Potensi Rupiah Melemah Akibat Perang Dagang

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 22 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Isu perang dagang dan defisit neraca perdagangan belum jadi fokus capres. Padahal mendesak mengingat defisit neraca perdagangan Indonesia saat ini.
tirto.id -
Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini menjelaskan, perang dagang yang terjadi antara China dan Amerika Serikat (AS), akan membuat rupiah melemah.

Meskipun saat ini perang dagang tengah masuk fase gencatan senjata namun pemerintah RI harus bersiap.
"Saat perang itu sedang berlansung dan mempengaruhi ekonomi global. Indonesia defisit dagang dan cuma nerimo saja, padahal ini melamahkan ekonomi ke depan," kata dia, Jumat (22/2/2019).

Ia menjelaskan duduk perkara dari kondisi perang dagang. Semula, Amerika tidak terima menghadapi defisit perdagangan dengan Cina. Cara menunjukkan ketidaksetujunya dengan memulai perang dagang.
"Eropa juga sedang menyusun strategi bagaimana menghadapi serbuan dagang dengan Cina. Menurut saya tekanan perdagangan Indonesia dengan Cina haruslah menjadi perhatian dan menjadi strategi pemerintah ke depan," kata dia.
Jika pemerintah tidak bersiap, maka perekonomiam Indonesia akan sangat lemah. Contohnya, kata dia, nilai tukar rupiah akan rapuh dan kepastian bisnis tidak akan kuat.
"Ini merupakan isu penting yang terkait dengan nasib ekonomi Indonesia ke depan. Saya melihat isu ekonomi politik Indonesia dengan Cina belum menjadi isu yang diangkat oleh calon presiden," papar dia.

Diberitakan sebelumnya, saat ini neraca peradangan Indonesia pada Januari 2019 tercatat mengalami defisit sebesar 1,16 miliar dolar AS. Angka ini lebih tinggi daripada defisit neraca dagang pada periode yang sama tahun 2018, yakni 760 juta dolar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan defisit neraca dagang pada Januari 2019 dipicu oleh kinerja ekspor yang sedang loyo. Ekspor RI ke sejumlah negara mitra dagang utama, kata Darmin, menurun pada awal tahun.

Beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, menurut Darmin, telah mengurangi konsumsi lantaran dampak perang dagang. Sementara India yang menjadi salah satu importir utama sawit Indonesia mulai melakukan kebijakan restriktif terhadap ekspor komoditas itu dari negara-negara Asia Tenggara.
"Karena ekspor kita terutama nomor satu ke Cina, nomor dua AS, tiga Jepang, empat Eropa atau India. Cina, termasuk AS, pertumbuhan ekonomi dan perdagangannya turun, jadi kita terpengaruh langsung dengan perang dagang. Sementara untuk cari alternatifnya perlu waktu," kata dia di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Jumat (15/3/2019).


Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG AS-CINA atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Zakki Amali