tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) dibuka menguat pada Jumat (30/10/2026). Seturut Bloomberg, per pukul 09.08 WIB, rupiah bergerak menguat 17 poin atau 0,09 persen dan membuat nilai 1 dolar AS berada di level Rp18.120.
Penguatan para awal sesi perdagangan hari ini merupakan kali kedua bagi mata uang garuda dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, rupiah menguat pada perdagangan hari Kamis (29/10) setelah sepekan konstan tertekan.
Pada perdagangan Kamis, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut bahwa kinerja positif rupiah kala itu dipengaruhi oleh keputusan Bank Sentral AS (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga. Hal ini, katanya, sesuai dengan ekspektasi para investor.
“Pada FOMC (Federal Open Market Committee) Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 3,75–4,00 persen, sesuai dengan ekspektasi konsensus,” kata Josua pada Kamis, dikutip dari Antara.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa juga mengindikasikan hal serupa ketika menjelaskan penguatan rupiah pada Kamis. Namun, dalam keterangannya untuk Antara, ia menilai bahwa pergerakan dolar AS akan tetap sensitif terhadap data ekonomi dan imbal hasil obligasi.
“Inflasi AS yang masih tinggi dan belum adanya kepastian mengenai kebijakan suku bunga selanjutnya membuat pergerakan dolar AS tetap sensitif terhadap data ekonomi dan imbal hasil obligasi AS,” katanya pada Kamis.
Rupiah Menguat Bersama Mata Uang Lain Kawasan Asia
Pada Jumat, perdagangan mata uang kawasan Asia dibuka dengan tren pelemahan dolar atas mata uang negara-negara Asia. Mayoritas mata uang di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik mengalami penguatan sebagaimana rupiah.
Pada awal perdagangan hari ini, Yen Jepang dibuka menguat 0,15 persen; yuan Cina naik 0,03 persen; dan won Korea menguat 0,32 persen.
Hal serupa juga terjadi pada untuk kawasan ASEAN. Ringgit Malaysia dibuka menguat 0,33 persen; peso Filipina dibuka menguat 0,29 persen; baht Thailand dibuka menguat 0,08 persen, dan dolar Singapura menguat 0,12 persen.
Seturut Reuters, penurunan nilai dolar AS ini banyak dipengaruhi oleh “penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS”. Hal itu disebut merupakan dampak dari peningkatan permintaan atas aset-aset yang aman (safe-haven).
Selain itu, pasar saham di AS juga dilaporkan Reuters tengah mengalami tekanan pada sektor perusahaan AI. Hal ini dipicu oleh laporan kinerja Alphabet (GOOGL.O) awal pekan ini yang memicu aksi jual terjadi imbas kekhawatiran para investor pada bidang ini.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id



































