Sejarah Keakraban PDIP & Partai Komunis Cina yang Bertemu Jokowi

Oleh: Iswara N Raditya - 24 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
PDIP dan Partai Komunis Cina memiliki sejarah serta tradisi keakraban yang terjalin sejak lama.
tirto.id - The Communist Party of China (CPC) atau Partai Komunis Cina (PKC) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah akrab dan bahkan menjalin kerja sama sejak lama. Keakraban tersebut kembali terlihat baru-baru ini.

Di Istana Bogor, Jumat (20/9/2019) pekan lalu, Presiden Joko Widodo menerima kunjungan dari Song Tao, penasihat Hubungan Luar Negeri Presiden Republik Rakyat Cina (RRC) sekaligus Kepala Politbiro Hubungan Internasional PKC atau International Liaison Department of the CPC (IDCPC).

Setelah bertemu Jokowi, masih pada hari yang sama, Song Tao menghadiri undangan makan siang dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Acara ramah tamah ini berlangsung di Hotel Mandarin Oriental, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Sekjen PDIP Hasto Kritiyanto mengatakan pertemuan tersebut dalam rangka mempererat hubungan antara PDIP dan PKC, selain menindaklanjuti pertemuan dengan Jokowi.

"Hubungan antara partai dengan partai, sebagaimana tradisi PDIP, kami kembangkan, termasuk dengan IDCPC ini," kata Hasto. "Mereka juga akan memberikan dukungan terhadap kerja sama antara kedua bangsa dan kedua negara yang telah memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang," tambahnya.

Selain Song Tao, hadir beberapa petinggi IDCPC lain dan sejumlah pejabat dari Kedutaan Cina. Dari pihak PDIP, yang mendampingi Megawati di antaranya Hasto Kristiyanto, Prananda Prabowo, Achmad Basarah, Rokhmin Dahuri, Mindo Sianipar, Wiryanti Sukamdani, Rudianto Tjen, serta Andreas Pareira.


Keakraban PDIP & PKC


PDIP dan PKC memang sudah lama merajut kerja sama dan saling berkunjung. Pada 2011 silam, sebagaimana dilaporkan Liputan6, sejumlah pengurus PKC datang ke Kantor DPP PDIP di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Delegasi PKC yang dipimpin perwakilan Politbiro Li Yuan Chao disambut langsung oleh Megawati dan sejumlah pengurus teras PDIP kala itu. Kunjungan ini dalam rangka kerja sama antarpartai sekaligus agar hubungan Cina dan Indonesia lebih erat.

Selain itu, PDIP juga ingin belajar sistem pengkaderan dari PKC serta pengalaman dan gagasan di bidang-bidang lain.

"Kedatangan delegasi dari PKC ini sangat berarti selain untuk melakukan pembelajaran mengenai pembangunan kader akar rumput, juga untuk pengentasan kemiskinan," ujar Andreas Pareira, dikutip dari Merdeka.

Tahun 2013, giliran PDIP yang mengirimkan delegasinya ke Cina. Mereka datang setelah diundang. Partai berlambang banteng bermoncong putih ini memberangkatkan 15 orang kader yang dipimpin Eva Kusuma Sundari.

Eva, mengutip BeritaSatu, menjelaskan para kader PDIP akan mempelajari banyak hal dari PKC selama kunjungan yang berlangsung hingga 23 Oktober 2013.

Megawati juga pernah ke Cina. Pada 12 Oktober 2015, dikutip dari Kompas, dia meresmikan Gedung Pusat Kerja Sama Indonesia-Cina yang diberi nama Sukarno House. Saat itu dia didampingi para petinggi PKC wilayah Shenzhen.


Tidak Hanya PDIP


Bagi sebagian orang, kedekatan PKC dengan PDIP semakin menegaskan asumsi bahwa partai yang belum berganti Ketua Umum sejak berdiri itu berhaluan 'kiri' alias komunis. Tapi itu keliru karena faktanya PKC juga menjalin kerja sama dengan banyak partai politik lainnya, sebut saja Demokrat, Golkar, Nasdem, Gerindra, bahkan partai Islam seperti PPP dan PKS.

Pada pertengahan 2011 Demokrat menandatangani nota kesepahaman dengan PKC yang diwakili oleh Ketua Biro Politik Li Yan Chau dan Ketua Departemen Hubungan Internasional Yang Yanyi di Kantor DPP Demokrat.

Delegasi PKC diterima oleh pejabat teras partai, termasuk Anas Urbaningrum yang saat itu menjabat ketua umum dan Edhie Baskoro Yudhoyono yang menjabat sekjen.

"Kedua partai sepakat menjalin kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, dan memfasilitasi serta memperlancar hubungan kedua negara melalui partai," jelas Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Hubungan Internasional saat itu, Nurhayati Ali Assegaf, dikutip dari Liputan6.

Sama seperti Jokowi, saat menjabat presiden, SBY juga pernah menerima kunjungan dari wakil PKC. Pertemuan SBY dengan Sekretaris Komisi Legislatif PKC Zhou Yongkang terjadi pada 4 November 2008 di Kantor Kepresidenan, Jakarta.

Dikutip dari situs resmi Sekretariat Negara RI, Zhou Yongkang berada di Jakarta sejak 2 November 2008 atas undangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

PKS juga mengaku akrab dengan PKC. Diwartakan Kompas pada 22 April 2013, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP PKS saat itu, Taufik Ramlan, mengatakan partainya pernah mengikuti agenda PKC langsung dari Cina. Sebaliknya, PKC juga mengirim delegasi dalam kegiatan yang dihelat PKS.


Demikian pula dengan Gerindra. Setelah bertemu dengan Jokowi dan Megawati pada Jumat (20/9/2019) lalu, perwakilan pemerintah sekaligus utusan PKC juga menjumpai Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Dari cuitan Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon di Twitter, diketahui bahwa Prabowo menerima delegasi yang dipimpin Song Tao selaku Penasihat Hubungan Luar Negeri Presiden RRC di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Song Tao juga menjabat sebagai Kepala Politbiro Hubungan Internasional PKC.

Dari contoh hubungan PKC dengan sejumlah partai di Indonesia ini, kita tahu pasti bahwa perbedaan ideologi bukanlah halangan untuk menjalin kerja sama. Kerja sama jadi niscaya kalau kedua belah pihak sama-sama mendapat untung.

Baca juga artikel terkait SEJARAH POLITIK atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz
DarkLight