Menuju konten utama

Perubahan Sosial Pasca Revolusi Prancis dan Revolusi Industri

Bagaimana perubahan sosial pascarevolusi Prancis dan Revolusi Industri yang membuat lahirnya sosiologi? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Perubahan Sosial Pasca Revolusi Prancis dan Revolusi Industri
Ilustrasi Sosiologi. foto/Istockphoto

tirto.id - Perubahan sosial pasca Revolusi Prancis dan Revolusi Industri menjadi salah satu sebab yang melatarbelakangi lahirnya sosiologi. Hal itu tidak lepas dari pemikiran Auguste Comte yang mencetuskan ilmu tersebut pertama kali.

Kala itu, sosiologi lahir sebagai bidang ilmu dipakai untuk memahami serta mencari solusi masalah akibat transisi besar yang melanda dunia Barat. Salah satunya berupa perubahan masyarakat dari tradisional ke tatanan sosial modern.

Lantas, mengapa Revolusi Prancis berpengaruh penting dalam perkembangan sosiologi? bagaimana peristiwa Revolusi Industri ketika lahirnya sosiologi? Berikut ini penjelasan terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Bagaimana Perubahan Sosial Pasca Revolusi Prancis Dapat Melahirkan Sosiologi?

Revolusi Prancis terjadi pada kurun 1789 hingga 1799 silam. Latar belakang Revolusi Prancis disebabkan beberapa faktor, mulai dari ketidakadilan politik, kekuasaan raja absolut, krisis ekonomi, hingga munculnya paham baru.

Di Prancis masa tersebut, pemegang peranan penting bidang politik ada di tangan kaum bangsawan. Posisi raja, yang kala itu dipimpin Raja Louis XVI, hanya bertugas mengesahkan sesuatu yang telah ditentukan oleh mereka.

Ketidakadilan politik terjadi karena pemilihan pegawai pemerintah didasarkan pada faktor keturunan, bukan keahlian. Akibatnya, administrasi negara menjadi kacau dan digerogoti tindak korupsi.

Di sisi lain, keuangan kerajaan begitu buruk. Sebab, kehidupan raja dan para bangsawan cenderung hedonis dan penuh kemewahan. Padahal, kerajaan sebenarnya mewarisi utang yang sangat banyak dari Raja Louis XIV dan Louis XV.

Kerusakan sistem politik dan ekonomi membuat kalangan filsuf vokal, terutama dalam hal menciptakan teori-teori baru. Di antaranya seperti John Locke, yang mengumandangkan ajaran kedaulatan rakyat; Montesquieu, dengan ide trias politica; serta J.J. Rousseau, yang meyakini bahwa semua manusia punya persamaan hak dan merdeka.

Puncak Revolusi Prancis terjadi pada 14 Juli 1789, ketika rakyat menyerbu dan meruntuhkan penjara Bastille di bawah dukungan Tentara Nasional pimpinan Lafayette. Dalam peristiwa tersebut, Raja Louis XVI melarikan diri ke luar negeri. Rakyat memanfaatkan keadaan itu untuk membentuk pemerintahan baru yang demokratis.

Lantas, apa hubungan Revolusi Prancis dengan sosiologi?

Revolusi Prancis memunculkan berbagai dampak di berbagai bidang, termasuk aspek sosial. Sistem feodalisme, yang meliputi bangsawan, gereja, dan warga Prancis, digantikan dengan sistem baru yang ditentukan berdasarkan spesialisasi kerja seperti cendekiawan, perusahaan, dan petani.

Kendati telah terjadi revolusi, konflik antar-kelas di Prancis masih terjadi. Terbukti Prancis mengalami beberapa kali perubahan pemerintahan, dari Pemerintahan Monarki Konstitusional (1789-1793), Pemerintahan Direktori (1995-1799), Pemerintahan Konsulat (1799-1804), Pemerintahan Kaisar (1804-1815), hingga Pemerintah Reaksioner (sejak 1815).

Auguste Comte melihat bahwa masyarakat Prancis pada abad ke-19 tidak mengetahui cara mengatasi perubahan pasca-revolusi, termasuk hukum yang bisa mengatur tatanan sosial masyarakat baru.

Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut Comte, diperlukan ilmu pengetahuan yang berfokus pada kajian masyarakat. Ilmu yang mempelajari tentang masyarakat itu disebut olehnya dengan istilah sosiologi.

Bagaimana Perubahan Sosial Revolusi Industri Dapat Melahirkan Sosiologi?

Revolusi Industri merupakan perubahan besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, serta teknologi. Hal itu memengaruhi berbagai bidang, mulai dari sosial, ekonomi, hingga budaya.

Revolusi Industri, atau biasa disebut juga Revolusi Industri 1.0, pertama kali terjadi di Inggris pada 1760-1830, ditandai dengan peralihan tenaga hewan dan manusia ke mesin, terutama dalam bidang manufaktur. Dari Inggris, Revolusi Industri menyebar ke seluruh dunia.

Mutiarawati Fajariah dan Djoko Suryo dalam jurnal Sejarah Revolusi Industri di Inggris Pada tahun 1760-1830 menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya revolusi industri di Inggris sebagai berikut:

  1. Pemerintah Britania Raya/Inggris sejak abad ke-18 menjamin keamanan seluruh warganya untuk menjalankan aktivitas perekonomian tanpa rasa takut.
  2. Kegiatan usaha dan manufaktur di Inggris dan Eropa pada umumnya mulai mengalami perkembangan menuju modernisasi dari pola sebelumnya seperti sistem barter. Para pekerja, misalnya, mulai bekerja di tempat khusus (seperti pabrik) untuk memproduksi barang.
  3. Inggris memiliki kekayaan alam yang melimpah, terutama batu bara dan bijih besi.
  4. Ketekunan dan kemauan orang Inggris membuat potensi ini bisa dikembangkan menjadi proses produksi.
  5. Inggris punya banyak daerah jajahan atau wilayah koloni di berbagai belahan dunia.
  6. Terjadinya Revolusi Agraria yang perubahannya amat dirasakan oleh masyarakat Inggris dan menjadi salah satu pemicu lahirnya Revolusi Industri di kemudian hari.
  7. Mulai lahirnya paham ekonomi yang bersifat liberal atau menuju perdagangan bebas di era globalisasi.
  8. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup pesat di Inggris.
Dalam bidang sosiologi, Revolusi Industri mengakibatkan banyak perubahan. Salah satunya adalah perpindahan masyarakat dari desa ke kota yang sangat masif. Para petani beralih menjadi buruh pabrik di kota, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk. Beberapa dampak sosial lain di antaranya adalah:

  • Para buruh hidup di tempat yang kumuh dan kotor
  • Buruk menjadi objek pemerasan majikan dalam pekerjaan
  • Buruh bekerja 12 jam dalam sehari tetapi tetap miskin
  • Kemiskinan berbanding lurus dengan meningkatnya kejahatan
  • Pengangguran
  • Wanita dan anak ikut bekerja
  • Kurangnya jaminan kesejahteraan buruh
Dampak Revolusi Industri, terutama dalam aspek sosial, membuat ilmu sosiologi kian relevan dan berevolusi.

Revolusi Industri, yang terjadi pertama kali di Inggris, serta Revolusi Prancis, telah membuat banyak perubahan dalam perilaku masyarakat. Beragam fenomena tersebut kemudian mengilhami Auguste Comte menciptakan teori sosiologi yang terkenal, yakni positivisme, melalui buku Cours De Philosophie Positive (1838).

Ia mengadopsi gagasan kemajuan sejarah. Ia menghargai perlunya ilmu sosial yang mendasar sehingga menyatukan organisasi sosial yang ada, serta memandu perencanaan sosial untuk masa depan yang lebih baik.

Tulisannya ditelaah dan dipelajari di seluruh Eropa, termasuk Inggris, yang kala itu mengalami perubahan besar Revolusi Industri. Banyak intelektual Inggris dipengaruhi olehnya, yang kemudian menerjemahkan dan menyebarkan bukunya.

Metodologi sosiologi selanjutnya dikembangkan Emile Durkheim dalam Rules of Sociological Method (1895). Karya ini juga yang membuat Durkheim dikenal sebagai Bapak Sosiologi Modern, sedangkan Comte dijuluki Bapak Sosiologi.

Baca juga artikel terkait SOSIOLOGI atau tulisan lainnya dari Syamsul Dwi Maarif

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Fadli Nasrudin