Resep Nasi Tumpeng untuk 17 Agustus-an: Arti Filosofis & Sejarahnya

Penulis: Yulaika Ramadhani, tirto.id - 12 Agu 2022 10:42 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Resep tumpeng 17 Agustus untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan RI. Apa arti filosofi dan sejarahnya?
tirto.id - Resep tumpeng 17 Agustus kerap menjadi andalan sajiann istimewa di acara untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan RI.

Secara etimologi dalam masyarakat Jawa, kata ‘tumpeng’ merupakan akronim dari istilah yen metu kudu mempeng, yang berarti “ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat.”

Dilihat dari segi filosofinya, nasi tumpeng ini erat kaitannya dengan keadaan alam Indonesia yang dipenuhi gunung berapi. Dari dulu hingga saat ini kehadiran nasi tumpeng memiliki makna yang sama yakni perwujudan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tumpeng sarat makna filosofis yang indah, yakni sebagai bentuk representasi hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesamanya.

Nasi tumpeng tentunya punya sejarah dan makna tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Di lihat dari segi sejarahnya, nasi tumpeng merupakan sebuah simbol mandala atau persembahan. Bentuknya yang kerucut disimbolkan sebagai Gunung Semeru. Dalam ajaran Buddha Varjrayana diartikan sebagai gunung emas yang merupakan pusat dari dunia, demikian ditulis situs Budaya Indonesia.


Makna dan Arti Nasi Tumpeng


Berikut ini makna dari setiap lauk pauk yang ada dalam hidangan nasi tumpeng.

1. Nasi

Identik dengan nasi kuning, tetapi pada awalnya tumpeng dibuat dengan nasi putih. Meskipun begitu, saat ini tumpeng sudah memiliki variasi tertentu baik itu nasi uduk, nasi kuning, nasi putih ataupun nasi merah.

Dahulu, tumpeng dengan nasi putih melembangkan sesuatu yang kita makan harus berasal dari sumber yang bersih dan halal.

2. Ayam

Biasanya, dalam tumpeng digunakan olahan dari ayam jantan atau ayam jago. Hal ini mempunyai makna untuk menghindari sifat-sifat buruk ayam jago, seperti sombong, congkak, selalu menyela ketika berbicara, dan selalu merasa benar sendiri.

Ayam dalam hidangan tumpeng ini biasanya dalam bentuk ayam goreng atau ayam ingkung.

3. Ikan

Dahulu, dalam setiap hidangan tumpeng selalu dilengkapi dengan ikan lele. Tetapi kini kebanyakan orang memilih jenis ikan lain sebagai lauk nasi tumpeng.

Ikan lele sendiri memiliki makna ketabahan dan keuletan dalam hidup, sebab ikan lele mampu bertahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai.

4. Ikan Teri

Ikan teri juga biasanya disajikan dalam hidangan nasi tumpeng. Ikan teri memiliki makna kebersamaan dan kerukunan, sebab hidupnya selalu bergerombol di dalam laut.


5. Telur

Telur juga merupakan salah satu lauk yang wajib ada di hidangan nasi tumpeng. Telur yang biasanya digunakan adalah telur rebus yang dipindang dan disajikan utuh dengan kulitnya.

Kehadiran telur ini menjadi lambang setiap manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Selain itu, penyajiannya dengan kulit tersebut melambangkan bahwa semua tindakan harus direncanakan terlebih dahulu (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

6. Sayur Urap

Sayur urab menjadi pelengkap lainnya dalam hidangan ini yang biasanya terdiri dari kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, dengan bumbu urab yang terbuat dari sambal parutan kelapa.

Kehadiran sayuran ini memiliki beragam makna, yakni kangkung berarti jinangkung yang berarti melindungi. Bayam dapat diartikan dengan ayem tentrem.

Taoge atau kecambah berarti tumbuh. Kacang panjang bisa diartikan dengan pemikiran yang jauh ke depan.

Bawang merah yang berarti hidup harus mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya dan bumbu urap berarti urip atau hidup atau mampu menghidupi keluarga.

7. Cabai Merah

Cabai merah biasanya digunakan sebagai penghias berbentuk kelopak dalam hidangan tumpeng. Tak hanya sebagai penghias, cabai merah ini memiliki makna sebagai api yang memberikan penerangan yang bermanfaat bagi orang lain.



Resep Nasi Kuning untuk Tumpeng 17 Agustus-an


Bahan:

- 2 liter beras, bersihkan dari kotorannya

- 750 ml santan dari 1 butir kelapa

- 4 lembar daun jeruk

- 2 batang serai

- 1 ruas jahe

- 2 ruas kunyit, parut dan ambil sarinya

- Garam secukupnya

Cara membuat:

- Cuci bersih beras lalu tiriskan

- Beri 2 sendok makan air kunyit lalu campur ke beras dan aduk rata. Diamkan agar warnanya meresap

- Kukus beras kuning hingga setengah matang atau kurang lebih 45 menit

- Di panci lain, masak santan dan daun jeruk, serai, jahe, beri sedikit garam dan air perasan kunyit. Aduk perlahan hingga mendidih. Setelah mendidih matikan api.

- Tuang beras yang sudah setengah matang ke dalam santan. Aduk rata dan diamkan selama 10 menit.

- Kukus kembali beras yang sudah dicampur santan hingga matang kurang lebih selama 1 jam. Matikan api.

- Angkat nasi dan letakkan dalam cetakan tumpeng. Padatkan. Balik hingga bentuk tumpeng sempurna, angkat cetakan. Nasi kuning tumpeng siap disajikan bersama lauk pauknya.


Baca juga artikel terkait TUMPENG atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yantina Debora

DarkLight