Plt Sekjen PSSI: Liga 1 2020 Tanpa Degradasi Tak Langgar Statuta

Oleh: Hendi Abdurahman - 11 Juni 2020
Dibaca Normal 1 menit
Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi, mengatakan jika Liga 1 2020 tak ada degradasi, hal tersebut tidak melanggar statuta.
tirto.id - Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi, mengatakan bahwa kompetisi Liga 1 2020 bakal berlanjut dengan kemungkinan tak ada degradasi. Menurutnya, hal tersebut tidak melanggar statuta PSSI sebagaimana yang dilontarkan oleh beberapa pihak.

“Kami telah melakukan diskusi dengan beberapa Exco [anggota Komite Eksekutif PSSI] terkait legalitas peniadaan degradasi. PSSI secara organisator berpandangan bahwa Pasal 23 Statuta PSSI terbaru [2019] tidak mengatur tentang ketentuan degradasi,” ucap Yunus Nusi, seperti dikutip laman resmi PSSI, Kamis (11/6/2020).

“Bahkan secara keseluruhan tidak ada pasal-pasal dalam statuta PSSI yang mengatur ada tidaknya degradasi sebagai akibat dari pemeringkatan atau ranking hasil akhir pertandingan. Satu-satunya ketentuan degradasi dalam statuta PSSI diatur dalam pasal 63 tentang sanksi disiplin, dan bukan hasil pemeringkatan skor akhir,” tambahnya.

Andai keputusan tersebut benar-benar dipilih, artinya peserta Liga 1 musim depan bakal menjadi 20 klub dari sebelumnya 18 klub. Pasalnya, dua tim dari Liga 2 musim ini -yang juga diwacanakan berlanjut- dipastikan promosi ke Liga 1.

Salah satu pihak yang tidak menyetujui peniadaan degradasi Liga 1 2020 adalah anggota Exco PSSI, Hasani Abdulgani. Pendapat mantan Komisaris PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) itu mengacu pada Pasal 23 Statuta PSSI yang menyatakan adanya 18 perwakilan klub peserta Liga 1.

Namun menurut Yunus Nusi, satu-satunya permasalahan terdapat pada ketentuan regulasi Liga 1 terutama menyangkut ketentuan degradasi yang tertuang dalam Pasal 9 Ayat 6 pada penetapan PT LIB. Namun, hal itu dapat disesuaikan tanpa melanggar statuta PSSI.

“Adapun ketika kongres hendak diselenggarakan ketika musim kompetisi dengan peserta Liga 1 lebih dari 18 sudah digelar, maka harus dipahami Pasal 23 Statuta PSSI secara teleologis [sosiologis] dan historis dibuat ketika masyarakat/komunitas/penyelenggara, pelaku dan penonton bola menikmati kondisi normal tanpa pandemi COVID-19," bebernya.

“Sedangkan secara logis sistematis Pasal 23 ayat [1] huruf b, c, dan seterusnya dengan menyebut angka dimaksudkan sebagai seluruh peserta liga dan secara komparatif angka 18 pada statuta muncul ketika pesertanya 18 sehingga apabila pesertanya 20, maka peserta kongres akan menjadi 20."

“Serta secara futuristik dan ekstensif juga, faktanya saat ini liga membutuhkan aturan tanpa degradasi sehingga menyebabkan liga 1 lebih dari 18 sebagai bentuk keadilan kompetisi,” papar Yunus Nusi.


Respons Pemain Liga 1

Tanggapan terkait wacana tanpa degradasi ini diutarakan oleh para pemain dari beberapa klub di Liga 1. Kapten TIRA-Persikabo, Manahati Lestusen, misalnya, menganggap meski tak ada degradasi, motivasi para pemain akan tetap terjaga.

Pemain Timnas Indonesia ini menambahkan, semangat pemain akan tetap tinggi lantaran pada dasarnya, mereka bekerja untuk keluarga sehingga akan mengeluarkan kemampuan terbaik.

Akan tetapi, di sisi lain, Manahati juga mengakui bahwa tak ada degradasi akan mengurangi tekanan kepada pemain, pelatih, bahkan kepada klub.

Pendapat berbeda disampaikan bek Persija Jakarta, Otavio Dutra. Ia mengatakan tidak terlalu memikirkan mengenai adanya aturan tanpa degradasi yang menjadi polemik. Dutra lebih fokus pada kesiapan dan keberlangsungan kompetisi.

“Saya tidak mau berbicara banyak soal peraturan ini [tidak ada degradasi di Liga 1], yang terpenting bagi saya kompetisi kembali lagi,” elak pemain naturalisasi Timnas Indonesia kelahiran Brasil ini.

Baca juga artikel terkait LIGA 1 2020 atau tulisan menarik lainnya Hendi Abdurahman
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Hendi Abdurahman
Penulis: Hendi Abdurahman
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight