Pop Biasa saja, Folk Makin Asyik

Pop Biasa saja, Folk Makin Asyik

Penyanyi solo tetap dipegang Tulus dan Isyana, tetapi yang asyik dari 2016 adalah perang ludah para rapper dan musik folk yang makin mantap. Tahun 2017? Banyak yang seru!
Reporter: Nuran Wibisono
30 Desember, 2016 dibaca normal 4:30 menit
Penyanyi solo tetap dipegang Tulus dan Isyana, tetapi yang asyik dari 2016 adalah perang ludah para rapper dan musik folk yang makin mantap. Tahun 2017? Banyak yang seru!
tirto.id - Prediksi itu sama dengan perjudian. Walau dibekali pengetahuan, tetap saja kamu tak bisa benar-benar tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tahun lalu, tak ada pandit yang memprediksi kalau tim antah-berantah bernama Leicester akan juara Liga Inggris. Nyatanya, tim bermaskot rubah ini mencetak sejarah menjadi juara Liga untuk pertama kali dalam sejarah.

Prediksi salah juga jamak terjadi di dunia musik. Misalkan seperti yang dilakukan oleh majalah Variety pada 1955. Tim redaksi mereka, dengan pongah dan sedikit sok tahu, bilang kalau musik rock n roll "akan segera hilang pada bulan Juni." Tentu saja kita sama-sama tahu kalau prediksi itu salah. Tapi mungkin kekeliruan terbesar dalam hal tebak-menebak di dunia musik adalah apa yang dilakukan oleh perusahaan rekaman Decca.

Pada 1962 mereka menolak mengontrak band baru bernama The Beatles: "Kami tak menyukai sound mereka, dan musik berbasis gitar akan segera ketinggalan zaman." Mungkin setelah Beatles jadi lebih terkenal ketimbang tuhan, barulah petinggi label itu gigit jari dan tak akan pernah lagi tidur dengan nyenyak.

Karena contoh-contoh kesalahan tak tertanggungkan itu, memprediksi apa yang akan terjadi di dunia musik menjadi kegiatan berisiko tinggi sekaligus mengasyikkan. Kalau benar, ya untung. Kalau meleset, apalagi meleset jauh, ya cukup garuk kepala.

Pop Biasa Saja, Hip-hop Ramai, Folk Mantap

Musik Indonesia cukup menarik untuk diprediksi. Di gagrak pop sebenarnya perkembangannya cukup dinamis sekaligus mudah ditebak. Pada 2016, nama penyanyi solo yang naik daun hanya segelintir. Sebut saja Tulus, Raisa, atau Isyana Sarasvati. Tapi mereka juga menyajikan musik pop yang segar dan menyenangkan untuk didengar.

Tulus termasuk musisi solo yang sudah masuk dalam jajaran penyanyi populer kelas atas Indonesia. Di Spotify, Tulus punya 281.000 pendengar bulanan. Album terbarunya yang dirilis tahun ini, Monokrom, mendapat sambutan bagus oleh pasar maupun kritikus. Beberapa lagunya masuk dalam kategori hits. Misalkan "Ruang Sendiri", yang diputar 3,1 juta kali di Spotify. Begitu pula "Pamit" yang diputar 2,3 juta kali, "Cahaya" (1,1 juta kali), dan "Monokrom" (693 ribu kali).

Di sisi lain, Raisa berhasil menjaga status sebagai penyanyi solo perempuan generasi baru yang bersinar. Di Spotify, Raisa punya pendengar bulanan sekitar 232.000. Album barunya yang dirilis tahun ini diberi judul Handmade punya beberapa lagu hit yang juga laris diputar di Spotify. Lagu "Kali Kedua" diputar 3,6 juta kali dan "Love You Longer" (960 ribu kali).

Sedangkan Isyana tahun ini merilis album Explore! Edisi Spesial—pengemasan ulang dari album berjudul sama yang dirilis tahun lalu. Bedanya, ada tiga lagu tambahan. Penyanyi dengan pendengar bulanan Spotify mencapai 196.121 in tetap mengandalkan lagu dari album Explore! Semisal "Tetap Dalam Jiwa" (diputar 2,3 juta kali), "Kau Adalah" (2,1 juta kali), dan "Keep Being You" (1 juta kali).

Pendatang baru yang lumayan diperbincangkan adalah Rizky Febian. Dia merilis album Kesempurnaan Cinta. Album itu melejitkan lagu berjudul sama, yang diputar sebanyak 2,4 juta kali di Spotify. Single-nya "Penantian Berharga" diputar 1,6 juta kali. Solois ini juga riwa-riwi di banyak acara televisi. Tak heran kalau di Spotify dia mempunyai sekitar 205 ribu pendengar

Di luar solois-solois itu, dunia musik Indonesia saat ini sedang ramai oleh hip-hop. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus mengakui peran Young Lex dalam segala keributan di kancah hip-hop Indonesia. Komentar-komentarnya yang kontroversial membuat banyak rapper senior turun gunung dan membuat lagu lagi. Sebut saja 8 Ball, Xaqhala, hingga Rulionzzo.

Terlepas dari segala keributan itu, hip-hop Indonesia memang semakin membesar. Mereka adalah musisi generasi baru dengan referensi musik yang luas, dan amat terbantu dengan adanya internet. Yang paling fenomenal tentu adalah Rich Chigga. Lagunya, "Dat $tick" sudah ditonton sebanyak 31 juta kali di YouTube. Lebih mengejutkan lagi, rapper legendaris Ghostface Killah menggarap ulang lagu itu bersama Pouya. Video remix mereka sudah ditonton sekitar 7,5 juta kali. Pada 21 Desember lalu, penyanyi bernama asli Brian Immanuel ini mengunggah video berjudul "Seventeen", yang sudah ditonton 1.032.349 kali (30 Desember).

Di luar nama seperti Young Lex dan Rich Chigga, penggemar hip-hop di Indonesia kini menyimak nama-nama seperti Sonjah, A Nayaka, Begundal Clan, Laze, hingga Bars of Death yang digawangi rapper veteran, Morgue Vanguard dan Sarkasz.

Selain nama-nama musisi pop baru yang masih akan terus berjaya, setidaknya hingga tahun depan, musik rap dan hip-hop juga agaknya masih ramai diperbincangkan pada 2017. Apalagi Bars of Death dikabarkan akan merilis album tahun depan. Menilik dua lagu yang sudah dirilis, album itu pasti bakal dahsyat. Begitu pula musik folk. Ada banyak band folk yang masih tetap akan merilis karya apik tahun depan. Silampukau, band asal Surabaya yang mengeluarkan album ultra apik pada 2015, diharapkan merilis album pada 2017.

Keriuhan di kancah folk membuat beberapa penggiat musik di Jakarta berani bikin Cikini Folk Festival pada Desember 2016. Sekira 2014 dan 2015, beberapa penggiat musik di Jawa Timur membuat Folk Music Festival—dan banyak dipuji. Nama-nama di tiga festival itu dan animo besar para penonton menjadi penegas bahwa tahun depan musik folk masih akan berjaya.

Di luar tiga genre ini, genre klasik seperti metal dan rock juga selalu tetap ditunggu penggemarnya.

Pop Biasa saja, Folk Makin Asyik

Apa Kata Mereka:

Musik metal sampai kapan pun akan tetap menarik. Untuk tahun depan, aku menunggu album terbaru Seringai, Forgotten, Extreme Decay, dan Burgerkill. Untuk band baru, ada Gaung dan Piston yang sepertinya berbahaya. Untuk non-metal, folk dengan tema 'serius' mulai bisa menggeser tema lembut. Beberapa nama yang patut ditunggu adalah Sisir Tanah, juga Jason Ranti. Band-band folk yang tampil di Cikini Folk Festival itu bagus semua. Mulai dari Iksan Skuter, Vira Talisa, Harlan Boer, hingga Gabriel Mayo.
— Samack (Pengelola blog Sesikopipait, penulis musik untuk Jakartabeat, Supermusic, The Metal Rebel, Rolling Stone Indonesia, dan pelbagai media musik lain)

Tahun 2017 harusnya hip-hop dan folk masih mendominasi. Apalagi hip-hop. Dan EDM seperti Dipha Barus mungkin akan memacu DJ-DJ lokal lain untuk lebih banyak bikin lagu dengan featuring penyanyi. Kalau di luar kan tren banget DJ-DJ EDM feat penyanyi pop atau RnB dalam tiga tahun terakhir. Yang menarik di genre hip-hop dan rap adalah Joe Million dan Rand Slam. Keduanya baru rilis album (atau mixtape) hip-hop tahun ini. Kalau untuk pop, Randy Pandugo mungkin bisa jadi idola selanjutnya. Kemarin dia baru rilis single. Tahun depan harusnya album dia rilis.
Dimas Ario (Pengelola blog musik Madahbakti, mantan editor musik di JEUNE Magazine
  
Untuk folk sebenarnya terasa begitu-begitu saja, euy. Makanya Bin Idris jadi terasa segar karena ada kedalaman ketika mengolah folk. Sama-sama pakai gitar doang, tapi jatuhnya enggak klise. Dia memainkan gospel-bluesy-indie-folk. Tapi bukan tipe blues ngebut. Terus kerasa juga Americana-nya. Oplosan ala Bin Idris ini jarang kutemui di kancah musik Indonesia. Folk-folk belakangan ini jadi lebih mirip ke pop akustik sebenarnya, enggak ada yang cukup menggigit. Untuk tahun depan aku menunggu Zeke Khaseli. Dia, kan, sekarang tinggal di Amerika Serikat. Aku kok berharap dia bikin musik di sana dan bisa merilis materi baru.
— Budi Warsito, pustakawan Kineruku, Bandung
 
Untuk tahun depan, prediksiku akan banyak konser tunggal. Tahun ini, kan, sudah mulai banyak. Dari Efek Rumah Kaca hingga yang terbaru Senyawa. Mungkin ini didorong oleh harga sewa gedung Taman Ismail Marzuki dan Gedung Kesenian Jakarta yang makin murah. Yang jelas ada usaha untuk membuat produksi konser jadi lebih serius. Misalkan saja, Silampukau berani bikin konser tunggal di Surabaya (juga Jakarta). Sedangkan untuk festival musik, sepertinya masih pemain-pemain lama yang main.

Untuk rilisan tahun depan, saya menunggu Barasuara. Mereka harus bertanggung jawab supaya tak jadi one hit wonder. Album kedua akan menjadi penentuan buat mereka. Seperti ERK, yang berhasil di album kedua. Karena itu, meski album ketiga mereka lebih rumit, tidak ada yang protes.

Untuk musik pop, sepertinya Tulus, Raisa, Isyana dan kawan-kawan masih akan mendominasi. Karena sepanjang tahun kemarin tidak ada yang menonjol selain mereka. Oh ya, saya juga masih menunggu rilisan band-nya Anto "Antruefunk", 70's Orgasm Club. Hehe.
Fakhri Zakaria, penulis musik dan pengasuh blog Masjaki

Tahun depan saya enggak punya harapan banyak. Saya rasa sih akan ada pengulangan-pengulangan dari tahun ini. Tidak akan ada perubahan yang radikal tahun depan. Tapi pertunjukan Senyawa kemarin mungkin akan menciptakan tren baru, bahwa musik sulit, avant-garde, bakal semakin diterima. Versi lebih ringan dari Senyawa, yakni The Trees and the Wild dengan post-rock-nya terbukti jadi sensasi baru di kancah musik.

Untuk tahun depan, saya sedang mencari musik noise dan drone yang "layak" dan menarik. Ada beberapa kandidat yang menarik untuk dirilis kecil-kecilan. Kami juga terlibat pembicaraan dengan Filastine, dan sedikit proyek re-issue dengan Grimloc. Secara pribadi, saya ingin rilis free jazz lokal, kalau ada. Atau gamelan Jawa.
— Taufiq Rahman, penulis musik, co-founder Jakartabeat, dan pendiri label Elevation Records

Baca juga artikel terkait MUSISI INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - nrn/fhr)

Laporan 1: Para Jagoan Super yang Menjanjikan Pada 2017
Laporan 2: Gim Konsol yang Layak kamu Tunggu Tahun 2017
Laporan 3: Pop Biasa saja, Folk Makin Asyik
Laporan 4: Buku-buku Menarik yang (Mungkin) Terbit pada 2017

Keyword