Samsung Note 7: Meledak, Ditarik, Merugi

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 17 September 2016
Dibaca Normal 1 menit
Samsung harus menarik 2,5 juta unit ponsel seri Galaxy Note 7 yang sudah didistribusikannya. Potensi kehilangan pendapatan dari penarikan ini mencapai $1,5 miliar.
tirto.id - Sabtu pekan lalu, seorang anak lelaki berusia 6 tahun di New York tengah sibuk menonton video lewat ponsel Samsung seri Galaxy Note 7. Lalu tiba-tiba ponsel itu meledak dan mengakibatkan luka bakar di sebagian tubuh si anak.

Ia pun harus dilarikan ke rumah sakit. Ia lantas trauma dan enggan berada di dekat telepon genggam. Kisah anak lelaki ini dimuat di salah satu koran di kota itu, New York Post. Sang nenek, Linda Lewis mengatakan keluarganya telah menghubungi pihak Samsung dan menyampaikan kejadian tersebut.

Berita tentang ledakan itu beredar sehari setelah Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat merilis peringatan resmi tentang betapa bahayanya baterai Note 7. Pemilik ponsel itu diminta untuk mematikannya dan berhenti menggunakan atau mengisi ulang daya.

Tiga hari setelah kejadian di New York, tepatnya Selasa, 13 September 2016, sebuah mobil terbakar di Florida. Api berasal dari ledakan Note 7. Pengendara mobil yang juga pemilik ponsel, Clifford Samuels sedang mengisi daya ponselnya. Lalu ponsel itu meledak dan membuat mobilnya yang sedang melaju di jalan raya terbakar.

Seorang perawat yang melihat kejadian itu memberhentikan mobilnya untuk memastikan tak ada korban terluka yang membutuhkan bantuannya. Perawat itu bernama Sharon Cain. Ia lalu mengambil video terbakarnya mobil milik Clifford dan mengunggahnya ke laman Facebook pribadinya.

Galaxy Note 7 bisa disebut sebagai produk gagal yang sangat berbahaya bagi keamanan. Ia bisa tiba-tiba meledak saat dioperasikan atau diisi dayanya. Itu sebabnya maskapai-maskapai di seluruh dunia melarang penumpang menyalakan ponsel ini selama di pesawat, meskipun dalam mode terbang.

Garuda Indonesia pun ikut mengeluarkan imbauan. “Setiap penumpang Garuda Indonesia yang memiliki prnangkat Samsung galaxy Note 7 untuk dapat me-nonaktifkan perangkat tersebut setiap saat selama penerbangan, dan penumpang dilarang untuk mengisi ulang bateraiperangkat tersebut selama dalam pesawat,” tulis imbauan itu.

Awal September lalu, setelah menerima 35 laporan ledakan, Samsung mengeluarkan pernyataan resmi tentang penarikan 1 juta unit ponsel yang diproduksi sudah tersebar di sejumlah belahan dunia itu, termasuk di Indonesia. Angka ini hampir separuh dari total produksi yang menyentuh angka 2,5 juta unit.

“Prioritas utama kami adalah keamanan pelanggan, kami meminta pemilik Galaxy Note 7 untuk mematikan perangkat tersebut dan melakukan penukaran segera,” ujar DJ KOH, President of Mobile Communications Business Samsung Electronics.



Penarikan kembali produk yang telah diproduksi, didistribusikan dan dijual ini tentu memakan biaya. Samsung juga harus gigit jari dari potensi keuntungan yang bisa didapatnya dari produk anyar ini.

Dari setiap unit Note 7 yang terjual, Samsung mengantongi pendapatan $600. Jika ada 2,5 juta unit yang sudah dijual dan didistribusikan, maka Samsung berpotensi meraup pendapatan total $1,5 miliar atau setara Rp19,7 triliun. Adapun potensi pendapatan ini adalah 0,85 persen dari total pendapatan Samsung pada 2015 yang mencapai $177 miliar. Potensi pendapatan ini jelas tidak akan didapatkan.

Lalu berapa potensi keuntungan yang hilang? Setiap satu unit Note 7 yang laku terjual, Samsung mendapatkan $108. Jika dijumlah, potensi keuntungannya adalah $270 juta atau Rp3,5 triliun. Angka ini porsinya 1,1 persen dari total keuntungan operasional yang dikantongi Samsung pada tahun 2015.

Dengan adanya recall, potensi keuntungan ini tak akan pernah bisa dinikmati. Samsung bahkan harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengumpulkan kembali barang-barang yang sudah didistribusi. Ini belum termasuk kompensasi $25 dalam bentuk voucher yang diberikan kepada setiap pelanggan yang melakukan pengembalian atau penukaran produk.

Terlepas dari hitung-hitungan duit ini, ada hal penting lain yang menghantam Samsung, ialah nama baik, merek besar, kepercayaan konsumen dan citra perusahaan. Ada potensi kerugian yang akan jauh lebih besar dari angka-angka itu, yakni kehilangan konsumen setia.

Baca juga artikel terkait SAMSUNG atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight