Menuju konten utama

Berapa Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 2 November? Cek Kurs Terbaru

Rupiah dibuka melemah ke Rp18.149 per dolar AS pada 2 November 2026. Pasar mencermati kebijakan BI, inflasi AS, dan sinyal kenaikan suku bunga The Fed.

Berapa Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 2 November? Cek Kurs Terbaru
Petugas menunjukan mata uang rupiah (Rp) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (7/9/2026). Bank Indonesia mencatat pasokan uang beredar luas (M2) di Indonesia pada Juli 2026 sebesar Rp 10.371,1 triliun atau tumbuh sebesar 8,3 persen year on year (yoy), tumbuh melambat dari pada Juni 2026 sebesar 8,7 persen yoy dimana hal tersebut didorong oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan melemah tipis pada pembukaan perdagangan Senin (2/11/2026). Rupiah berada di level Rp18.149 per dolar AS, turun dua poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026) sebesar Rp18.147 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung ketika pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Sementara itu, inflasi AS yang masih berada di atas target bank sentral serta pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga turut menjadi perhatian investor.

Kebijakan Bank Indonesia Jadi Perhatian Pasar

Sebelum kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin, rupiah juga mencatatkan penurunan pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026). Saat itu, mata uang Indonesia melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp18.147 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp18.137 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah masih berlangsung fluktuatif. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah arah kebijakan moneter Bank Indonesia, terutama terkait keputusan mengenai suku bunga acuan.

“Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa keputusan terkait suku bunga acuan akan tetap mempertimbangkan perkembangan data ekonomi dan kondisi pasar,” ujar Amru dikutip Antara, Jumat(30/10/2026).

Kebijakan BI tidak hanya ditentukan oleh satu faktor, tetapi juga melihat dinamika ekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain melalui kebijakan suku bunga, BI juga memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah. Destry mengungkapkan bahwa bank sentral dapat menggunakan insentif biaya lindung nilai atau hedging, kebijakan makroprudensial, serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Beragam instrumen tersebut memberikan ruang bagi BI untuk merespons tekanan terhadap rupiah. Melalui kebijakan tersebut, bank sentral berupaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menyesuaikan responsnya dengan perkembangan kondisi ekonomi dan pasar keuangan.

Inflasi AS dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed

Perkembangan ekonomi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi pergerakan rupiah. Data yang dirilis pada Kamis (29/10) menunjukkan inflasi berdasarkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) pada September meningkat menjadi 3,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dibandingkan 3,4 persen pada bulan sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III-2026 juga tercatat sebesar 3,4 persen (quarter-on-quarter annualized). Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih cukup kuat, sedangkan tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

Situasi tersebut diperkuat oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed pada Jumat (30/10). Tiga pejabat bank sentral AS menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang dinilai terlalu tinggi.

Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, menilai tekanan harga saat ini masih belum dapat diterima. Menurutnya, inflasi yang bertahan di atas target 2 persen menunjukkan bahwa bank sentral masih memiliki pekerjaan untuk mengendalikan kenaikan harga.

Logan bahkan mengatakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) perlu menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi, masing-masing sebesar 25 basis poin atau 0,25 poin persentase.

“Mengingat prospek saat ini, menurut saya jelas bahwa (Federal Open Market Committee/FOMC) perlu menerapkan setidaknya dua kenaikan suku bunga lagi, masing-masing sebesar 25 basis poin,” ujar Logan dikutip Reuters, Jumat(30/10/2026).

Setelah kenaikan tersebut, menurut dia, The Fed dapat menghentikan sementara penyesuaian suku bunga.

“Menurut pandangan saya, masuk akal untuk jeda sejenak guna meninjau perkembangan ekonomi dan keuangan, serta menentukan langkah lanjutan apa yang tepat,” kata Logan.

Dalam rapat yang berlangsung pada Selasa dan Rabu sebelumnya, Logan mendukung keputusan FOMC untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 hingga 4 persen.

Ia menjelaskan, keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga saat itu diambil dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang bergejolak sekaligus memberi waktu bagi masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Pandangan serupa disampaikan Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem. Ia mengatakan pengetatan kebijakan moneter tambahan perlu dilakukan dalam waktu dekat karena inflasi masih terlalu tinggi dibandingkan target 2 persen. Musalem juga menilai tekanan inflasi kemungkinan tidak akan mereda tanpa tindakan lebih lanjut dari The Fed.

Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Thomas Barkin, menyebut inflasi yang tinggi, permintaan ekonomi yang masih kuat, serta tingkat pengangguran yang relatif rendah menjadi alasan bagi The Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga.

Meski sejumlah pejabat memberikan sinyal perlunya kenaikan suku bunga lanjutan, The Fed belum menyampaikan kepastian mengenai keputusan dalam rapat berikutnya.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan pihaknya telah mencatat kemajuan dalam menurunkan inflasi, tetapi mengakui bahwa target stabilitas harga belum tercapai.

Rapat kebijakan moneter berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 8-9 Desember. Pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut.

Dampak Kebijakan The Fed terhadap Rupiah

Arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar keuangan Indonesia karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, arus modal internasional, dan nilai tukar rupiah.

Ketika suku bunga AS meningkat, imbal hasil sejumlah aset keuangan berdenominasi dolar, termasuk obligasi pemerintah AS, berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor global.

Kondisi tersebut dapat mendorong perpindahan sebagian dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset keuangan AS.

Jika permintaan terhadap dolar AS meningkat, rupiah berpotensi mengalami tekanan.

Namun, dampak kebijakan The Fed terhadap rupiah tidak selalu berlangsung secara langsung. Pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi kondisi ekonomi domestik, sentimen risiko global, arus modal, serta langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia.

Karena itu, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan kebijakan moneter kedua bank sentral serta rilis data ekonomi berikutnya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra