Rekomendasi Cara Mencegah Covid-19 Bagi Orang dengan Komorbid

Oleh: Addi M Idhom - 6 November 2020
Dibaca Normal 4 menit
Ada sejumlah saran untuk para lansia dan orang yang mempunyai komorbid agar dapat menghindari penularan virus corona (Covid-19).
tirto.id - Orang-orang yang memiliki penyakit penyerta, atau disebut dengan komorbid, selama ini terbukti berisiko lebih tinggi mengalami gejala berat, dan bahkan kematian, ketika terinfeksi virus corona (Covid-19).

Risiko mengalami dampak fatal ketika terinfeksi virus corona juga terdapat pada orang lanjut usia (lansia), apalagi jika kalangan dari kelompok umur ini mempunyai komorbid.


Mengutip data Satgas Penanganan Covid-19, sampai 6 November 2020, sudah ada 14.442 pasien Covid-19 di dalam negeri yang meninggal. Angka tersebut setara 3,4 persen dari total keseluruhan kasus infeksi virus corona di Indonesia yang telah mencapai 429.574 orang.


Angka kesembuhan pasien positif Covid-19 di tanah air memang terus meningkat, dan sampai hari ini, jumlahnya sudah sebanyak 360.705 orang, atau 84 persen dari total kasus.

Namun, risiko kematian pasien Covid-19 dengan status lansia atau mempuyai penyakit penyerta masih terbilang tinggi.


Kembali merujuk kepada data Satgas Covid-19, sebanyak 43,4 persen pasien positif corona yang meninggal adalah orang dengan usia di atas 60 tahun. Tingkat kematian pasien Covid-19 dari kelompok usia 46-59 tahun pun cukup tinggi, yakni 38,5 persen.

Artinya, 81,9 persen pasien Covid-19 yang meninggal di Indonesia berusia lanjut atau mendekati 50 tahun. Orang dari kalangan usia ini umumnya memiliki komorbid, berupa penyakit degenaratif, seperti hipertensi, sakit jantung, diabetes, dan lain sebagainya.

Jika melihat data Satgas Penanganan Covid-19, daftar komorbid yang paling banyak dimiliki oleh pasien positif corona meninggal di Indonesia, sesuai urutannya adalah hipertensi, diabetes, sakit jantung, penyakit ginjal, sakit paru-paru, gangguan napas, TBC, kanker, penyakit hati, asma, dan gangguan imun.


Risiko Covid-19 pada Orang dengan Komorbid

Berbicara dalam talkshow yang digelar Satgas Penanganan Covid-19 pada 4 November 2020, serta disiarkan kanal Youtube BNPB, Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang berpraktik di DKI Jakarta, dr. Candra Wiguna, Sp. PD menyebut, mayoritas pasien positif corona yang mengalami gejala berat hingga kematian diketahui memiliki komorbid.

Dia mencatat, lebih dari 90 persen pasien Covid-19 yang mengalami gejala berat, atau meninggal, adalah orang-orang yang sebelumnya sudah memiliki penyakit penyerta, atau sudah lanjut usia.

Candra menjelaskan, dampak berat akibat Covid-19 lebih mungkin terjadi pada kelompok tersebut karena daya tahan tubuh mereka rendah. Misalnya, hipertensi bisa menurunkan daya tahan tubuh.

Gejala lebih berat hingga kematian, kata dia, lebih mungkin pula terjadi pada mereka yang punya penyakit kardiovaskular, seperti masalah jantung, paru dan pembuluh darah. Sebab, fungsi organ-organ vital mereka telah menurun.

"Kondisi tersebut dapat meningkatkan derajat sakit pada pasien Covid-19," kata Candra.

Kata Candra, mereka yang punya penyakit kardiovaskular berisiko 10 kali lebih tinggi mengalami kematian karena Covid-19. Sedangkan mereka yang mempunyai hipertensi dan diabetes, masing-masing berisiko 6 dan 4 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbid.


Gejala klinis berat akibat Covid-19 pada lansia dan pemilik komorbid, menurut Candra, yang paling umum adalah sesak napas. Gejala ini berat karena bisa berujung pada kegagalan napas.

"Sehingga pasien perlu bantuan oksigen, atau sampai membutuhkan alat bantu bernapas berupa ventilator," dia menambahkan.

Sementara mereka yang tidak memiliki komorbid, terutama jika masih berusia muda, umumnya hanya mengalami gejala Covid-19 level ringan hingga sedang, seperti: demam, sakit sendi, batuk ringan, dan lain sebagainya.

Meskipun risiko mengalami gejala berat pada orang berusia muda dan tidak mempunyai komorbid lebih rendah, tidak berarti mereka bisa menerapkan protokol kesehatan lebih longgar.

Kalangan ini tetap penting melakukan semua langkah pencegahan sesuai protokol kesehatan agar tidak menularkan virus corona kepada orang-orang lansia dan pemilik komorbid. Apalagi, banyak dari mereka mungkin menjadi Orang Tanpa Gejala (OTG), yakni sudah positif Covid-19 tetapi tidak mengalami sakit.

Yang juga penting diperhatikan, kata Candra, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka punya komorbid. Kesadaran masyarakat yang rendah untuk melakukan cek kesehatan secara rutin adalah penyebab utamanya.

Pada banyak kasus yang ditemui Candra, pasien Covid-19 baru mengetahui bahwa mereka punya komorbid setelah dinyatakan positif terinfeksi corona dan menjalani perawatan di rumah sakit.

Padahal, apabila komorbid sudah diketahui dan dikontrol sebelum seseorang menderita Covid-19, potensi mereka sembuh saat terinfeksi virus corona lebih besar.

Tips Mencegah Covid-19 Bagi Orang dengan Komorbid

Tim Pakar Satgas Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku, Turro Wongkaren, Ph.D mengatakan semua orang, baik yang memiliki komorbid maupun tidak, harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah infeksi virus corona.

Protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Satgas Covid-19 selama ini dikampanyekan dengan tiga kata: Iman, Aman dan Imun. Ketiganya, kata Turro, penting untuk mencegah penularan corona.

Bagi mereka yang memiliki komorbid, kata Turro, penting untuk meningkatkan praktik ketentuan protokol kesehatan dan langkah pencegahan melalui Iman, Aman, dan Imun.


Dia menjelaskan, maksud dari "Iman" ialah meningkatkan pengendalian diri melalui berhubungan dengan Tuhan, seperti ibadah dan doa. Spiritualitas dianjurkan karena bisa membuat orang meraih ketenangan hati sehingga lebih mudah gembira.

"Sebab, hati yang gembira adalah obat," tutur Turro dalam talkshow yang digelar Satgas Covid-19 pada 4 November 2020.

Anjuran ini dikampanyekan Satgas Covid-19 karena perasaan sedih dan stres berisiko menurunkan daya imun tubuh. Stres juga bisa mengganggu pola istirahat dan makan.

Menurut Turro, kondisi daya imun kuat dan tubuh bugar penting untuk menangkal penularan virus corona, serta mempercepat proses penyembuhan jika seseorang sudah positif Covid-19.

Untuk mencegah stres, kata dia, berkomunikasi dengan orang lain sesuai protokol kesehatan pun perlu dilakukan. Misalnya, melalui komunikasi online.

Sementara maksud dari kata "Imun," Turro melanjutkan adalah menjaga daya tahan tubuh dengan kegiatan fisik, seperti: berolahraga rutin, tidur yang cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.

"Dianjurkan pula minum vitamin C, vitamin B compleks, vitamin D, dan mineral seperti zinc," ujar dia.


Sementara prinsip "Aman" merupakan yang paling penting untuk dilakukan oleh semua orang, dan terutama sekali para lansia atau pemilik komorbid. Intinya adalah melaksanakan 3M.

Adapun 3M adalah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara sering, memakai masker dengan cara yang benar, serta menjaga jarak fisik minimal 2 meter dari orang lain dan menjauhi kerumunan.

"Orang-orang yang mempunyai komorbid perlu meningkatkan upaya pencegahan di atas. Terutama menjaga jarak dan mencuci tangan, perlu ditingkatkan," kata Turro.

"Kalau tidak, saat daya imun mereka rendah, mudah terkena Covid-19. Dan jika sudah kena, akan lebih berat [gejalanya]," dia melanjutkan.


Berdasarkan pemantauan Satgas Covid-19, selama ini protokol kesehatan yang masih kerap tidak dipatuhi oleh masyarakat adalah menjaga jarak fisik. Padahal, menurut Turro, menjaga jarak fisik dengan orang lain memiliki efektivitas paling tinggi dalam mencegah penularan Covid-19.

Kepala Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia tersebut menyarankan mereka yang punya komorbid agar lebih berhati-hati ketika keluar rumah. Lebih baik lagi aktivitas di luar rumah juga dibatasi. Saran serupa berlaku pula untuk orang-orang dengan usia di atas 50 tahun.

Kata Turro, prinsip menjaga jarak juga penting dilakukan di rumah, terutama apabila ada anggota keluarga yang sudah lansia atau mempunyai komorbid. Dia menyarankan penerapan zonasi dalam rumah.

Misalnya, tamu dari luar rumah hanya ditemui di halaman. Sementara zona merah, atau ruangan yang tidak boleh menjadi tempat berkumpul, adalah kamar tidur.

Membersihkan permukaan benda di dalam rumah dengan disinfektan secara rutin pun perlu untuk dilakukan, kata Turro. Pembersihan bisa memanfaatkan campuran cairan pemutih yang murah dan air.

"Disinfeksi juga harus dilakukan pada paket kiriman barang," kata dia.

Turro mengingatkan virus corona bisa bertahan selama 3-5 hari di permukaan benda-benda keras dan mengkilap, seperti gagang pintu hingga kaca. Virus corona pun bisa bertahan samai 3 hari di permukaan plastik, termasuk selotip yang kerap dipakai mengemas paket kiriman barang.

Candra Wiguna menambahkan saran agar mereka yang memiliki komorbid tetap rutin mengecek kesehatan dan berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi bisa dilakukan secara online jika tidak ada keperluan pemeriksaan fisik.

"Misalnya, jika punya hipertensi, perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai cara mengendalikan penyakit komorbidnya, dan kalau perlu minum obat darah tinggi penurun tensi," ujar dia.

"Pada banyak kasus [pasien komorbid], yang penting konsultasi dosis obat, yang perlu dinaikkan atau diturunkan, sehingga bisa dilakukan lewat telemedicine" lanjut Candra.


-----------

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight