Protes Kreatif Warga Jogja saat Proyek Jalan Mangkrak Usai OTT KPK

Oleh: Irwan Syambudi - 2 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Proyek saluran air hujan di Jalan Soepomo hingga Jalan Babaran mangkrak usai OTT KPK, Agustus lalu. Warga Jogja pun protes dengan cara menanam jagung di lokasi proyek.
tirto.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Agustus 2019 melakukan operasi tangkap tangan terhadap lima orang dalam kasus dugaan suap lelang proyek pembangunan saluran air hujan pada Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta.

Lima orang yang terjaring OTT terdiri dari unsur: 1 orang jaksa yang menjabat Jaksa Fungsional yang bertugas di TP4D Kejaksaan Negeri Yogyakarta, 2 orang pihak swasta, Kepala Bidang SDA Dinas PUPK Kota Yogyakarta, dan Ketua Pokja Badan Layanan Pengadaan Kota Yogyakarta.

Setelah pemeriksaan, KPK menetapkan dua orang jaksa dan satu orang dari swasta sebagai tersangka. Dua jaksa itu adalah Eka Safitra (ESF) yang bertugas di Kejaksaan Negeri (kejari) Yogyakarta dan Satriawan Sulaksono (SSL) jaksa di Kejari Surakarta.

Eka Safitra dan Satriawan menjadi tersangka penerima suap dalam kasus ini.

Eka Safitra merupakan anggota Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan, dan Pembangunan Daerah (TP4D) yang bertugas mengawasi pelaksanaan realisasi anggaran di Pemkot Yogyakarta. Sementara tersangka ketiga yang diduga memberikan suap ialah Direktur Utama PT Manira Arta Rama Mandiri, Gabriella Yuan Ana.

“Disimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi memberikan atau menerima hadiah atau janji terkait lelang proyek pada Dinas PUPKP Kota Yogyakarta TA 2019," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (20/8/2019).

Akibat kasus itu, proyek saluran air hujan yang berada di Jalan Soepomo hingga Jalan Babaran, Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogya itu pun berhenti. Sebagian lubang galian yang berada di jalan dibiarkan menganga tak terurus.

Di Jalan Babaran yang lebarnya hanya sekitar lima meter, dua setengah meter di antaranya masih berupa galian. Lubang galian hanya diberi pembatas berupa garis plastik kuning dan rambu-rambu pemberitahuan perbaikan jalan.

Namun, nyatanya perbaikan saluran air hujan yang berada di bawah jalan aspal itu sudah mandek sejak tiga bulan lalu. Tepatnya pada Agustus setelah KPK menangkap sejumlah orang karena ada dugaan suap dalam proyek tersebut.


Protes "Halus" dan Kreatif dari Warga


Barmadi (62 tahun) menempati rumah di Jalan Babaran bersama istri, anak, dan cucunya. Sementara proyek rehabilitasi saluran air hujan yang menganga tak terurus tepat berada di jalan di depan rumah dia.

Akibatnya setiap hari debu berterbangan. Barmadi harus mengambil air dari sumur untuk menyiram galian dan sebagian jalan, ia tak mau lebih banyak debu masuk ke rumah dan buat keluarganya sesak nafas.

Setiap hari menyiram galian dan jalan yang tak tahu kapan akan diperbaiki, dia pikir itu nirmanfaat karena hanya akan menghabiskan air. Pertengahan September, terlintas ide untuk menanam jagung di lubang galian proyek itu.

Ide kreatifnya itu kemudian ia konsultasikan ke Ketua RT. Setelah mendapatkan restu dari RT dan sejumlah warga lain, Barmadi kemudian menyebar setengah kilogram bibit jagung di lubang galian proyek depan rumahnya itu.

“Kalau itu [menanam jagung] pikiran saya cuma untuk debu itu. [Agar tidak mengganggu] kesehatan cucu-cucu saya. Kan saya banyak keluarga dan tetangga," kata Barmadi saat ditemui reporter Tirto, Jumat (1/11/2019).

Awalnya ia pesimis jagung itu bakal tumbuh subur di lubang galian proyek. Namun, anggapan itu keliru, jagung itu kini tumbuh subur. Kata Barmadi warga lain pun mendukung dan mengapresiasi aksi yang dilakukan dia.

“Sekampung mendukung saya. Dulu, kan, belum hujan. Ragu-ragu belum hidup, iya [lalu warga ikut] sirami dan sebagainya. Andil semua sekampung," ujar Barmadi.

Priyono (36 tahun), warga lain yang berjualan tepat di sebelah rumah Barmadi mendukung apa yang dilakukan tetangganya itu. Ia menilai menanam jagung di proyek yang mangkrak adalah sebagai simbol protes.

"Mendukung [penanaman jagung di galian proyek] karena mengurangi debu. [Menanam jagung itu cara yang] halus lah protesnya," kata Priyono.

Selain Priyono, Muzakir (33 tahun) juga mendukung aksi tetangga yang tinggal di seberang tempat tinggalnya itu. Penjual sate ayam itu mengatakan sejak Barmadi menanam jagung di galian proyek, debu yang biasa berterbangan berkurang.

"Saya dukung [galian proyek ditanam jagung] karena sekarang ini debunya jadi berkurang," ujarnya.


Protes Warga Yogya Tanam Jagung di Jalan Galian Proyek
Sejumlah pengguna jalan melintas di Jalan Banaran, Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogya lokasi proyek rehabilitasi air hujan yang mangkrak dan ditanami jagung, Jumat (1/11/2019). (tirto.id/Irwan A. Syambudi)

Ingin Segera Dibenahi karena Bikin Dagangan Sepi


Namun, Barmadi dan sejumlah warga lain khawatir. Musim hujan telah tiba, sementara lubang sedalam empat meter masih menganga di depan tempat tinggal mereka.

Sejatinya galian itu diperuntukan sebagai saluran air hujan. Namun, kini saat hujan mulai tiba, tapi lubang-lubang saluran air itu belum sempurna dan cenderung terbengkalai.

"Semua warga khawatir karena air itu berputar [di lubang yang menganga]. Tanah itu kemungkinan enggak kuat, tanah bisa amblas," kata Barmadi.

Yang membuat Barmadi khawatir bukan hanya hujan yang mulai turun. Semakin lama proyek terbengkalai, maka kondisi perekonomian dia juga semakin sulit. Sebab warung kelontong miliknya akan semakin sepi.

Barmadi berujar sejak proyek jalan dimulai, berangsur-angsur pembeli warung kelontongnya semakin menurun. Musababnya warga semakin sedikit yang melewati jalan di depan rumah dia karena sedang digali.

"Karena ini [proyek mangkrak] kami jadi enggak kulakan lagi karena sepi,” kata dia.

Sepinya pembeli juga dirasakan oleh Priyono yang setiap sore berjualan Bakmi Jawa. Sejak proyek dimulai, ia bahkan sempat tutup tak berjualan selama sebulan penuh. Sebab, jalan akses menuju warungnya tak bisa dilewati.

Setelah proyek berjalan dan sebagian akses jalan dibuka, Priyono mulai kembali berjualan. Namun pendapat dia jauh dari hari biasa. Omzetnya menurun hingga 50 persen.

"Hitungannya itu kalau hari biasa bisa habis 15 ekor ayam. Sekarang cuma habis tujuh sampai delapan ekor ayam," kata dia.

Sementara Muzakir yang sehari-hari berjualan sate ayam nasibnya juga tak jauh berbeda dengan Barmadi dan Priyono. Omzetnya juga turun 50 persen dari hari biasa.

"Dulu biasa habis ayam tujuh sampai delapan kilogram. Sekarang cuma tiga sampai empat kilogram," kata Muzakir.


Nasib Proyek yang Mangkrak


Pemerintah Kota Yogyakarta seperti dilansir Antara pada akhir September lalu menyatakan akan memutuskan kontrak dengan kontraktor yang ditetapkan sebagai pemenang lelang proyek revitalisasi drainase Jalan Supomo dan sekitarnya. Ini menyusul surat rekomendasi dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

“Sudah ada suratnya. Tentu akan ditindaklanjuti. Bisa memutus kontrak,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono di Yogyakarta, Senin (30/9/2019).

Pekerjaan revitalisasi drainase Jalan Supomo dan sekitarnya senilai Rp8,3 miliar tersebut saat ini terhenti akibat tersangkut kasus dugaan suap yang kini ditangani KPK.

Selain akan melakukan perbaikan drainase di Jalan Supomo, proyek tersebut juga meliputi revitalisasi drainase di Jalan Babaran.

Kontraktor pemenang lelang bahkan sudah melakukan penggalian di Jalan Babaran dengan kedalaman sekitar dua meter. Namun, proyek terpaksa dihentikan dan saat ini lubang galian hanya diberi batas seadanya.

“Setelah putus kontrak, akan dilakukan penataan kembali terhadap lubang galian,” kata Agus.

Protes Warga Yogya Tanam Jagung di Jalan Galian Proyek
Sejumlah pengguna jalan melintas di Jalan Banaran, Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogya lokasi proyek rehabilitasi air hujan yang mangkrak dan ditanami jagung, Jumat (1/11/2019). (tirto.id/Irwan A. Syambudi)


Meski demikian, penataan kembali terhadap lubang galian tersebut baru akan dilakukan setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh surat dari KPK.

“Begitu surat turun, pekerjaan penataan akan dilakukan. Masyarakat pun berkeinginan agar ada kejelasan secepatnya,” kata dia.

Dengan ditata kembali, Agus berharap, ruas Jalan Babaran bisa dilalui kendaraan dengan lebih nyaman dan masyarakat pun akan merasa lebih aman. “Kami juga akan menindaklanjuti proyek ini dengan melakukan audit,” kata dia.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi sebelumnya mengatakan, sisa waktu hingga akhir tahun sudah tidak memungkinkan untuk melakukan lelang ulang terhadap pekerjaan drainase Jalan Supomo dan sekitarnya.

“Lelang membutuhkan waktu satu bulan, tentu tidak memungkinkan untuk mengerjakan proyek dalam sisa waktu yang ada hingga akhir tahun,” kata dia.

Oleh karena itu, salah satu opsi yang memungkinkan adalah normalisasi terhadap lubang galian yang diharapkan bisa dilakukan sebelum musim hujan karena lubang galian dengan cukup besar tersebut berpotensi mengalami kerusakan jika terjadi hujan lebat.


Baca juga artikel terkait PROYEK INSFRASTRUKTUR atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight