Menuju konten utama

Profil Khalil Al Hayya yang Kini Jadi Kepala Biro Politik Hamas

Khalil Al Hayya adalah personil Hamas yang ulung dalam bernegosiasi. Ia banyak kehilangan anggota keluarga di saat dirinya juga jadi sasaran Israel.

Profil Khalil Al Hayya yang Kini Jadi Kepala Biro Politik Hamas
Khalil al-Hayya, seorang pemimpin senior sekaligus kandidat legislatif utama Hamas, tersenyum saat diwawancarai oleh AFP di kantornya di Kota Gaza pada 21 April 2021. Gerakan Islamis Palestina, Hamas, mengumumkan pada 20 Juli 2026 bahwa mereka telah memilih Khalil al-Hayya kepala negosiator kelompok tersebut dalam perundingan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel—sebagai ketua baru biro politiknya. AFP/Emmanuel DUNAND
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Khalil Al Hayya terpilih menjadi salah satu pemimpin Hamas. Al Hayya kini didapuk jadi kepala biro politik kelompok perlawanan tersebut, menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dibunuh Israel pada 2024 lalu. Lantas, bagaimana rekam jejak Khalil Al Hayya selama ini?

Pengumuman Khalil Al Hayya sebagai pemimpin Hamas yang baru sebelumnya dilakukan pada Senin (20/7/2026). Seturut Al Jazeera, pemilihan Al Hayya sebagai pemimpin kelompok perlawanan penjajahan Israel di Palestina itu dilakukan dalam voting dewan syura umum gerakan tersebut.

Al Hayya mendapatkan lebih banyak suara dari lawan politiknya, Khaled Meshaal, yang juga turut diusung sebagai calon pemimpin baru. Keduanya sebelumnya gagal mencapai suara mayoritas 50 plus satu dalam pemungutan suara, membuat pemungutan lanjutan dilakukan.

Khalil Al Hayya selama ini dikenal sebagai pemimpin kelompok masyarakat Gaza di pengasingan. Ia juga dikenal luas di antara komunitas diaspora Palestina yang mengungsi di luar negeri.

Profil Khalil Al Hayya dan Rekam Jejaknya

Khalil Al Hayya merupakan anak kandung Kota Gaza. Ia lahir di kota tersebut pada 5 November 1960. Lahir di Gaza membuat Al Hayya sudah sadar arti penting politik di usia muda.

Ia dilahirkan dari keluarga konservatif. Sejak muda, Al Hayya telah tumbuh di tengah situasi politik genting. Ketika ia baru berusia 7 tahun, perang Arab-Israel pecah pada 1967.

Setelah perang tersebut, pendudukan Israel di tanah Palestina pada periode berikutnya turut dialami sendiri oleh Al Hayya saat masih belia. Sebagaimana banyak sekali anak Palestina, Al Hayya sudah melihat sendiri penggerebekan militer di rumah keluarganya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kerabatnya ditangkap satu persatu.

Pengalaman getir itu kemudian membuat kesadaran politik Al Hayya terpupuk sejak dini. Di usia 20 tahun, pada 1980, ia bertemu dengan pendiri Hamas Sheikh Ahmed Yassin.

Pertemuan itu kemudian membawanya ke dalam aktivisme terorganisasi. Ia turut mendirikan Hamas bersama Ahmed Yassin dan sejak itu berulang kali dipenjara oleh pasukan Israel selama Intifada pertama pada akhir 1980-an. Ia turut disiksa selama penahanannya di penjara.

Akan tetapi, walaupun aktif terlibat dalam upaya aktivisme politik hingga pertempuran dengan nyawa sebagai senjata utamanya, Al Hayya juga dikenal sebagai seorang cendekiawan. Ia merupakan akademisi bidang Islam dengan gelar doktor yang melekat pada namanya.

Gelar sarjana Al Hayya didapatkan dari Universitas Islam Gaza pada 1983 di bidang studi Islam. Ia kemudian melanjutkan studi master di Universitas Yordania pada 1986. Sedangkan, gelar doktor bidang ilmu hadis ia dapatkan dari Sudan pada 1997.

Kiprahnya sebagai akademisi itu juga diakui dalam komunitas akademik Palestina. Ia merupakan anggota Asosiasi Cendekiawan Palestina.

Usai membangun nama di bidang akademik, Al Hayya terjun ke politik pada 2006. Kala itu ia maju dalam pemilu, memenangkan kursi di Dewan Legislatif Palestina dan jadi pemimpin blok Hamas di parlemen.

Selama dua dekade terakhir, Al Hayya menjadi figur penting dalam hubungan Hamas dengan dunia internasional. Ia merupakan kepala kantor hubungan Arab dan Islam di Hamas.

Posisinya itu kemudian membuatnya terlibat dalam berbagai misi diplomatik penting. Salah satunya adalah negosiasi gencatan senjata pasca-perang Israel di Gaza pada 2012 dan 2014.

Keterlibatan serupa juga terjadi pasca-perang genosida Israel sejak 2023. Al Hayya merupakan kepala negosiator Hamas dalam perundingan gencatan senjata tak langsung yang dimediasi Qatar dan Mesir. Negosiasi ini turut menelurkan kesepakatan pertukaran tawanan.

Urusan diplomatik penting juga dilakukan Al Hayya pada November 2023 lalu. Kala itu, ia memimpin delegasi ke Lebanon untuk bertemu pimpinan Hizbullah Hassan Nasrallah.

Akan tetapi, rekam jejak Al Hayya tak hanya penuh dengan aktivisme politik. Selama puluhan tahun, ia juga menjadi korban upaya pembunuhan dan berulang kali menyaksikan keluarganya sendiri mati dalam serangan Israel.

Israel sejak lama telah memasukkan Al Hayya dalam daftar target. Upaya pembunuhan Al Hayya oleh Israel, setidaknya, terjadi sejak 2007.

Pada Mei 2007, Israel menyerang rumah keluarga Al Hayya. Tujuh kerabat Al Hayya tewas terbunuh, termasuk dua saudara laki-lakinya.

Pada 2008, serangan Israel kembali menarget afiliasi Al Hayya. Kala itu, Hamza, putra Al Hayya yang jadi anggota sayap militer Hamas (Brigade Qassem) terbunuh dalam serangan drone Israel.

Pada 2014, Al Hayya kembali berduka ketika serangan Israel menewaskan putra sulungnya, istrinya, dan tiga anak mereka. Serangan ini berlanjut pada awal tahun 2026 ini. Saat itu putranya yang lain, Azzam, tewas setelah terluka akibat serangan udara Israel di Daraj, Kota Gaza.

Serangan demi serangan yang dilancarkan Israel ini membuat Al Hayya kehilangan banyak nyawa keluarganya termasuk saudara, anak, dan istrinya. Namun, Al Hayya sejauh ini selalu lolos dari upaya pembunuhan yang menargetkan dirinya.

Pada Januari 2024, ketika ia sedang di Lebanon untuk bertemu pimpinan Hizbullah, Israel menggempur markas kelompok bersenjata Lebanon itu. Wakil kepala politik Hamas Saleh al-Arouri turut terbunuh dalam serangan itu, namun Al Hayya berhasil lolos.

Pada September 2025, Al Hayya kembali selamat dari serangan Israel di kompleks perumahan di Doha, Qatar. Serangan itu tak berhasil mengeksekusi tokoh Hamas itu. Namun putra Al Hayya, Humam, direktur kantor Jihad Labad, tiga pengawal, serta seorang petugas keamanan Qatar terbunuh.

Kini, Al Hayya menjadi salah satu pejabat pimpinan tertinggi Hamas. Namun, upaya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Palestina yang berdikari dipenuhi halang rintang.

Sejak Israel melancarkan serangan meluas ke Gaza sejak 2023, anggota Hamas dan para tokoh penting gerakan itu banyak yang turut terbunuh. Serangan genosida Israel juga telah menghapus nyawa lebih dari 73.000 orang Palestina dari muka bumi.

Posisi rakyat Palestina di Gaza juga kian terdesak oleh artileri dan tentara Israel. Israel masih terus merangsek masuk wilayah Gaza lewat serangan demi serangan yang menghancurkan kota tersebut.

Baca juga artikel terkait PROFIL TOKOH atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar