Praka Nasri, Pasukan PBB Meninggal Akibat Kecelakaan di Darfur

Oleh: Maya Saputri - 13 Juli 2018
"Dalam kecelakaan tersebut Peacekeepers Indonesia, Praka Nasri Bahri mengalami kecelakaan saat dalam konvoi dalam satu kendaraan karena kendaraan kehilangan kendali," jelas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir.
tirto.id - Anggota pasukan penjaga perdamaian (Peacekeepers) PBB asal Indonesia, Praka Nasri bin Bahri meninggal dunia saat bertugas di Darfur, sebuah daerah di bagian barat Sudan, Afrika Utara.

Praka Nasri tewas dalam kecelakaan saat melakukan konvoi karena kendaraan yang ditumpangi kehilangan kendali.

"Intinya terjadi kecelakaan saat convoy pasukan UNAMID, yang melibatkan Peacekeeper Indonesia (Yonkomposit TNI Konga XXXV-Satgas Zeni). Dalam kecelakaan tersebut Peacekeepers Indonesia, Praka Nasri Bahri mengalami kecelakaan saat dalam konvoi dalam satu kendaraan karena kendaraan kehilangan kendali," jelas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, saat dihubungi Tirto, Jumat (13/7/2018).

Jenazah Praka Nasri sudah dipulangkan ke tanah air pada 12 Juli 2018 pukul 18.00 WIB dan telah dikembalikan ke keluarganya.

"Jenazah dimakamkan di Kota Daro pada tanggal 13 Juli 2018 pagi dengan upacara militer," jelas Arrmanatha.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi juga menyampaikan dukacita atas meninggalnya pasukan PBB asal Indonesia dalam tugas tersebut.

"Duka cita saya yang mendalam atas meninggalnya Praka Nasri bin Bahri yang gugur dlm kecelakaan saat menjalankan tugas sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian (Peacekeepers) PBB asal Indonesia di UNAMID (Darfur)," dalam cuitan di Twitter, Kamis (12/7/2018).

"Semoga keluarga diberi kekuatan dalam menjalani masa duka ini. Jasa almarhum akan terus dikenang dan menjadi kebanggaan Indonesia," tambahnya.

Indonesia telah mengirimkan pasukan penjaga perdamaian (peacekeepers) PBB yang tergabung dalam UNAMID dan beranggotakan tentara, polisi sipil hingga para petugas sipil lainnya. Pasukan UNAMID ini adalah misi kerja sama antara PBB dengan Uni-Afrika sejak 2007 untuk mengamankan wilayah Darfur yang masih berkonflik.

Darfur menjadi sorotan dunia ketika konflik pecah pada 2003, saat pemberontak mengangkat senjata melawan rezim pemerintahan Khartoum yang dianggap diskriminatif.

Akhir tahun lalu, pemerintahan pimpinan Omar al-Bashir meminta PBB untuk mengakhiri misi di Darfur di tengah upaya penyelidikan soal pemerkosaan massal yang diduga dilakukan oleh tentara Sudan di Tabit, Darfur. Pemerintah Sudan menyangkal tuduhan itu dan membela tentaranya.

Baca juga artikel terkait PASUKAN PERDAMAIAN atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live