butuh perasaan lebih halus. Saat karet ban belum menemukan cengkeraman terbaiknya, pengendara disarankan melajukan mobil dengan kecepatan konstan.




“Pada waktu pemakaian ban baru, jarak sampai 200 km, kecepatan (mobil) tidak boleh lebih dari 60 km/jam, supaya terbiasa dengan ban (baru) tersebut," tulis Bridgestone.

Dengan kondisi ban baru dengan karet yang belum lentur, makruh hukumnya menaikkan kecepatan secara drastis, atau pengereman mendadak. Saat periode jarak perjalanan di bawah 350 km, pengemudi harus menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan, sebab ban baru dengan grip belum maksimal akan sulit dikendalikan ketika harus mengerem mendadak. Pengemudi juga akan mengalami fase penyesuaian rasa ketika mengendarai mobil baru. Selama masa pemanasan itulah sopir bisa menemukan rasa berkendara di balik kemudi.

Mengganti Ban

Anjuran mengganti ban tidak dituangkan dalam aturan baku seperti jadwal penggantian oli mesin. Usia pakai ban jenis yang sama bias berbeda, tergantung cara pemakaian, perawatan, seringnya kendaraan digunakan, dan kondisi permukaan jalan.

“Setelah (pemakaian) lima tahun atau lebih, ban Anda harus mendapatkan pemeriksaan lengkap oleh tenaga profesional,” jelas pihak Michelin India dalam situsnya.

Parameter ban telah memasuki usia apkir, yakni apabila tinggi kembang yang tersisa tinggal 1,6 mm. Dalam kondisi tersebut, menurut Bridgestone Indonesia, alur ban terlihat putus atau sering disebut ban “gundul”. Keadaan ban seperti itu sudah pasti tidak lengket dengan permukaan jalan, sehingga berisiko mengalami selip ketika bertemu genangan air, atau pasir.

Pada ulasan yang diunggah NTSB Tire Safety SymposiumTire Aging and Service Live, yang ditulis Sean Kane
dari Safety Research & Strategies, Inc., ban yang sudah melewati waktu kadaluarsa akan mengalami segenap perubahan, Perubahan tersebut meliputi tingkat keregangan karet ban, perubahan bentuk, penurunan daya cengkeram, yang dipengaruhi ozon, suhu udara, kelembaban, atau faktor lain dari lingkungan. Pengikisan dan pengerasan karet dinding dan tapak ban akibat usia pakai, tekanan oksigen, ozon, cahaya matahari, dan temperatur udara tinggi.



Pergantian ban relatif bisa mencapai dalam rentang waktu enam sampai delapan tahun pemakaian. Apa yang harus dilakukan ketika ban mobil sudah menipis, namun anggaran belanja tidak cukup untuk mengganti empat ban? Ketika menghadapi dilema seperti itu, pemilik mobil bisa memilih jalan tengah, yakni mengganti ban yang kondisinya paling buruk saja.

“Jika hanya mengganti dua ban, pasang di roda belakang, karena kalau yang diganti ban depan, sapuan air akan lebih cepat. Ban mobil itu menyapu air ke belakang, jadi berisiko ban belakang tidak bisa mengimbangi dan terjadi oversteer, dan (roda) tidak bisa dikendalikan. Tapi, kalau roda depan understeer, masih bisa dikendalikan,” saran Arijanto Notoraharjo, Executive Vice President Marketing & Sales Replacement MC PT Gajah Tunggal Tbk kepada Tirto

Oversteer terjadi ketika ban belakang kehilangan traksi, sehingga bagian belakang mobil hilang kendali kemudian melintir, bahkan bisa mengakibatkan mobil berbalik arah.



Kondisi yang riskan bagi pengemudi adalah saat proses pengereman kala berbelok, atau menerabas tikungan dengan kecepatan tinggi. Seperti yang dikatakan Arijanto, masalah oversteer ini bisa juga dipengaruhi daya cengkeram ban belakang lebih rendah dibandingkan ban depan. Sebaliknya, jika ban depan yang dikorbankan, maka risiko yang mungkin terjadi adalah understeer.

Secara sederhana, Autoweek memaparkan, mobil menjadi sulit untuk berbelok ketika mengalami understeer. Meskipun tetap menimbulkan risiko kecelakaan, masalah understeer ini cenderung lebih mudah untuk diatasi oleh supir dengan menurunkan kecepatan dan mengarahkan mobil perlahan ke jalur yang tepat.

Aspek lain yang perlu dicermati ketika mengganti ban mobil, yakni tipe dan pola ban yang dipilih. Bridgestone Indonesia menganjurkan penggunaan ban yang sama, demi menyeragamkan kualitas kerja keempat roda. Jenis ban harus disesuaikan dengan ukuran pelek supaya pemasangan presisi.

Ban dan Kondisi Jalan


Kinerja ban sangat teruji ketika menempuh perjalanan mudik jarak jauh dengan kondisi mobil sesak penumpang dan barang bawaan. Kondisi jalanan di Indonesia yang kerap bergelombang, sekalipun di jalan bebas hambatan menambah derita si karet pelapis roda. Bukan masalah besar ketika mobil sarat muatan melaju di jalan aspal hot mix mulus.

Namun, keadaan bisa berubah ketika harus melintas di jalan bergelombang atau licin karena genangan air atau debu. Untuk mengantisipasi kondisi permukaan jalan licin berdebu, pemilik mobil bisa mengurangi tekanan angin ban. Dalam kondisi jalanan licin, seperti jalur off-road. Pengurangan tekanan angin agar luas tapak ban di permukaan jalan meningkat.

Dengan mengurangi tekanan angin, luas area ban yang bersentuhan dengan permukaan jalan lebih besar, sehingga daya cengkeram ban terhadap jalanan meningkat karena area tapak ban yang menyentuh permukaan jalan menjadi lebih besar.



Namun, mengurangi tekanan ban tentunya akan mempengaruhi kemampuan manuver mobil. Saat harus melibas tikungan tajam, jangan mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Ini karena kondisi tekanan angin rendah, ban mudah selip sehingga berpotensi terjadi oversteer atau understeer.

Saat melewati jalanan licin dengan air atau kondisi berdebu, pengemudi mobil transmisi manual disarankan menggunakan pengereman mesin (engine brake). Alasannya, piringan cakram dan tromol yang sudah terkontaminasi debu menjadi licin sehingga mengurangi gaya gesek dan rawan gagal pengereman. Sehingga, memastikan kondisi ban dan komponen mobil lainnya layak untuk perjalanan jarak jauh merupakan salah satu upaya menjaga keselamatan.

Baca juga artikel terkait BAN atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Otomotif)

Reporter: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra
DarkLight