Badai yang Tak Henti Menghantam Samsung

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 17 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Samsung sedang dirundung malang. Galaxy Note 7 yang seharusnya mendongkrak kinerja, malah membuat perusahaan kalang kabut. Ini bukan badai pertama yang dihadapi chaebol tersebut.
tirto.id - Samsung merupakan salah satu konglomerasi Korea Selatan (Korsel) yang sudah menghadapi berkali-kali krisis. Namun, pondasi perusahaan yang kuat membuat Samsung berhasil melewati sejumlah masa kritisnya.

Samsung didirikan oleh Lee Byung-Chul atau dikenal dengan panggilan Hoam. Ia lahir dari keluarga yang menganut ajaran Konfusianisme kuat. Ajaran Konfusianisme itu selalu disisipkan dalam bisnisnya. Grup Samsung didirikan dari hasil penggabungan beberapa perusahaan pengolah beras pada 1936.

Dalam buku Why Samsung (2012) oleh Koh Seung-Hee dkk, disebutkan, badai besar pertama yang dihadapi oleh Samsung terjadi pada masa penjajahan Jepang. Ketika perang Jepang – Cina meletus, pengawasan pemerintah melemah sehingga Bank Produksi Joseon harus menarik semua pinjaman dari para kliennya, termasuk Samsung. Pada saat yang sama, harga tanah mengalami kejatuhan. Samsung mengalami dua pukulan. Penghasilan diserahkan ke bank, sementara perusahaannya juga disita untuk membayar utang bank.

Kemudian pada 1965, Hoam menjadi tertuduh utama terkait kepemilikan kekayaan secara ilegal. Ketika tuduhan itu muncul, Hoam sedang berada di Tokyo. Ia pun tidak bisa langsung ditangkap. Baru setelah kembali ke Korea, Hoam harus menulis memo yang berisi penyerahan seluruh harta kekayaannya kepada pemerintah militer. Setelahnya, Samsung ikut berpartisipasi dalam Reformasi Pengembangan Ekonomi Nerada dan terus menjalankan perusahaan demi membayar denda kepada negara.

Kasus itu tentu saja memukul Hoam. Harta kekayaannya sirna. Hanya semangat yang masih ada. Ia tak putus asa. Hoam bertekad untuk tidak berspekulasi dalam bisnis. Secara perlahan, Hoam kembali membangun perusahaannya. Ia kembali ke puncak kejayaannya setelah kemerdekaan Korea pada 1973.

Pada 1971, Hoam sakit parah. Ia menulis wasit untuk suksesi perusahaan. Ia menjatuhkan pilihan bukan kepada anak sulungnya, tetapi kepada anak ke-7: Lee Kun-Hee yang ketika itu baru berusia 30 tahun. Hoam tutup usia pada 1987. Lee Kun-Hee meneruskan kekuasaan ayahnya.



Di bawah kepemimpinan Lee Kun-Hee, Samsung mulai malih rupa. Pada 1992, ia merasa Samsung berada dalam kondisi kritis akibat perubahan yang terlalu cepat. Pada periode 1980-1990, Samsung melakukan sejumlah langkah reorganisasi dan restrukturisasi dengan penekanan pada pengembangan teknologi dan pasar global.

Di sisi lain, Lee Kun-Hee juga terus fokus pada SDM-SDM terbaik. Ia menciptakan visi untuk produk dan pasar utama dunia melalui research and development dan inovasi

Pada 1994, Samsung mulai memasuki industri telepon seluler. Bisnis itu sebenarnya sudah dimasuki Samsung pada 1988. Namun, ketika itu, Samsung tidak menjadikannya sebagai lini utama bisnis. Baru setelah Maret 1994, Samsung serius merambah industri ponsel. Ketika itu, 70 persen pangsa pasar ponsel Korea dikuasai Motorola.

Samsung meluncurkan Anycall. Dengan kondisi 70 persen wilayah Korea adalah pegunungan, Samsung mencoba jargon “Kuat di Antara Bentangan Alam Korea”. Anycall kemudian dikenal dengan ketahanannya menembus jajaran gunung di Korea. Satu tahun kemudian, Samsung sukses menggerus pangsa pasar Motorola menjadi hanya 52 persen saja. Pada 1999, penjualan ponsel Samsung Electronics sudah mencapai 10 juta dan melonjak menjadi 100 juta pada 2004.

Namun, rekor penjualan itu bukan tanpa gejolak. Ketika krisis finansial melanda Korea pada 1997, perusahaan tersebut juga tak mampu berkutik. Nilai mata uang won yang jatuh, dan kondisi negara yang krisis membuat Samsung terbelit masalah keuangan.

Samsung terselamatkan oleh upaya reformasi yang dilakukan setahun sebelum krisis. Pada 1996, direktur Samsung Yoon Jong-Yong meluncurkan sistem manajemen dengan moto “Self Management, Speed Management, Simple Management”. Ini merupakan inovasi manajemen kedua. Upaya tersebut ternyata mampu menjadi landasan sehingga Samsung tidak perlu terbelit dalam krisis berkepanjangan.

Selama krisis finansial melanda Korea pada 1997, belasan konglomerasi Korea bangkrut. Samsung juga dilanda krisis. Hingga akhir 1997, Samsung terbebani oleh pinjaman hingga 13 triliun won dan utang 6 triliun won. Samsung memutuskan untuk melakukan restrukturisasi yang kuat berdasarkan hasil pertemuan tim gugus tugas. Pondasi yang kuat itu membuat Samsung berhasil keluar dari krisis sebelum akhirnya kembali merajai pasar ponsel dunia. Samsung kini tercatat menguasai hampir 24 persen pangsa pasar ponsel dunia.

Di tengah kesuksesannya merajai pasar ponsel dunia, Samsung baru saja menghadapi cobaan dengan kasus recall Galaxy Note 7. Akibat penarikan tersebut, Samsung berpotensi kehilangan keuntungan hingga 270 juta dolar. Tak hanya keuntungan yang akan sirna, Samsung juga harus reputasi yang ternoda. Brand image yang sudah terbangun lama harus tergerus oleh kasus penarikan ini.

Bagaimana Samsung mengatasi badai kali ini?

Baca juga artikel terkait SAMSUNG atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Nurul Qomariyah Pramisti
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan