Menuju konten utama

Rangkuman Kabar Iran Terbaru Hari ke-67, Selat Hormuz Berkecamuk

Situasi dalam masa perang Iran vs Israel-AS masih menunjukkan pergolakan di hari ke-67. Simak rangkumannya berikut ini.

Rangkuman Kabar Iran Terbaru Hari ke-67, Selat Hormuz Berkecamuk
Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Sepanews, pada 17 Februari 2026 ini menunjukkan sebuah roket yang ditembakkan selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut di Selat Hormuz. AFP/ oleh SEPAH NEWS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Berita perang Iran terbaru menunjukkan tanda-tanda eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Selasa (5/5/2026), tepat hari ke-67 sejak pecah perang pada 28 Februari lalu. Teheran dan Washington saling klaim serangan, sementara kompleks kilang minyak di Uni Emirat Arab (UEA) terbakar.

Sebelumnya, dinukil dari Al Jazeera, eskalasi konflik Perang Iran kembali memanas setelah fasilitas kilang minyak di Fujairah, UEA dilaporkan terbakar akibat serangan pada Senin (4/5). Fasilitas tersebut diduga menjadi sasaran serangan drone dari Iran. Serangan itu membuat fasilitas kilang minyak di Fujairah tersebut rusak dan terbakar.

UAE kemudian menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan tersebut. Negara para emir itu juga mengutuk serangan tersebut, menyebutnya sebagai “pelanggaran yang tidak dapat diterima” dan mereka memiliki “hak yang lengkap dan sah” untuk menanggapi serangan.

Teheran sejauh ini belum memberikan keterangan resmi terkait serangan itu. Namun, stasiun televisi IRIB milik Pemerintah Iran telah mengutip sumber militer anonim yang membantah tuduhan UEA tersebut.

Menurut sumber tersebut Teheran tidak memiliki “program yang direncanakan sebelumnya” untuk menyerang fasilitas minyak di UEA. Sumber itu juga menyebut militer AS sebagai pihak yang bertanggung jawab karena serangan itu disebutnya terkait dengan “petualangan militer AS” di Selat Hormuz.

“Petualangan militer AS” itu tampaknya merupakan operasi pembukaan jalur air di Hormuz yang diumumkan Trump pada Minggu (3/4). Iran sebelumnya telah menentang operasi ini dan mengancam intervensi AS pada penutupan Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Gejolak Militer di Selat Hormuz

Seiring pemberlakuan operasi AS di Hormuz pada Senin, Washington dan Teheran sama-sama mengklaim telah melakukan serangan. Dalam klaim tersebut, masing-masing pihak menyebut telah berhasil menghantam kapal satu sama lain.

AS mengeklaim telah menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang diduga mengancam jalur kapal komersial di Hormuz. Serangan ini disebut terjadi selama penerapan operasi pembukaan Selat Hormuz.

Iran tidak membantah adanya serangan tersebut, namun mereka membantah bahwa enam kapal yang jadi target merupakan bagian atau terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Media milik Pemerintah Iran menyebut bahwa enam kapal yang ditenggelamkan AS pada Senin adalah kapal sipil yang membawa barang dan penumpang. Serangan itu juga disebut telah membunuh lima orang tidak bersalah.

Sementara itu, IRGC mengklaim bahwa mereka telah berhasil menghantam kapal fregat AS di dekat pelabuhan Jask. IRGC menyebut kapal tersebut dihantam dua misil Iran dan memaksanya untuk mundur.

Militer AS membantah klaim serangan IRGC terhadap kapal fregat tersebut. Dalam keterangannya, Pusat Komando AS (CENTCOM) juga mengatakan dua kapal dagang berbendera AS telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat di tengah penutupan secara de facto oleh Iran. Namun, IRGC turut membantah ada kapal komersial yang telah berhasil melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump membuat ancaman terbaru kepada Teheran. Ia menyebut akan membuat Iran “lenyap dari muka bumi” jika kapal militer AS jadi sasaran serangan di Hormuz.

Situasi ini membuat stabilitas kawasan Teluk bertambah rapuh. Serangan terhadap fasilitas kilang minyak di UEA telah memicu banyak negara Teluk dan Barat mengecam Iran, sebagian menyatakan dukungan terhadap apa pun respons UEA atas serangan tersebut.

Kecaman terhadap Iran dan dukungan kepada UEA itu disampaikan Qatar, Yordania, Arab Saudi, Kuwait, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Kanada, Inggris, dan Uni Eropa. Sementara negara-negara tersebut mengutuk serangan terhadap UEA, media pemerintah Oman melaporkan bangungan pemukiman di sana telah jadi sasaran serangan, membuat dua orang terluka.

Eskalasi konflik juga berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli telah melonjak lebih dari 5 persen pasca-serangan yang terjadi di fasilitas kilang minyak di Fujairah, UEA.

Akan tetapi, meskipun eskalasi konflik telah meningkatkan kekhawatiran atas semakin rapuhnya gencatan senjata AS-Iran, situasi upaya diplomasi penghentian perang tak kunjung menemui titik terang.

Ketegangan di Selat Hormuz antara penutupan oleh Iran dan upaya pembukaan jalur oleh AS telah membuat Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menegaskan kembali “hak yang sah” milik Iran untuk mengelola Selat Hormuz.

Kebuntuan juga tampaknya masih terjadi dalam pembicaraan Washington-Teheran terkait program nuklir yang jadi penghambat utama perdamaian kedua negara. Mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS Mark Kimmitt menyebut bahwa AS dan Iran masih “jauh berbeda” dalam pembicaraan penghentian perang.

Kimmit menyebut bahwa pembicaraan AS-Iran belum menunjukkan tanda-tanda titik terang yang nyata. Dengan situasi tersebut, katanya, pembicaraan mungkin hanya akan menghasilkan kemajuan terbatas jika kedua pihak bersedia mempersempit tuntutan mereka.

Konflik Lebanon-Israel Masih Terjadi

Ketiadaan sinyal positif perdamaian juga masih mendominasi konflik di Lebanon. Kelompok bersenjata Hizbullah menyebut pasukannya terlibat bentrok dengan tentara Israel di Lebanon selatan. Hizbullah mengatakan tentara Zionis masih beroperasi di kawasan itu meskipun ada gencatan senjata sejak 17 April lalu.

Presiden Lebanon Joseph Aoun juga belakangan membuat pernyataan untuk mendesak tercapainya kesepakatan keamanan dan penghentian serangan Israel di wilayahnya. Menurut Aoun, kedua hal tersebut harus terlebih dulu dicapai sebelum membahas keinginan Washington untuk mempertemukannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Di sisi lain, Israel kembali memberi sinyal dukungan kepada AS atas situasi terkait Iran. Seorang pejabat militer Israel baru-baru ini menyebut tentara negara Zionis itu tetap bersiaga dan memantau situasi setelah AS menghancurkan kapal-kapal Iran dan menembak jatuh rudal.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar