Perwakilan Massa Demo Soal Sukmawati Dialog dengan Bareskrim

Oleh: Naufal Mamduh - 6 April 2018
Dibaca Normal 1 menit
Perwakilan massa "Aksi Bela Islam" berdialog dengan Bareskrim Polri untuk menyampaikan tuntutannya. Tapi, mereka menolak jika polisi menggelar mediasi bersama Sukmawati.
tirto.id - Ribuan massa mendatangi Gedung Bareskrim Polri, di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, pada Jumat siang (6/4/2018). Aksi demonstrasi itu menuntut polisi untuk menangkap Sukmawati Soekarnoputri karena dinilai telah melecehkan agama Islam melalui puisinya.

Saat aksi itu berlangsung, sejumlah orang perwakilan aksi demonstrasi bertajuk “Aksi Bela Islam” tersebut memasuki kantor Bareskrim Polri pada sekitar Pukul 14.45 WIB. Mereka hendak berdialog dengan Bareskrim Polri.

Di antara perwakilan massa itu ialah Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Slamet Maarif, Eggi Sudjana, Asep Syarifuddin, Abdullah Syafii, Nur Sukma, Dedi Suhardadi dan beberapa perwakilan massa dari Solo.

Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif mengatakan, perwakilan massa “Aksi Bela Islam” itu akan menyampaikan tuntutan agar kepolisian memproses laporan kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Sukmawati.

Meski Sukmawati sudah menyampaikan permintaan maaf, menurut Slamet, penegakan hukum harus tetap dilakukan oleh kepolisian.

"Sebagai sesama muslim, kami telah maafkan tapi biarkan hukum yang menjawab. Tidak ada kata lain selain memprosesnya secara hukum," kata Slamet sebelum memasuki kantor Bareskrim.

Dia menambahkan tidak menginginkan kepolisian menggelar mediasi dengan mempertemukan pihaknya dengan Sukmawati. Jika Sukmawati dihadirkan di pertemuan itu, Slamet menegaskan dia dan rekan-rekannya akan menolak berdialog.

"Kalau ternyata nanti ada ada Sukmawati maka kami delegasi akan langsung keluar. Kita akan keluar dari ruangan," kata Slamet saat berorasi di depan massa.

Ribuan massa itu mulai bergerak menuju kantor Bareskrim Polri dari Masjid Istiqlal usai Salat Jumat. Mereka berangkat berunjuk rasa ke Bareskrim Polri pada sekitar pukul 13.30 WIB.

Demonstrasi itu buntut dari pembacaan puisi berjudul “Ibu Indonesia” oleh Sukmawati. Dia membaca puisi itu di acara peragaan busana "Sekarayu Sriwedari" untuk memperingati 29 tahun perancang Anne Avantie berkarya di Indonesia Fashion Week, 29 Maret lalu.

Usai muncul polemik, Sukmawati menggelar konferensi pers untuk menyampaikan permintaan maaf dan mengklarifikasi bahwa dia tidak berniat menghina Islam, pada Rabu (4/3/2018). Putri proklamator Bung Karno itu juga mendatangi Majelis Ulama Islam (MUI) untuk menyampaikan permintaan maaf.


Baca juga artikel terkait KASUS PENISTAAN AGAMA atau tulisan menarik lainnya Naufal Mamduh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Naufal Mamduh
Penulis: Naufal Mamduh
Editor: Addi M Idhom