Sejarah Panjang Lahirnya Institut Pertanian Bogor (IPB)

Infografik Sejarah institut pertanian bogor
Kampus Institut Pertanian Bogor. FOTO/IPB
Oleh: Iswara N Raditya - 2 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Proses sejarah lahirnya Institut Pertanian Bogor berlangsung sangat lama, dari 1918 hingga 1963.
tirto.id - Institut Pertanian Bogor (IPB) akan berganti nama menjadi IPB University. IPB memiliki sejarah yang amat panjang. Cikal-bakal institusi pendidikan ini sudah ada sejak zaman Hindia Belanda sebelum akhirnya diresmikan Presiden Sukarno dengan nama IPB pada 1 September 1963.

Sejak masa kolonial, Buitenzorg atau Bogor memang menjadi tempat representatif bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang flora dan fauna. Pemerintah kolonial mendirikan beberapa lembaga penelitian terkait hal ini di Bogor.

Salah satunya adalah ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda G.A.G. Gerard Philip Baron van der Capellen pada 18 Mei 1817.

Selain kebun raya yang memiliki koleksi banyak jenis tanaman, di Bogor ada pula Algemene Proefstation voor de Landbouw (Lembaga Penelitian Pertanian) dan Veeartsenijkundige Instituut (Lembaga Penelitian Kedokteran Hewan).

Maka, dikutip dari buku Sejarah Pendirian Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertanian di Bogor (2012) suntingan Soekardja Somadikarta dan kawan-kawan, sejak 1918 telah dibicarakan gagasan untuk mendirikan Landbouwhogeschool (Sekolah Tinggi Pertanian) dan Veeartsenijkundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan).

Perjuangan Merintis Universitas

Rencana pendirian Landbouwhogeschool dan Veeartsenijkundige Hoogeschool di Bogor ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa kalangan, termasuk kelompok ilmuwan, keberatan dengan rencana tersebut.

Dalam buku Sejarah Pembentukan Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian (2001) suntingan Syafrida Manuwoto disebutkan, para peneliti beralasan bahwa mereka sudah sangat sibuk dengan tugas-tugas riset yang dibebankan pemerintah. Jika harus ditambahi beban kerja sebagai pengajar, maka akan menjadi sangat sulit untuk ditangani.

Selain itu, aturan untuk mendirikan institusi pendidikan tinggi atau universitas (universiteit) pada waktu itu amat rumit. Berdasarkan Keputusan Ratu Belanda tanggal 6 Juni 1905, suatu institusi pendidikan baru dapat dinamakan universitas jika sudah memiliki lima fakultas. Kala itu, di Hindia Belanda baru ada tiga sekolah tinggi yang dapat disetarakan dengan fakultas.

Upaya agar di Hindia Belanda atau Indonesia segera bisa berdiri perguruan tinggi diperjuangkan Dr. Abdul Rivai dan kawan-kawan. Abdul Rivai adalah dokter bumiputra lulusan Eropa sekaligus jurnalis dan aktivis pergerakan nasional yang pada 1918 duduk sebagai anggota Volskraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda).


Selain Abdul Rivai, ada pula Prof. Dr. R.A. Hoesein Djajadiningrat, orang Indonesia pertama peraih gelar guru besar serta anggota Dewan Hindia pada 1935 dan 1941, yang dengan gigih mengupayakan kepada pemerintah kolonial agar perguruan tinggi di Hindia Belanda bisa didirikan.

Upaya Hoesein Djajadiningrat menghasilkan nota Departemen Pengajaran Hindia Belanda yang salah satu isinya membahas tentang rencana pendirian Landbouwhogeschool (Sekolah Tinggi Pertanian), namun di Bandung, bukan di Bogor.

Mengapa bukan langsung di Bogor? Sebab, di Bandung saat itu telah berdiri Technische Hoogerschool (THS) atau Sekolah Tinggi Teknik, cikal-bakal Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam bayangan Hoesein, Sekolah Tinggi Pertanian ini nantinya bisa menjadi bagian dari THS karena beberapa mata kuliahnya bisa juga diberikan di Landbouwhogeschool, seperti ilmu ukur tanah, irigasi, ilmu alam, dan lainnya. Namun, ada pemikiran juga nantinya Landbouwhogeschool dapat berdiri sendiri, berdampingan dengan THS.


Dari UI Bogor Menjadi IPB

Pada 16 September 1940, kutip Somadikarta (2012), Hoesein Djajadiningrat selaku Pejabat Direktur Pengajaran dan Urusan Kehormatan menulis surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda agar pemerintah kolonial membentuk komisi untuk mempersiapkan pendirian fakultas pertanian.

Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer merespons surat itu dengan mengeluarkan beslit tertanggal 25 September 1940. Surat itu berisi keputusan pembentukan komisi untuk mempersiapkan fakultas ilmu pengetahuan pertanian yang diisi 5 orang.

Tanggal 18 Oktober 1940, para anggota komisi yang dinamakan Commissie ter Voorbereiding van een Faculteit van Landbouwwetenschap itu dilantik oleh Hoesein Djajadiningrat.


Komisi segera bekerja dan memberikan laporan. Dalam keputusan akhir laporannya, komisi berpendapat bahwa kota terbaik untuk mendirikan Landbouwkundige Faculteit sebagai bagian dari Universiteit van Nederlandsch-Indie (Universitas Hindia Belanda) yang sudah direncanakan pendiriannya adalah Kota Buitenzorg (Bogor).

Berdasarkan laporan komisi, pendirian Faculteit van Landbouwwetenschap (Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertanian) dikukuhkan dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 31 Oktober 1941.

Namun, rencana mendirikan Universitas Hindia Belanda, termasuk Fakultas Ilmu Pengetahuan Pertanian, gagal seiring kalahnya Belanda di Perang Dunia Kedua dan Indonesia diduduki oleh pemerintah militer Jepang sejak 1942.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945 dan Belanda kembali dengan membonceng Sekutu, didirikan perguruan tinggi darurat dengan nama Nood-Universiteit di Jakarta pada 21 Januari 1946. Sumarsono Mestoko dalam buku Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman (1985) mengungkapkan, universitas ini mengelola lima fakultas.

Kelima fakultas tersebut adalah Geneeskundige Faculteit (Fakultas Kedokteran), Juridische Faculteit (Fakultas Hukum), Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Filsafat), Technische Faculteit (Fakultas Teknik), dan Landbouwkundige Faculteit (Fakultas Pertanian).



Pada 1947, Nood-Universiteit berganti nama menjadi Universiteit van Indonesie. Di tahun yang sama, Diergeneeskundige Faculteit (Fakultas Kedokteran Hewan) didirikan di Bogor. Dengan demikian, Universiteit van Indonesie memiliki dua fakultas di Bogor, yakni Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan.

Setelah penyerahan kedaulatan secara penuh pada 27 Desember 1949, seluruh aset Hindia Belanda diserahkan kepada pemerintah Indonesia, termasuk Universiteit van Indonesie. Awal 1950, Universiteit van Indonesie digabungkan dengan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI) dan menjadi Universitet Indonesia.


Pada 27 April 1952, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Pertanian Universitet Indonesia secara resmi oleh Presiden Sukarno. Namun, proses ini berjalan cukup lama karena Universitet Indonesia mengalami banyak dinamika, terutama pada masa kepemimpinan Bahder Djohan (1954-1958), termasuk mulai digunakannya nama Universitas Indonesia (UI) pada 1955.

Hingga akhirnya, tanggal 1 September 1963, kampus UI di Bogor memisahkan diri dan resmi menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB). Kini, setelah sekian lama, nama baru akan digunakan, yaitu Universitas IPB atau IPB University, meskipun di level internasional perguruan tinggi ini sudah dikenal dengan nama Bogor Agricultural University.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight