Rumah Tradisional Nusantara Lebih Tahan Gempa

Penulis: Irfan Teguh - 9 Agu 2018 05:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Sejak dulu, masyarakat di berbagai wilayah di Nusantara mengantisipasi gempa dengan membangun rumah-rumah tradisional yang tahan terhadap guncangan.
tirto.id - Sebagai negeri yang berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, dari dulu Kepulauan Nusantara selalu diintai marabahaya, salah satunya gempa bumi. Tingginya tingkat kerawanan bencana di Indonesia digambarkan oleh Gede Suantika, yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah, dengan mencubit lengannya dengan jari.

“Setiap jari tangan mewakili sebuah lempeng, dan cubitan merepresentasikan arah dorongan. Garis kerutan di kulit mewakili sesar atau patahan yang terbentuk di darat,” ujarnya dalam artikel bertajuk “Siaga di Laut, Bahaya di Bawah Selimut” yang dihimpun dalam Gempa: Kumpulan Artikel Ilmu & Teknologi Majalah TEMPO (2013).

Menurutnya, Indonesia adalah tempat bertemunya tiga lempeng bumi yang terus-menerus saling mendorong. Semakin banyak lempeng, tambahnya, maka patahannya semakin rumit dan berbahaya.

“Patahan itu, ujar Gede, merupakan sumber gempa. Energi gempa dari patahan memang tak sebesar gempa yang dihasilkan tumbukan antarlempeng. Namun bahayanya tak bisa dianggap enteng, karena banyak patahan itu berada tepat di bawah kota, di bawah rumah-rumah,” tulis Tempo.

Menghadapi situasi seperti itu, sejak dulu penduduk Nusantara telah mencoba melakukan mitigasi bencana dengan membangun rumah-rumah tradisional yang tahan gempa.


Memperpendek Tiang-Tiang Penyangga

Salah satu peristiwa gempa besar yang terjadi adalah di Minahasa pada 1845 yang mengakibatkan ribuan rumah rusak. Setelah peristiwa itu masyarakat Minahasa mulai membangun rumah dengan rancangan yang meminimalkan kerusakan jika terjadi bencana serupa.

“Sejak peristiwa tersebut maka rumah-rumah penduduk dibangun dengan ukuran kecil, tiang-tiangnya dipendekkan dan diperkecil serta rangka-rangka rumah dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah roboh,” tulis Syamsidar dalam Arsitektur Tradisional Daerah Sulawesi Utara (1991).

Periode sebelum tahun 1845, menurut catatan Marwati dalam “Studi Rumah Panggung Tahan Gempa Woloan di Minahasa Manado” (Jurnal Teknosains, Vol. 8 No. 1, Januari 2014) adalah saat rumah-rumah orang Minahasa memiliki tiang-tiang penyangga yang cukup tinggi, yaitu antara 3-5 meter.

Sejak semula, yakni sebelum terjadi gempa, konstruksi rumah tradisional Minahasa berbahan kayu dan bambu batangan. Bahan-bahan tersebut disambungkan dengan sistem sambungan pen dan diikat dengan tali ijuk pada usuk dari bambu. Sementara kolong bangunan terdiri dari 16-18 tiang penyangga dengan ukuran diameter 80-200 cm.

Setelah gempa, tambah Marwati, rumah tradisional Minahasa tidak mengalami banyak perubahan, kecuali panjang tiang-tiang penyangganya yang dikurangi menjadi 1,5-2,5 meter dan diameter tiang-tiang tersebut menjadi lebih kecil yakni 30 cm.

“Rumah panggung Wuloan di Minahasa merupakan rumah panggung tahan gempa pada semua struktur pondasi, dinding dan balok rangka utama dari kayu besi memenuhi syarat sebagai konstruksi gempa. Setiap balok saling kait mengait. Dinding dari papan maka tidak mudah retak atau pecah,” tulisnya.

Pengurangan tinggi tiang-tiang penyangga rumah tersebut, menurut Hokky Situngkir dalam Kode-kode Nusantara: Telaah Sains Mutakhir atas Jejak-jejak Tradisi di Kepulauan Indonesia (2016), adalah untuk memaksimalkan fungsi suspensi sehingga rumah tidak mudah roboh ketika ada getaran hebat.

Fenomena tersebut ia bandingkan pula dengan kondisi rumah-rumah di sejumlah kampung tradisional di Jawa Barat yang jarak antara tanah dengan lantai rumah sangat pendek. Hal ini, selain karena masyarakat Sunda tidak memiliki budaya memanfaatkan kolong rumah sebagai tempat menyimpan cadangan logistik, juga jika dikaitkan dengan gempa bumi adalah untuk mengantisipasi guncangan.

“Sela antara tanah dan lantai rumah dibuat rendah untuk fungsi suspensi dari rumah agar tak goyah dan roboh ketika ada gempa bumi,” tulisnya.


Kolom Penyangga Tidak Ditanam di Tanah

Kolong rumah yang pendek ternyata bukan konsep permanen jika melihat rumah-rumah tradisional di Sumatra yang rata-rata memiliki tiang-tiang penyangga yang tinggi. Dalam merancang rumah, selain disesuaikan dengan antisipasi bencana alam, masyarakat di Nusantara juga menyesuaikannya dengan situasi kehidupan sosial masing-masing.

Jika di masyarakat Sunda tiang-tiang rumah dibuat rendah karena mereka tidak mempunyai budaya menyimpan cadangan logistik di kolong rumah, maka di daerah Nias tiang-tiang penyangga dibuat tinggi karena dulu kerap terjadi perang antar-desa.

Peperangan itu, menurut Isnen Fitri dan Basaria Thalarosa dalam “Rumah Tradisional Nias Pasca Gempa Bumi 2005, Studi Kasus: Desa Bawomataluo, Nias Selatan”, mendorong warga memagari desa mereka dengan pagar yang rapat dan menjulang tinggi untuk melindungi wilayah dari serangan musuh.

“Tidak ada bentuk umum teknologi sipil yang ditemukan dalam arsitektur tradisional (vernakular) di sepanjang Kepulauan Nusantara. Semua berbeda-beda bergantung pada lokalitas kehidupan sosioekologis masyarakat setempat,” tulis Hokky Situngkir.

Dalam kaitannya dengan ketahanan terhadap gempa, Isnen Fitri dan Basaria Thalarosa mencatat bahwa rumah tradisional Nias di Desa Bawomataluo, Nias Selatan, yang menjadi objek studi kasus mereka, mengalami beberapa kerusakan meski tidak separah rumah-rumah modern yang ada di Gunung Sitoli dan Teluk Dalam.

Mereka menjelaskan bahwa secara konstruksi rumah tradisional Nias dibangun dengan menggunakan material lokal, yakni kayu yang kualitasnya dipilih sedemikian rupa sehingga mempunyai ketahanan yang berumur panjang.

“Seperti halnya teknik konstruksi rumah Austronesia, tidak menggunakan paku, sepenuhnya bertumpu pada sistem sambungan pasak,” tulis mereka.



infografik rumah adat nusantara tahan gempa


Tiang-tiang yang menyangga rumah beralaskan batu-batu yang menjadi pondasi, sehingga tidak ditanam di dalam tanah. Hal ini dimaksudkan agar ketika terjadi guncangan, tiang-tiang bisa lebih fleksibel bergerak dan bergeser.

Namun saat terjadi gempa pada 2005, setelah memeriksa sejumlah rumah tradisional Nias yang mengalami kerusakan, mereka menemukan bahwa terjadi pergeseran tiang atau kolom rumah dari pondasinya. Hal ini membuat sambungan pasak antara tiang yang satu dengan lainnya mengalami perenggangan. Selain itu, sambungan antara tiang struktur bawah yang berbentuk V dengan tiang-tiang lainnya juga mengalami pergeseran.

Sejumlah perenggangan yang terjadi pada sambungan tersebut, berdasarkan amatan mereka, ternyata terjadi karena usia tiang-tiang penyangga telah terlalu tua, yakni sudah hampir mencapai ratusan tahun.

“Bagian sambungan tiang-tiang kayu banyak yang sudah tidak utuh lagi dan lapuk, sehingga kontrol seismik antara sambungan hilang, maka ketika terjadi gempa, bagian ini merenggang dan berpengaruh kepada struktur lain yang bertumpu kepadanya seperti struktur lantai dan dinding. Terdapat beberapa celah antara dinding dan balok bangunan yang merupakan akibat dari pergeseran tiang-tiang struktur bawah bangunan,” tambah mereka.

Salah satu kunci ketahanan rumah tradisional Nias yang tiang-tiangnya bertumpu pada batu, dalam Pesan dari Wae Rebo: Kelahiran Kembali Arsitektur Nusantara Sebuah Pelajaran dari Masa Lalu untuk Masa Depan (2010) yang disunting oleh Yori Antar, juga terdapat di banyak tempat di Nusantara dan merupakan tipe konstruksi yang paling ampuh menghadapi gempa.


Sambung Ikat

Teknik sambung dan ikat dalam mendirikan rumah tradisional hampir terjadi di berbagai wilayah di Nusantara. Salah satunya pada rumah Baghi, yakni rumah masyarakat Besemah di Pagar Alam, Sumatra Selatan.

Rumah ini, menurut M. Ali Husin dalam “Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana pada Rumah Tradisional Besemah, Pagar Alam, Sumatra Selatan”, menggunakan konstruksi sambung ikat dan memanfaatkan bahan-bahan bangunan ringan.

Seperti rumah tradisional Nias, rumah Baghi juga menggunakan batu sebagai alas tiang yang disebut umpak batu. Selain agar gerak tiang menjadi lebih fleksibel, alas batu juga berfungsi melindungi tiang yang berada di atasnya agar tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang memiliki kelembaban tinggi sehingga dapat merusak tiang tersebut.

“Semua rincian konstruksi diselesaikan dengan prinsip-prinsip ikatan, tumpuan, pasak, tumpuan berpaut dan sambungan berkait. Untuk pengikat umumnya digunakan rotan dan bambu, atau dengan teknik pasak. Jika terjadi gempa, maka struktur rumah akan bergerak dinamis,” tulis Ali Husin.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pada rumah Baghi juga terdapat balok sloof yang berfungsi untuk menahan agar pondasi-pondasi pada rumah tersebut tidak bergeser sehingga rumah dapat bertahan saat terjadi gempa bumi.

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan

DarkLight