Sejarah Hari Bhakti Postel: Alasan Diperingati Tanggal 27 September

Oleh: Nirmala Eka Maharani - 26 September 2021
Dibaca Normal 2 menit
Tanggal 27 September adalah Hari Bhakti Postel. Pada 27 September 1945, para pemuda Indonesia merebut Kantor Jawatan Pos dari Jepang.
tirto.id - Tanggal 27 September 2021 merupakan Hari Bhakti Pos dan Telekomunikasi (Postel) ke-76. Setiap tahun, pegiat maupun lembaga di bidang pos dan telekomunikasi akan memperingati Hari Bhakti Postel dengan beragam jenis kegiatan.

Sebagai contoh, PT Pos Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel ke-76 dengan mengadakan acara "Online Tour Museum Pos Indonesia" pada Senin, 27 September 2021. Acara tur virtual untuk melihat Museum Pos Indonesia tersebut dibuka bagi masyarakat umum secara gratis.

PT Pos Indonesia menggelar kegiatan kunjungan museum secara online tersebut melalui aplikasi zoom yang bisa diakses mulai pukul 10.00 WIB, Senin besok. Informasi selengkapnya mengenai pendaftaran bisa dilihat di akun Instagram Pos Indonesia. Pendaftaran pun bisa dilakukan melalui google form yang disediakan BUMN tersebut.

Hari Bhakti Postel pada 27 September jadi momentum peringatan sejarah pengambilalihan Kantor Pusat Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) di Bandung oleh pemuda Indonesia dari kekuasaan penjajah Jepang. Perebutan kendali Jawatan PTT itu dipelopori oleh Angkatan Muda Pos, Telegrap, dan Telepon (AMPTT) pada tahun 1945.


Sejarah 27 September Jadi Hari Bhakti Postel

Peristiwa pada 27 September 1945 berawal dari proses yang berlangsung 3 pekan sebelumnya. Semula Angkatan Muda Pos, Telegrap, dan Telepon (AMPTT) yang dimotori oleh Soetoko belum memiliki pengurus.

Karena itu, pada 3 September 1945, AMPTT menggelar pertemuan yang diikuti Soetoko, Slamet Soemari, Joesoef, Agoes Salman, Nawawi Alif, dan sejumlah pemuda lainnya. Dalam rapat tersebut, para pemuda bersepakat bahwa Kantor Pusat Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) harus direbut dari pasukan Jepang, paling lambat sebelum akhir bulan September 1945.

Para pemuda Indonesia itu sudah berupaya melobi militer Jepang agar menyerahkan kendali Kantor Jawatan PTT kepada pemerintah RI. Namun, kubu Jepang bersikukuh bahwa penyerahan kantor PTT harus dilakukan oleh pihak Sekutu selaku pemenang Perang Dunia II. Maka itu, muncul rencana Soetoko dan kawan-kawan untuk merebut Kantor Jawatan PTT dari Jepang, demikian dikutip dari publikasi resmi Kominfo.

Menindaklanjuti rapat sebelumnya, pada 23 September 1945, Soetoko, Ismojo, dan Slamet Soemari bersepakat untuk meminta Mas Soeharto dan R. Dijar menuntut Jepang menyerahkan kendali atas Jawatan PTT secara damai. Jika tentara Jepang menolak, para pemuda itu sudah bertekad bulat merebutnya dengan paksa. Mereka pun telah bersiap jika cara kekerasan diperlukan.


Permintaan itu dipenuhi Mas Soeharto dan Dijar. Keduanya menemui pimpinan Jawatan PTT kubu Jepang, Osada, untuk berunding. Mereka mendesak penyerahan Kantor Pusat Jawatan PTT secara sukarela pada Indonesia.

Namun, perundingan itu hanya berujung pada kesepakatan bahwa kubu Jepang mengizinkan pengibaran bendera merah-putih di halaman gedung Kantor Pusat Jawatan PTT. Sekalipun kesepakatan tersebut kurang memuaskan, para pemuda AMPTT tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mereka segera menaikkan bendara merah-putih di sebuah tiang khusus yang sekarang menjadi tempat tugu PTT berada.

Selanjutnya, serangkaian perundingan dengan Jepang terus dilakukan. Namun, tuntutan para pemuda Indonesia agar Jepang menyerahkan kendali atas Kantor Pusat Jawatan PTT tetap diabaikan.

Kecewa dengan sikap keras kepala kubu Jepang, para pemuda yang tergabung dalam AMPTT lalu membuat satu keputusan penting. Mereka menyusun strategi guna merebut Kantor Pusat Jawatan PTT secara paksa dari Jepang. Tanggal 27 September 1945 ditetapkan sebagai hari pelaksanaan rencana tersebut.

Rencana disusun dengan matang. Kemungkinan terburuk sudah siap dihadapi oleh para pemuda AMPTT, termasuk risiko bentrok senjata dengan tentara Nipon. Selain menyiapkan senjata untuk melawan tentara Jepang, pemuda AMPTT pun berusaha memperbesar kekuatan dengan mengerahkan massa rakyat.


Gerakan AMPTT ini dipimpin oleh Soetoko sebagai koordinator yang dibantu oleh 3 wakil ketua, yakni Nawawi Alif, Hasan Zein dan Abdoel Djabar. Sehari sebelum penyerbuan, yakni 26 September 1945, Soetoko membagi tugas pada 2 bawahannya. Soewarno diminta memimpin pasukan yang menghadapi tentara Jepang di Kantor Pusat PTT. Sementara Nawawi mengomandoi massa untuk meruntuhkan tanggul yang mengelilingi gedung.

Saat hari penyerbuan tiba, dan massa sudah berkumpul di halaman Kantor Pusat Jawatan PTT, pasukan AMPTT di bawah pimpinan Soewarno segera masuk gedung. Serbuan mendadak itu membuat tentara Jepang terpaksa harus menyerah dan meletakkan senjata.

Soetoko dan kawan-kawan kemudian segera mengumumkan di depan massa, bahwa mulai 27 September 1945, Mas Soeharto dan R. Dijar menjadi Kepala dan Wakil Kepala Jawatan PTT Indonesia. Pengangkatan keduanya oleh AMPTT dilakukan atas nama para pegawai jawatan.

Mulai keesokan harinya, bekas pimpinan Jawatan PTT Jepang tidak diizinkan lagi masuk kantor. Mereka disuruh tinggal di rumahnya yang telah ditempeli tulisan "Milik Republik Indonesia." Gedung Kantor Pusat PTT pun siang malam dijaga oleh para anggota AMPTT agar tidak direbut kembali oleh tentara Jepang.

Baca juga artikel terkait HARI PENTING atau tulisan menarik lainnya Nirmala Eka Maharani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Nirmala Eka Maharani
Penulis: Nirmala Eka Maharani
Editor: Addi M Idhom
DarkLight