Indeks Kolom
Apa Akibatnya Jika Mapel Sejarah Dihapus dari Kurikulum Nasional?
Indonesia tentu tak perlu menjadi bangsa "tangan kedua" dengan mengabaikan sejarahnya sendiri.

Model Evaluasi Daerah yang Telah Usang di Era Disrupsi
Sistem evaluasi yang tidak mampu memahami perubahan kondisi dan risiko di era disrupsi selalu akan usang dan berjalan tanpa makna.
Ketika Hijrah Bukan Sekadar Perbaikan diri, tapi Juga Aksi Kolektif
Tren Hijrah metafor sebagai pertaubatan individual membawa gelombang depolitisasi yang memang semakin meluas di bawah hegemoni neoliberalisme
Refleksi Peter Carey (5): Bagaimana Saya Jadi 'Politis' di Cornell?
Peter Carey larut dalam demonstrasi anti-Perang Vietnam di Cornell University. "Menemukan" Diponegoro di kampus itu.
Prostitusi di Media
Ketika jurnalisme larut dalam melanggengkan blaming dan shaming perempuan ini, ada masalah besar di media kita: pelanggaran kode etik dan hak asasi manusia.

Follow-up "Status" Menengah-Atas Indonesia
Status baru berpendapatan menengah-atas bisa menjadi pedang bermata dua kalau hanya mandek terpukau gengsi.
Refleksi Peter Carey (4): Bagaimana Saya Belajar Bahasa Jawa?
Peter Carey menemukan guru bahasa Jawa yang telaten. Perkenalan dengan Sartono Kartodirdjo mengajarkan banyak hal.
Refleksi Peter Carey (3): Bagaimana Saya Menelusuri Manuskrip Jawa?
Persahabatan Peter Carey dengan Merle Ricklefs membawa pemahaman yang lain atas Jawa. Ketulusan orang Jawa membuat hatinya tersentuh.

Anak Betawi Ketemu Bang Ali Sadikin
Ali Sadikin menjadi "standar emas" bagi para penerusnya. Ia gubernur yang paling layak dipanggil "Bang".
Refleksi Peter Carey (2): Bagaimana Saya Digembleng di Oxford?
Bidang kewilayahan yang ditekuni Peter Carey memang marginal di Oxford, tapi di kampus itulah ia digembleng sebagai sejarawan dan akademisi.
Refleksi Peter Carey (1): Mengapa Saya Jatuh Cinta kepada Sejarah?
Rahasia Peter Carey di masa belia: membaca novel-novel sejarah dan mempelajari babad Inggris kuno kala SMA.
Pelibatan TNI dalam Soal Kerukunan Beragama Mengkhianati Reformasi
Kerukunan kita memang masih menghadapi banyak masalah, tetapi cara mengatasinya tidak boleh melalui tangan besi negara seperti di masa Orde Baru.
Yang Konyol dari Narasi Memboikot Unilever
Tantangan LGBT+ adalah kembali ke akar rumput dan mengamalkan interseksionalitas.
Murka sebagai Alat Politik & Mengapa Jokowi Marah adalah Teatrikal
Kemarahan Jokowi bisa membangkitkan moral pendukungnya, tapi apakah dia akan memperbaiki respons pemerintah menangani krisis COVID-19?
Iconoclasm Is Not A Healing for Historical Wounds
Decolonising the mind and honest conversation of traumatic past are more pertinent than defacing problematic statues.
Penghancuran Patung Bukan Solusi untuk Menyembuhkan Luka Sejarah
Yang jauh lebih penting dari sekadar penghancuran patung-patung: dekolonisasi pikiran dan melihat masa lalu secara jernih.
In Memoriam Prof. Sediono Tjondronegoro, Ilmuwan Kaum Tani
Prof. Tjondronegoro berperan penting dalam wacana dan kebijakan reforma agraria di Indonesia.
Sesat Pikir Teori Konspirasi Deddy, Young Lex, dan Jerinx
Pertanyaan lawas: kenapa orang percaya teori konspirasi?
Ketakutan, Konspirasi, dan Penderitaan Selama Pandemi COVID-19
Tidak ada yang takut dengan cuaca, tetapi orang-orang takut terhadap virus.

Vonis Mati Meningkat, Indonesia Melawan Arus Global
stigma narkotika sebagai kejahatan serius mempengaruhi bobot hukuman
Masuk tirto.id








