Seleb Medsos Sudah Pamit kok Balik Lagi, Apa Masalah Mereka?

Penulis: Widia Primastika, tirto.id - 8 Agu 2019 11:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Kesulitan dan kelelahan benar-benar dialami oleh para Youtuber. Hal-hal itu memicu stres, bahkan depresi.
tirto.id - Pada pekan terakhir Juli 2019, Ria Ricis menyatakan pamit dari media sosial. Selebritas dengan belasan juta pengikut YouTube ini menyampaikan perjalanan kariernya melalui video berjudul “Saya Pamit” yang ia unggah di Youtube.

“Ya mungkin karena memang ini video terakhir yang kalian tonton di channel ini, sebelumnya aku minta maaf, tapi ada yang ingin Ricis ceritain sedikit perjalanan Ricis ketika menjadi selebgram dan konten kreator,” ujar Ricis dalam videonya.

Ia pun menceritakan kisah di balik kelahiran konten-konten di kanal Youtubenya. Ricis mengaku ia harus menghabiskan hidupnya untuk bekerja, bahkan dalam keadaan mengantuk.

“Dan mata itu yang sudah tidur setengah gini, udah yang ngangguk-ngangguk gitu, antara lanjut apa nggak ya, dan aku mikir, kalau aku lanjut ngedit, aku menjemput mimpiku, tapi kalau aku lanjut tidur, aku meneruskan mimpiku dalam tidur. Jadi aku lebih memilih menjemput mimpi, aku cuci muka dengan air yang sangat dingin, aku wudhu, gimana supaya caranya biar enggak ngantuk,” katanya.

Namun, ternyata video tersebut bukan video terakhir Ricis. Ia masih mengunggah video lain dalam kanalnya hingga dirinya dianggap oleh warganet sekadar untuk mencari sensasi, sehingga Ricis pun menonaktifkan kolom komentarnya.

Kemudian, Ricis mengunggah video berjudul “Alasan Saya Pamit” dan menyatakan bahwa ia kembali lagi karena didukung oleh para penggemarnya.

“Iya [beneran ingin pamit], sampai setelah itu aku ngomong ke anak-anak dalam front terbuka, sebelas orang itu aku kumpulin di rumah, di meja ruang tamu. Aku ngobrol, kita kurangnya di mana, kita harus ngapain, sampai aku akhirnya memutuskan bahwa oke besok kalian libur, kita sama-sama introspeksi diri, jadi kita nanti kembali ke kantor harus bisa ngasih sesuatu yang fresh lagi,” tutur Ricis.


Ricis juga mengatakan bahwa ia lelah dengan aktivitas Youtubenya, apalagi ia juga memiliki kegiatan lain di luar hiburan yang ia bagikan di kanalnya. Ricis mengaku, ia meneruskan aktivitas di YouTube itu karena banyak yang memberikan semangat dan sayang jika ia melewatkan beragam tawaran yang masuk.

Namun, lama-kelamaan, produktivitas Ricis dan timnya di balik layarnya menurun, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.

Ricis mengatakan bahwa tanpa sorot kamera, ia merasa hidupnya lebih ringan, tapi karena dorongan warganet, ia akhirnya kembali ke dunia Youtube.

Pergi dan Kembali di Dunia Maya

Fenomena seleb pergi dan kembali alias pamit, tapi kemudian balik lagi ke media sosialnya adalah hal yang sering terjadi. Di Indonesia, Cinta Laura dan Sarah Sechan juga pernah pamit di akun Instagram-nya. Alasan mereka sama, ingin fokus dengan kehidupannya. Selain itu, ada juga Awkarin yang sempat pamit dan mengucapkan kalimat perpisahan, tapi kembali lagi.

Pada 2018, situs The Guardian pernah mengangkat cerita tentang beberapa Youtuber yang merasa lelah dengan popularitasnya.

Lucy Moon, misalnya. Youtuber kecantikan dan gaya hidup ini mengatakan bahwa perasaan stres tak hanya menjalar di otaknya, tapi juga dirasakan oleh Youtuber lain. Mereka merasa kehidupan mereka sudah tak bisa disebut normal. Bahkan, tak sedikit yang merasa tidak bahagia.

Akhirnya, tak sedikit dari mereka yang mengungkapkan kekhawatiran akan kesehatan mental mereka di depan kamera. Sayangnya, para penikmatnya sering menganggap remeh. Mereka menganggap bahwa menjadi Youtuber adalah pekerjaan mudah: menyalakan kamera dan menyemburkan seluruh ide di otaknya.


“Saya tidak tahu satu pun Youtuber yang belum mengalami kelelahan dalam bentuk apa pun. Saya tahu, banyak orang yang kelelahan karena ketakutan akan platform,” ujar Lucy Moon. Stres itu menyebabkan ia harus menjalankan terapi psikologi.

Perasaan lelah juga dialami PewDiePie, “Kamu sadar bahwa kamu tidak bisa istirahat,” ungkapnya, “Jika kamu istirahat, maka angka anda –jumlah penonton video anda, dibantu oleh algoritma YouTube yang menampilkan video kepada pemirsa– akan jatuh,” tambahnya.

Begitu pun yang dialami Emma Blackery, seorang komedian dan musisi yang mengatakan bahwa tak banyak orang yang percaya bahwa mereka dilanda stres. Padahal, ia merasa bahwa hidupnya tak pernah berhenti: mengunggah dua video seminggu, menjalankan dua perusahaan, sebuah label rekaman, menyiapkan perilisan album, membuat video musik, menyiapkan wawancara, dan ini-itu lainnya.

“Jika video bekerja dengan sangat baik, Anda senang dengan keberhasilan itu. Ketika video berikutnya keluar dan tidak mendapatkan banyak penonton, Anda berpikir: ‘Apa kesalahan yang saya lakukan?’,” ungkapnya.

Media Sosial dan Kehidupan Influencer

Penggunaan fitur like memang menjadi bahan perbincangan hangat belakangan ini, karena ia banyak dikaitkan dengan kesehatan mental penggunanya. Alasan itu pula yang membuat Instagram berencana menghapus fitur like.

Tirto pernah mengulas tentang alasan orang senang mendapat like dan komentar di media sosial mereka. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingginya like yang mereka dapatkan memunculkan rasa bangga. Para peneliti menduga, hal tersebut yang membuat orang akhirnya berlomba-lomba meraup like, baik dari para pengikutnya maupun orang lain.

Dalam kasus Ricis dan beberapa influencer lain, mereka menganggap bahwa komentar dari warganet merupakan bentuk dukungan, tapi para penggemar sebaiknya menghargai idolanya yang ingin beristirahat dari media sosial.

Menurut The Verge, YouTube telah membentuk wabah burnout bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya. Youtuber papan atas umumnya akan terdorong untuk membuat video tanpa henti untuk memenuhi nafsu penontonnya. Para pesohor ini akan merasa takut kehilangan momentum, bahkan dalam era digital ini, hidup mereka dibayangi oleh algoritma agar karya-karya tersebut bisa selalu menjadi yang paling populer.

Infografik Berhenti Dari Medsos
Infografik Berhenti Dari Medsos. tirto.id/Quita


Selain itu, masalah kelelahan seperti yang dialami Ricis memang sangat mungkin terjadi, sebab mereka biasanya akan menangani segala aspek produksi sendiri.

“Dan karena produk tersebut bukan sekadar rekaman, tetapi juga menggambarkan sebuah kepribadian, kemudian, mereka tidak cukup hanya dengan menyusun sebuah video yang menarik. Youtuber harus menciptakan sebuah keintiman, sehingga para penonton merasa bahwa mereka adalah teman,” tulis The Verge.

Tak cukup sampai di situ, Youtuber juga punya PR lain setelah mengunggah konten. Mereka harus terlibat aktif dalam komentar, media sosial, hingga melakukan siaran langsung.

Sayangnya, beberapa Youtuber ini menggantungkan hidupnya dari YouTube. Ketika mereka memilih untuk beristirahat sejenak dan para pengikutnya ngambek, mereka khawatir saat kembali lagi, kanalnya akan sepi pengunjung. Jika ini terjadi, tentu akan memengaruhi pendapatan mereka.

Baca juga artikel terkait YOUTUBERS atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani

DarkLight