Menuju konten utama

Nilai Tukar USD ke Rupiah Hari Ini 22 Oktober Jadi Rp18.033

Rupiah melemah 11 poin ke Rp18.033 per dolar AS pada 22 Oktober 2026, dipengaruhi ketidakpastian pasar dan geopolitik Timur Tengah.

Nilai Tukar USD ke Rupiah Hari Ini 22 Oktober Jadi Rp18.033
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.009 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.963 per dolar AS. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah turun 11 poin atau 0,06 persen menjadi Rp18.033 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya pada Rabu (21/10/2026), di level Rp18.022 per dolar AS.

Pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah faktor, mulai dari rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi memengaruhi arus modal asing, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak dunia.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat likuiditas perbankan.

Rupiah Melemah 30 Poin pada Perdagangan Sebelumnya

Pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026), rupiah tercatat melemah 30 poin atau 0,17 persen menjadi Rp18.022 per dolar AS. Posisi tersebut turun dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.992 per dolar AS.

Pelemahan berlanjut pada pembukaan perdagangan Kamis, ketika rupiah kembali terkoreksi 11 poin atau 0,06 persen ke level Rp18.033 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah perkembangan pasar keuangan yang belum sepenuhnya stabil.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah adalah ketidakpastian terkait rencana MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia. Perubahan klasifikasi tersebut dinilai berpotensi memicu arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

"Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan terhadap rupiah di tengah upaya menjaga stabilitas pasar keuangan," kata Amru, dikutip Antara, Rabu (21/10/2026).

Arus modal asing menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam pergerakan nilai tukar. Apabila investor mengurangi kepemilikan aset domestik dan mengalihkan dananya ke pasar lain, permintaan terhadap valuta asing, termasuk dolar AS, dapat meningkat sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Kebijakan Bank Indonesia untuk Menjaga Stabilitas Rupiah

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00 persen dan mempertahankan Lending Facility di level 6,50 persen.

Menurut Amru, keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya BI mengoptimalkan instrumen kebijakan moneter untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan.

Selain pengaturan suku bunga, BI memperkuat insentif untuk instrumen lindung nilai Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Instrumen ini memungkinkan pelaku pasar melakukan lindung nilai terhadap risiko perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tanpa harus melakukan penyerahan fisik mata uang asing.

Penguatan instrumen DNDF diharapkan dapat membantu mengelola risiko nilai tukar, meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik, serta mendukung aliran modal asing. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BI menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian eksternal.

Pengaruh Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Dari sisi eksternal, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) berada di kisaran 101,79 pada Rabu (21/10/2026). Indeks tersebut relatif stabil setelah mengalami pelemahan pada perdagangan sebelumnya.

Pergerakan DXY menjadi salah satu indikator yang diperhatikan karena menggambarkan kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Ketika dolar AS menguat, mata uang negara lain, termasuk rupiah, cenderung menghadapi tekanan. Sebaliknya, pelemahan dolar AS berpotensi memberikan ruang penguatan bagi rupiah.

Amru mengatakan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi mendukung pergerakan rupiah. Imbal hasil yang lebih rendah dapat mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar AS bagi sebagian investor, meskipun dampaknya terhadap nilai tukar juga bergantung pada perkembangan faktor lain.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak dunia masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dianggap relatif aman. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap negara pengimpor energi melalui peningkatan biaya impor.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra