tirto.id - Wakil Perdana Menteri (PM) Singapura, Gan Kim Yong, bersama Menteri Dalam Negeri, K. Shanmugam, serta Menteri Keberlanjutan serta Lingkungan Hidup, Grace Fu, memanggil perwakilan dari 10 perusahaan terkait kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang memicu kabut asap lintas batas.
Pertemuan dilangsungkan secara tertutup di di gedung The Treasury, Rabu (28/10/2026). Franky Oesman Widjaja dan Ciliandra Fangiono dengan delapan wakil perusahaan lainnya telah menerima surat pemberitahuan dari Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) pada 23 Oktober lalu.
Dalam pertemuan itu, Shanmugam menegaskan, pemerintah menuntut adanya transparansi dari pihak perusahaan. Ia Mengacu pada Pasal 10 Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act/THPA), yang mewajibkan perusahaan membuka informasi soal keterkaitan mereka dengan entitas di Indonesia yang memicu kabut asap.
"Saya akan mengatakan ini dengan lugas, ketidakpatuhan terhadap Pasal 10 adalah sebuah pelanggaran. Ini bukan permintaan informasi rutin. Kami mengharapkan perusahaan Anda merespons secara penuh, akurat, dan cepat," tegas Shanmugam dalam pertemuan tersebut, dikutip dari The Straits Times, Rabu (28/10/2026).
Sebagai langkah penguatan hukum, Shanmugam mengungkapkan, Singapura akan mengajukan revisi THPA saat parlemen bersidang pada 3 November mendatang.
Amandemen ini akan memberi wewenang baru bagi NEA untuk mewajibkan perusahaan terkait kabut asap memberikan akses penuh kepada investigator, mencakup informasi, dokumen korporasi, rantai pasok, hingga lokasi bisnis.
Usai pertemuan, Shanmugam menyebutkan kesepuluh perusahaan telah berkomitmen untuk bekerja sama penuh dan penyelidikan akan dilakukan secara objektif sesuai fakta.
"Kami menyampaikan kepada mereka tujuan dari langkah ini bukan untuk mencari kambing hitam. Pemerintah Singapura akan melakukan apa yang benar. Kami perlu memastikan perusahaan-perusahaan di sini menjalankan operasional mereka dengan cara yang tidak berdampak pada Singapura atau kawasan ini," ujar Shanmugam.
Senada, Grace Fu, menekankan langkah pemerintah tidak akan berhenti meski kualitas udara mulai membaik.
"Warga Singapura tidak seharusnya menanggung biaya kesehatan dan lingkungan akibat perilaku bisnis yang tidak bertanggung jawab. Meskipun kondisi kabut asap membaik, kami tidak akan mengendur," kata Fu, dikutip dari The Straits Times.
Berikut daftar perwakilan yang datang dalam pertemuan tersebut:
- Golden Agri Resources diwakili oleh Chairman dan CEO, Franky Oesman Widjaja;
- First Resources diwakili CEO dan Direktur Eksekutif, Ciliandra Fangiono;
- Bumitama Agri diwakili CEO dan Executive Chairman, Lim Gunawan Hariyanto;
- Kencana Agri diwakili CEO dan Direktur Eksekutif, Albert Maknawi;
- CEO Indofood Agri Resources, Mark Wakeford,
- Chairman dan CEO Wilmar International, Kuok Khoon Hong;
- Penasihat Senior Grup Sinar Mas, Bernard Tan, yang mewakili dua entitas yakni Asia Pulp & Paper (APP) Company serta APP Company (China),
- Chairman TSH Resources, Kelvin Tan Aik Pen, yang mewakili TSH Global Plantation serta TSH Oversea.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































