Menuju konten utama

Saat Pemburu Kerja Bersaing Mendapatkan Pekerjaan di Job Fair

Sejak pagi, puluhan ribu calon tenaga kerja tampak bersaing mendapatkan lowongan yang hanya tersedia belasan ribu di Karir Jakarta Expo 2026.

Saat Pemburu Kerja Bersaing Mendapatkan Pekerjaan di Job Fair
Sejumlah pencari kerja mengantre untuk memasuki lokasi pameran bursa kerja Karir Jakarta Expo 2026 di Smesco, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar bursa kerja yang menyediakan 12 ribu lowongan untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi pekerjaan dan menekan tingkat pengangguran terbuka di Jakarta yang ditargetkan turun menjadi 3,5 persen. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Momen bursa kerja masih menjadi harapan bagi ribuan lulusan baru. Mereka saling berebut kesempatan di tengah persaingan pasar kerja nasional yang makin ketat. Hal ini terlihat pada hari pertama gelaran Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

Sejak pagi, puluhan ribu calon tenaga kerja tampak bersaing mendapatkan lowongan yang hanya tersedia belasan ribu. Salah satunya adalah Zahra (22), lulusan baru jurusan Sistem Analis IT asal Tangerang. Sejak pukul 07.00 WIB, dirinya sudah bersiap menghadapi situasi tersebut.

Lulus sidang pada September lalu, Zahra langsung dihadapkan pada realitas sengitnya dunia kerja. Ia mengaku telah melamar ke berbagai perusahaan tanpa henti. Bursa kerja hari ini menjadi tatangan selanjutnya.

"Sudah banyak sih, enggak kehitung [melamar]," ujar Zahra di lokasi pameran bursa kerja.

Meski sebagian pelamar mengeluhkan minimnya posisi, Zahra melihat bahwa lowongan pekerjaan di Jakarta sebenarnya cukup melimpah. Namun, menemukan kecocokan dengan perusahaan menjadi tantangan terbesar baginya setelah melewati tahap wawancara.

"Udah beberapa kali interview, belum cocok mungkin, jadi stop di interview aja, gitu loh," ungkapnya.

Sebagai pencari kerja pemula, Zahra menilai tingkat kesulitan menembus dunia kerja saat ini berada di kisaran angka 50 persen. Kendati demikian, ia tetap teguh untuk mencari pekerjaan yang sejalan latar belakang pendidikan.

"Kalau saya sendiri belum minat [di luar bidang], jadi saya masih minat sejalur sama yang saya inginkan sekarang," tegasnya.

Tahun Ini Semakin Sulit Bagi Pencari Kerja

Tantangan persaingan ini juga dirasakan betul oleh Bayu (24), seorang sarjana lulusan 2025, asal Kota Bogor. Namun menurutnya, mencari pekerjaan tahun ini sangat sulit akibat menumpuknya lulusan baru, padahal lulusan tahun sebelumnya masih berjibaku berebut posisi di pasar kerja.

"Tahun ini memang sangat sulit, terutama, ehh, [belum nyata] janji pekerjaan yang dijanjikan oleh pemerintah 19 juta pekerjaan. Pembukaan lowongan pekerjaan masih sangat dibutuhkan di Indonesia," tutur Bayu.

Selain masalah kuantitas pencari kerja, Bayu menyoroti tingginya standar rekrutmen dan formalitas perusahaan saat ini, baik dalam proses skrining maupun pemilihan kandidat. Seleksi yang ketat tak jarang memicu rasa frustrasi di kalangan pencari kerja.

"Formalitas dan proses rekrutmen dari perusahaan saat ini luar biasa profesional, terutama untuk skrining kandidat. Akibatnya, ada yang kesal atau belum berhasil mendapatkan pekerjaan. Saya sendiri memahami perasaan tersebut, memang demikianlah realitas dunia kerja di Indonesia saat ini," jelasnya.

Gelaran Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026

Suasana hari pertama pameran bursa kerja Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026). (tirto.id/Muhamad Nizar)

Fenomena lain yang disoroti Bayu adalah banyaknya pencari kerja yang akhirnya harus bekerja di luar bidang studi mereka. Hal ini kerap terjadi karena perusahaan menuntut kandidat yang memiliki fleksibilitas tinggi dan sanggup mengerjakan berbagai jenis tugas.

Namun, tantangan ini menuntut pencari kerja untuk mengasah skill baru dan melatih fokus, di sisi lain hal tersebut menambah kompleksitas dinamika pencarian kerja.

Hingga siang menjelang, semangat para pelamar tak surut. Zahra dan Bayu masing-masing telah memasukkan berkas lamaran ke lebih dari 10 perusahaan di lokasi bursa kerja dan kini menanti proses seleksi berikutnya.

Keduanya tidak menutup kemungkinan, apabila hari ini belum mampu melamar lebih banyak lagi, mereka akan mencoba kembali pada hari terakhir, Jumat (23/20/2026).

Mereka berharap, bursa kerja seperti ini dapat terus digelar secara berkala untuk mempercepat penyerapan tenaga kerja muda sekaligus menekan angka pengangguran di Indonesia.

"Semoga bagi yang melamar posisi di job fair ini bisa keterima secepatnya," harap Bayu.

Antusiasme Tinggi Pencari Kerja

Diketahui, berdasarkan informasi yang diungkapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ketersediaan lowongan mencapai 12.000 posisi, jumlah pendaftar secara online langsung membludak hingga menembus angka 28.000 pelamar di hari pertama.

Bursa kerja yang diinisiasi oleh Dinas Ketenagakerjaan DKI Jakarta itu bekerja sama dengan kurang lebih 100 perusahaan, baik dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) maupun sektor swasta di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan tingginya angka pendaftar tersebut mencerminkan besarnya antusiasme sekaligus kebutuhan masyarakat akan ketersediaan lapangan pekerjaan.

"Mudah-mudahan walaupun tentunya tidak bisa memenuhi semua harapan karena baru dibuka hari ini saja, tadi saya mendapatkan laporan yang melalui online kurang lebih 28.000 [pelamar]," ujar Pramono Anung saat konferensi pers di UKM Gallery, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026)

Jumlah 28.000 pelamar tersebut baru mencakup pendaftaran secara daring dan diperkirakan akan terus bertambah seiring banyaknya warga yang hadir dan melamar secara langsung (walk-in) di lokasi acara.

Gelaran Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026

Suasana hari pertama pameran bursa kerja Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026). (tirto.id/Muhamad Nizar)

Ia menjelaskan dari segi data makro, tingkat pengangguran di DKI Jakarta sebenarnya telah mengalami penurunan yang signifikan. Dari yang sebelumnya selalu berada di rata-rata 6 persen, kini angka pengangguran melandai ke tingkat 5,79 persen.

Kendati demikian, Pemprov DKI menyadari bahwa penurunan tersebut belum sepenuhnya mampu mengakomodasi tingginya permintaan dan harapan publik akan pekerjaan.

"Sehingga dengan demikian memang lapangan pekerjaan di Jakarta walaupun sudah mengalami penurunan, dari dulu selalu rata-ratanya 6%, sekarang 5,79%, ada penurunan yang sangat signifikan, tetapi belum memenuhi kebutuhan dan keinginan publik," jelas Pramono.

Baca juga artikel terkait BURSA KERJA atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - News Plus
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Bayu Septianto