Menuju konten utama
Pelecehan Seksual Ponpes Pati

Sakit Hati Ayah Korban, Ikut Bangun Pondok Malah Anak Dilecehkan

H mengaku kesal bukan kepalang begitu mengetahui anak perempuannya menjadi korban pelecehan oleh kiai sekaligus pendiri ponpes.

Sakit Hati Ayah Korban, Ikut Bangun Pondok Malah Anak Dilecehkan
Ayah korban (bermasker) didampingi tim hukumnya menceritakan kasus pelecehan seksual yang menimpa anaknya semasa menjadi santri di Ponpes Ndholo Kusumo, Pati. Dia bercerita di Semarang, Jumat (8/5/2026). FOTO/Baihaqi Annizar

tirto.id - H menundukkan kepala cukup lama sebelum mulai bercerita. Dia terlihat menahan emosi saat mengungkit hubungan panjangnya dengan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati.

Dia kesal. Alasan utamanya tentu karena anak perempuannya diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh Kiai Ashari, pendiri ponpes itu. Alasan lain, karena dirinya pernah ikut membantu pembangunan pondok tersebut.

"Saya itu ya di situ, termasuk ikut bantu perjuangan di bangunan itu," kata H yang mengenakan masker dan berhoodie gelap saat ditemui di Kota Semarang, Jumat (8/5/2026).

Dia mengingat bagaimana dulu sering datang ke lingkungan pondok. Kadang nembantu pekerjaan bangunan, kadang sekadar duduk atau nongkrong di sekitar pondok.

Hubungan itu terjalin jauh sebelum pondok ramai dipenuhi santri. H mengaku sudah mengenal Ashari sejak sekitar 2015, ketika Ponpes Ndholo Kusumo tersebut belum berdiri.

"Sebelum anak saya di situ, saya sudah kenal sama Pak Kiai tadi. Waktu itu belum ada pondoknya," kata H.

Dia mengungkap momen saat Ashari mulai merintis yayasan dan berencana membesarkan sekolak sekaligus pondok pesantren. Niat itu diwujudkan pelan-pelan. Seiring waktu, jumlah santri bertambah.

Di tengah hubungan yang sudah cukup dekat itu, Ashari kemudian meminta agar anak-anak H ikut sekolah dan mondok di Ponpes Ndholo Kusumo. Tanpa rasa curiga, H menuruti permintaan tersebut.

"Anak saya diminta oleh kiai tadi untuk sekolah di situ. Empat anak saya sekolahnya d situ," katanya.

Dua anaknya, termasuk yang menjadi korban pelecehan, sudah lulus. Sementara dua anaknya yang lain, baru dipindah ke sekolah lain pada 2024 saat skandal kasus ini mencuat ke publik.

H mengaku kesal bukan kepalang begitu mengetahui anak perempuannya menjadi korban pelecehan oleh kiai sekaligus pendiri ponpes, sekaligus sosok yang sudah ia kenal sejak lama.

Dia tak pernah membayangkan anaknya sendiri menjadi korban. Bahkan dia sempat mengonfrontir pengakuan anaknya dengan kesaksian korban lain demi meyakinkan kejadian tersebut.

Dari situ lah H mulai mengetahui bahwa dugaan pelecehan itu bukan hanya dialam putrinya seorang diri. "Ada sekitar delapan yang saya tanya-tanya, semuanya korban," imbuhnya.

la mengatakan, anaknya diduga mengalami pelecehan selama sekitar empat tahun. Namun korban memilih diam karena berada dalam tekanan doktrin yang dibangun di lingkungan pondok.

Wenurut dia, para santri ditanamkan rasa takut jika berani melawan atau membangkang kepada guru. Ancaman itu dikaitkan dengan ilmu agama dan hubungan spiritual antara murid dengan kiai.

"Kalau tidak mau, tidak manut, nanti jalur keilmuan diputus. Katanya kalau murid berani sama guru berarti berani sama Allah," ujarnya.

Bagi H, doktrin semacam itu membuat anak-anak kehilangan keberanian untuk bercerita, termasuk kepada orang tua. Mereka memilih menyimpan ketakutan sendiri bertahun-tahun.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Baihaqi Annizar
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Andrian Pratama Taher