Pertemuan OPEC Alot, Harga Minyak Dunia Anjlok Hingga 20 Persen

Oleh: Hendra Friana - 9 Maret 2020
Dibaca Normal 1 menit
Harga minyak anjlok lantaran pertemuan OPEC dan aliansinya berlangsung alot.
tirto.id - Harga minyak dunia anjlok setelah pertemuan negara-negara anggota OPEC dan aliansinya, dikenal sebagai OPEC+, berlangsung alot dan tak menghasilkan kesepakatan. Pertemuan itu bahkan berujung perselisihan antara Arab Saudi dan Rusia.

Hal tersebut lantaran Rusia menolak keras rencan pengurangan produksi OPEC untuk menstabilkan harga di tengah ancaman perlambatan ekonomi akibat coronavirus, berbalik arah dari sebelumnya mendukung.

OPEC sendiri hingga saat ini telah memotong produksi hingga 2,1 juta barel per hari (bph) dan berencana mengusulkan pengurangan baru 1,5 juta bph diperpanjang hingga akhir tahun.

Sementara Arab Saudi menyatakan bakal memangkas harga jual resminya (OSP) dan meningkatkan produksi minyak mentah secara signifikan.

Dilansir Reuters, Arab Saudi berencana memproduksi minyak mentah di atas 10 juta barel per hari (bph) pada April mendatang dengan harga minyak ke semua negara tujuan mulai dari 6 dolar hingga 8 dolar per barel.

Para ahli menyebut langkah yang dilakukan Arab Saudi itu akan memicu perang harga habis-habisan di antara negara-negara penghasil minyak.

Akhir pekan lalu, harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup di angka 41,28 dolar AS per barel atau turun 10,1 persen dari 4,62 dolar AS--terendah sejak 2016. Sementara harga minyak brent juga turun menjadi 45,27 dolar AS per barel atau turun lebih dari 9 persen.

Pada pukul 18.34 Eastern Daylight Time (EDT) atau pukul 05.34 WIB Senin (9/3/2020), harga minyak WTI kembali turun sebesar 8,99 dolar, atau 21,8 persen, menjadi 32,29 dolar per barel.

Sementara minyak brent berjangka turun 9,95 dolar atau 22 persen menjadi 35,32 dolar per barel.

Di awal sesi, kedua kontrak turun ke level terendah sejak Februari 2016, dengan Brent turun ke 31,02 dolar per barel dan WTI di 30 dolar per barel.

Hal ini membuat Brent dan WTI mengalami persentase penurunan harian terbesar kedua sepanjang sejarah, setelah Januari 1991 di mana Brent dan WTI anjlok hingga lebih dari 30 persen.

Ali Khedery, mantan penasihat senior Timur Tengah Exxon mengatakan harga minyak bisa menyentuh 20 dolar AS.

“Implikasi geopolitik yang sangat besar. Stimulus tepat waktu untuk konsumen bersih. Bencana untuk gagal/gagal petro-kleptocracies Irak, Iran, dll - dapat membuktikan pukulan eksistensial 1-2 ketika dipasangkan dengan COVID19," tulis Ali melalui akun resminya di twitter.


Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Hendra Friana
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight