Menuju konten utama

Rupiah Melemah ke Rp18.085 per Dolar AS Hari Ini, 26 Oktober

Rupiah melemah 0,03 persen ke level Rp18.085 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (26/10/2026) di tengah tekanan global.

Rupiah Melemah ke Rp18.085 per Dolar AS Hari Ini, 26 Oktober
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) dibuka melemah pada Senin (26/10/2026). Seturut Bloomberg, per pukul 09.07 WIB, rupiah bergerak melemah 5 poin atau 0,03 persen, membuat nilai 1 dolar AS berada di level Rp18.085.

Pelemahan juga tampak terjadi pada beberapa mata uang kawasan ASEAN pada pembukaan pasar hari ini. Baht Thailand, misalnya, dibuka melemah 0,05 persen dan peso Filipina melemah 0,35 persen.

Namun, dolar Singapura bergerak menguat 0,01 persen dan ringgit Malaysia juga mencatatkan pergerakan serupa dengan penguatan 0,02 persen.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS ini menandai berlanjutnya tekanan terhadap mata uang garuda.

Sepekan lalu, mata uang garuda telah bergerak terseok di tengah tekanan domestik dan internasional. Dari Senin (19/10) hingga Jumat (23/10), rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.080 per dolar AS.

Laju rupiah tehadap dolar AS itu disinyalir merupakan dampak dirilisnya sikap MSCI terkait pasar saham Indonesia. Sentimen pasar terhadap hal tersebut relatif negatif sepanjang pekan lalu.

Sementara itu, pekan lalu juga menandai penguatan dolar di tengah ketidakstabilan situasi geopolitik. Pertempuran antara kelompok bersenjata Houthi dari Yaman dengan Arab Saudi telah mendongkrak harga minyak mentah dunia.

Harga minyak mentah Brent, yang jadi patokan secara internasional, konstan berada di level lebih dari USD100 per barel.

Seturut Reuters, minyak mentah Brent bahkan menyentuh harga tertinggi dalam enam bulan terakhir pada Jumat (23/10) pekan lalu. Houthi yang terus menerus menyerang fasilitas minyak Saudi disebut telah memicu kekhawatiran pasar tentang stabilitas pasokan minyak.

"Kekhawatiran akan gangguan pasokan mendorong kenaikan harga setelah kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran melancarkan serangkaian serangan di seluruh Arab Saudi, termasuk terhadap infrastruktur energi," ujar Adam Turnquist, kepala strategi lintas aset di LPL Financial, dikutip Reuters, Senin (26/10/2026).

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra