Sejarah Hari Ibu 22 Desember yang Berawal dari Kongres Perempuan

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 18 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Penetapan 22 Desember menjadi Hari Ibu mengacu pada pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I yang dihelat 22-25 Desember 1928.
tirto.id - Peringatan Mother's Day atau Hari Ibu selalu dilakukan setiap 22 Desember. Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk memperingati Hari Ibu seperti berkumpul bersama keluarga atau membuat masakan bersama Ibu.

Penetapan 22 Desember menjadi Hari Ibu mengacu pada pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I yang dihelat 22-25 Desember 1928, atau hanya beberapa pekan setelah Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Dikutip dari buku Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama (1991) yang ditulis Suratmin dan Sri Sutjiatiningsih, kongres tersebut dilangsungkan di Yogyakarta, tepatnya di Ndalem Joyodipuran.

Kongres Perempuan Indonesia I yang berlangsung pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda itu diikuti oleh tidak kurang dari 600 perempuan dari puluhan perhimpunan wanita yang terlibat. Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang suku, agama, pekerjaan, juga usia.

Susan Blackburn dalam buku Kongres Perempuan Pertama (2007) mencatat, sejumlah organisasi perempuan yang terlibat antara lain Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyiyah, Wanita Moeljo, Darmo Laksmi, Wanita Taman Siswa, juga sayap perempuan dari berbagai organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam, Jong Java, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain.

Selain itu, para perwakilan dari perhimpunan pergerakan, partai politik, maupun organisasi pemuda juga datang ke Kongres Perempuan Indonesia perdana ini, termasuk wakil dari Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Partai Nasional Indonesia (PNI), Jong Java, Jong Madoera, Jong Islamieten Bond, dan seterusnya.

Panitia Kongres Perempuan Indonesia I dipimpin oleh R.A. Soekonto yang didampingi oleh dua wakil, yaitu Nyi Hadjar Dewantara dan Soejatin. Dalam sambutannya, dinukil dari buku karya Blackburn, R.A. Soekonto mengatakan:

“Zaman sekarang adalah zaman kemajuan. Oleh karena itu, zaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja. Kecuali harus menjadi nomor satu di dapur, kita juga harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki sebab sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum.”

“Artinya,” lanjut R.A. Soekonto, “perempuan tidak [lantas] menjadi laki-laki, perempuan tetap perempuan, tetapi derajatnya harus sama dengan laki-laki, jangan sampai direndahkan seperti zaman dahulu.”

Selain diisi dengan pidato atau orasi tentang kesetaraan atau emansipasi wanita oleh para tokoh perempuan yang terlibat, kongres ini juga menghasilkan keputusan untuk membentuk gabungan organisasi wanita dengan nama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI).

Slamet Muljana dalam buku Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), memaparkan dua tahun setelah kongres pertama itu, kaum perempuan di Indonesia itu menyatakan bahwa gerakan wanita adalah bagian dari pergerakan nasional. Dengan kata lain, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan martabat nusa dan bangsa.

Tanggal hari pertama Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 inilah yang kemudian menjadi acuan bagi pemerintah RI untuk menetapkan peringatan Hari Ibu, yang diresmikan oleh Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953.

Rekomendasi film untuk merayakan Hari Ibu bersama keluarga


Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk merayakan Hari Ibu adalah dengan berkumpul bersama keluarga, masak bersama Ibu atau sekadar menonton film bersama Ibu.

Berikut beberapa rekomendasi film yang bisa Anda nikmati bersama keluarga di antaranya,

1. OtherHood (2019)

Film ini mengisahkan tentang tiga orang ibu yang bersahabat. Mereka masing-masing memiliki anak yang tinggal jauh dari mereka.

Namun, ketiga ibu ini merasa aneh ketika anak-anaknya tidak mengingat tentang Hari Ibu, berada dalam perantauan, dan tidak memberi kabar.

Hal ini menyebabkan ketiga ibu ini menyusul anak-anaknya yang berada di Manhattan. Di sana, ketiga perempuan ini bertemu dengan pemuda-pemudanya dan melihat kenyataan hidup.

Ibu-ibu ini terbawa suasana masa muda hingga akhirnya ikut berpesta di sana.

Melalui catatan IMDb, film yang dibintangi oleh Angela Basset, Patricia Arquette, dan Felicity Huffman ini memperoleh skor 6,1 dari 10 poin.

2. Dumplin (2018)

Film ini menampilkan sebuah cerita masa depan yang indah, mengenai pelajaran dari manusia satu sama lain melalui sebuah kontes kecantikan.

Melalui drama ini, hubungan ibu dan anak merupakan kehormatan. Tentunya, sebagai ibu yang menjalankan kontes tetap memberikan anaknya ikut serta dan menjadi dirinya sendiri.

Disutradarai oleh Anne Fletcher, film Dumplin mendapat nilai 6,6 dari 10 poin di IMDb.

3. The First Wives Club (1996)

Film ini mengisahkan tiga orang janda yang ingin membalas dendam kepada mantan suaminya. Mereka merasa kesal karena ditinggalkan lelaki yang lebih memilih perempuan muda.

Dengan dibalut genre komedi, The First Wives Club ingin menunjukkan keistimewaan janda-janda sebagai wujud feminisme dalam film di tahun 90-an.

Berkat kelucuan yang dibawakan, film ini mendapatkan rating 6,4 dari 10 poin di IMDb.

4. Room (2015)

Film ini bercerita tentang kehidupan seorang ibu yang tinggal ditawan bersama anaknya di sebuah gubuk.

Sedari kecil, anaknya hanya mengetahui dunia gubuk dan didoktrin tentang dunia luar yang hanya imajinasi.

Ibunya yang mengetahui segala hal ingin anaknya tahu bahwa di luar ada sesuatu yang bisa dijumpai. Akhirnya, sang ibu melakukan percobaan-percobaan untuk dapat keluar dari gubuk tersebut.

Cerita yang menarik ini tercatat di IMDb telah berhasil memperoleh skor 8,1 dari 10 poin.

5. All About My Mother (1999)

Film ini berfokus pada sudut pandang seorang ibu yang ditinggal mati anaknya.

Dengan berbagai sudut pandang, cerita dalam All About My Mother berhasil mengungkapkan kasus AIDS, homoseksualitas, iman, serta eksistensialisme.

Berkat cerita karya Pedro Almodovar yang juga merangkap sebagai sutradara, film ini diberikan nilai 7,8 dari 10 poin di IMDb.


Baca juga artikel terkait HARI IBU atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight