Ribuan Tahun Orang Melanesia di Indonesia

Suasana pesisir pantai dari udara di Kawasan Manokwari, Papua Barat. [ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya]
Oleh: Tony Firman - 29 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Di Indonesia, orang-orang Melanesia memiliki peran yang cukup penting dalam sejarah pergerakan masa kolonial . Tercatat sejumlah pahlawan nasional asal Melanesia antara lain Johannes Latuharhary, Martha Christina Tiahahu, Thomas Matulessy atau Pattumura, Frans Seda, Johanes Leimena, Frans Kaisiepo dan masih banyak lagi.
tirto.id - “Melanesia? Apa itu? Malaysia maksudnya?”

Kata Melanesia bisa jadi masih asing di telinga orang Indonesia khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat yang umumnya tergolong dalam ras Mongoloid. Tapi tidak demikian untuk beberapa wilayah timur Indonesia, terutama wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Sayangnya, Melanesia kalah populer dari sebutan orang Indonesia Timur.

Melanesia sendiri, sebenarnya bukan terbatas pada wilayah yang disebutkan divatas. Jika bergerak terus ke timur, Melanesia terbentang dari kepulauan di Maluku sampai ke kepulauan Fiji. Secara umum, ras Melanesia merupakan ras yang berkulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat dan memiliki profil tubuh atletis.

Konsep Melanesia

Konsep Melanesia sebagai wilayah yang berbeda datang dari para penjelajah Eropa ketika melakukan ekspedisi menjelajahi Pasifik. Pada 1756 Charles de Brosses berteori bahwa ada orang-orang ras kulit hitam yang mendiami wilayah Pasifik. Pada tahun 1825 Jean Baptiste Bory de Saint-Vincent and Jules Dumont d'Urville mengidentifikasi mereka sebagai Melanesia yang merujuk kepada sekumpulan ras yang berbeda dari ras penghuni wilayah sekitarnya seperti ras Australian dan Neptunian.

Seiring dengan waktu, orang Eropa semakin melihat Melanesia sebagai kelompok masyarakat yang berbeda budaya, bukan lagi sekadar berbeda ras dan daerah. Pada abad ke-19, Robert Codrington, seorang misionaris Inggris menghasilkan serangkaian monograf pada orang Melanesia berdasarkan lama waktu mereka tinggal di wilayah tersebut.

Dalam karya-karyanya seperti The Melanesian Languages (1885) dan The Melanesians: Studies in Their Anthropology and Folk-lore (1891), Codrington mendefinisikan Melanesia termasuk wilayah Vanuatu, Kepulauan Solomon, Kaledonia Baru dan Fiji. Wilayah Nugini kemudian masuk dalam Melanesia dalam studi berikutnya oleh para peneliti antropologi.

Penelitian Jonathan Friedlaender dari Temple University mengatakan, "Para pemukim pertama di Australia, Nugini, dan pulau-pulau besar dari timur tiba antara 50.000 sampai 30.000 tahun yang lalu, ketika Neanderthal masih berkeliaran di daratan Eropa."

Penduduk asli kelompok pulau-pulau yang sekarang disebut Melanesia kemungkinan besar juga nenek moyang dari orang-orang Papua. Bermigrasi dari Asia Tenggara, mereka tampaknya telah menduduki pulau-pulau ini ke timur sampau Kepulauan Solomon, termasuk Makira dan mungkin pulau-pulau kecil yang lebih jauh ke arah timur.

Periode setelahnya, dari arah jalur barat, di wilayah-wilayah yang modern ini masuk kawasan Asia Tenggara dan jalur timur lewat wilayah yang sekarang disebut Taiwan, datang lagi gelombang migrasi dari ras Mongoloid. Mereka mulai bermigrasi sekitar 5000 sampai 2500 SM dan menetap di wilayah-wilayah tersebut.

Pertemuan dengan ras Mongoloid di daerah tersebut yang kemudian disebut sebagai orang-orang Austronesia dengan Melanesia. Periode interaksi kemudian mengakibatkan banyak perubahan yang kompleks dalam genetika, bahasa, dan budaya. Penemuan berbagai artefak peninggalan juga menjadi bukti proses bertemunya dua ras besar kala itu.

Seperti dikutip dari Mongabay, Arkeolog Balai Peninggalan dan Pelestarian Pubakala (BP3) Sulawesi Selatan, Rustan menjelaskan, ras Mongoloid yang berdiam dan berkembang di Sulsel dan sebagain besar nusantara. Orang-orang Melanesia, dari Sulawesi kemudian bergeser ke bagian timur Indonesia, menuju Papua hingga kepulauan Polinesia. “Jadi ada titik di mana, Melanosia dan Mongoloid bertemu. Mungkin di pulau-pulau bagian timur.” ujarnya lagi.

Identitas Melanesia saat ini

Zaman prasejarah sampai memasuki sejarah berlalu, alkulturasi budaya dan interaksi sampai perkawinan campuran terjadi. Sampai pada akhirnya negara Indonesia berdiri dengan sebagian besar Melanesia di wilayah timur. Identitas Melanesia tampak tidak diperkenalkan secara jelas di bangku-bangku sekolah. Mereka hanya diidentifikasikan sebagai orang-orang Indonesia Timur.

Sampai akhirnya kesadaran kolektif mulai terbangun. Festival Budaya Melanesia untuk pertama kalinya digelar di Indonesia sebagai tuan rumah pada Oktober 2015 lalu. Seperti dikutip dari Antara, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan mengatakan, Indonesia dipilih karena sekitar 80 persen penduduk yang disebut Melanesia bermukim di Indonesia.

Adalah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang menjadi tuan rumah festival Melanesia. Festival tersebut dihadiri para pemangku kepentingan bidang kebudayaan dan seniman dari Indonesia, Fiji, Papua Nugini, Pulau Solomon, Timor Leste, Vanuatu dan Kaledonia Baru serta perwakilan dari Melanesian Spearhead Group (MSG) yang berpusat di Vanuatu.

Dalam acara itu, disuguhkan berbagai macam kebudaayaan masing-masing negara anggota wilayah Melanesia. Indonesia, sebagai wilayah dengan penduduk Melanesia terbanyak menyajikan beragam tarian, seperti tarian suku Molow di Timor Tengah Selatan, tarian dari Papua, Maluku dan kepualaun di NTT lainnya. Pemutaran film bertema Indonesia Timur juga disuguhkan, bersama dengan film-film dari negara Melanesia lainnya.

Di NTT sendiri, nantinya diproyeksikan menjadi pusat kajian Melanesia di Indonesia. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTT Pieter Manuk juga melibatkan akademisi, budayawan, dan pejabat terkait kebudayaan untuk menyokong pusat kajian ini nantinya.



Mengenai populasi Melanesia di Indonesia, data dari Kemendikbud menyebutkan jumlahnya bisa mencapai 13 juta jiwa yang tersebar lima provinsi Melanesia di Indonesia. Lima provinsi di Indonesia yang tergabung dalam ras Melanesia tersebut masing-masing adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sedangkan jumlah penduduk Melanesia di enam negara lainnya hanya berjumlah sembilan juta Jiwa, yang terdiri dari negara Papua Nugini, Timor Leste, Vanuatu, Kaledonia Baru, Kepulauan Salomon, serta Fiji.

Di balik kekayaan dan keindahan dalam perbedaan ras, Indonesia juga masih menyimpan masalah rasialisme. Bibit-bibit atau perlakuan langsung itu memang tidak bisa dipungkiri lagi. Masih hangat peristiwa baru-baru ini di Yogyakarta bagaimana teriakan teriakan rasis yang merendahkan terlontar ketika sekelompok mahasiswa Papua yang menggelar demo menyuarakan aspirasi politiknya ditangkap dan dikepung di asrama mereka.

Dari stereotip orang Timur itu pemabuk, suka membuat onar dan tidak tertib ini bagaimanapun masih dilekatkan. Ironisnya, hal semacam ini terus dibiarkan. Tidak adanya komunikasi yang saling menjembatani dan melihat lebih luas menambah prasangka buruk ini makin menebal dan siap meledak sewaktu-waktu.

Sederet aksi yang dilatarbelakangi rasisme sejatinya amat banyak terjadi khususnya di tanah Papua. Semenjak militerisme ditingkatkan seiring dengan beroperasinya Freeport, satu persatu tindak kekerasan dan berbau rasis bermunculan.

Melanesia sebenarnya lebih cenderung kepada kelompok etnis karena tidak hanya mencakup ras, tetapi kebudayaan, ritual, dialek, sistem simbol, seni, dan penampilan fisik. Kini, mereka juga terwadahi dalam sebuah organisasi antar pemerintah bernama Melanesian Spearhead Group (MSG).

Melanesian Spearhead Group sendiri dibentuk dengan fokus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi antara negara-negara Melanesia. Indonesia sendiri masuk dalam MSG dengan status anggota asosiasi dikarenakan hanya 5 provinsi saja.

Dengan makin tingginya kesadaran identitas mereka mengenai kesatuan bangsa Melanesia, bukan tidak mungkin nasionalisme mereka lebih mudah terajut manakala Indonesia tidak kunjung memperlakukan wilayah Melanesia ini setara dan memanusiakan manusia.

Baca juga artikel terkait MELANESIAN SPEARHEAD GROUP atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight