Menuju konten utama

Pertarungan Merebut Suara Milenial di Pundak Jokowi vs Sandiaga

Riset Lingkar Survei Indonesia (LSI) menyebut pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih diminati milenial ketimbang Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Meski begitu Sandi tetap omtimis.

Pertarungan Merebut Suara Milenial di Pundak Jokowi vs Sandiaga
Bakal calon wakil presiden Pilpres 2019 Sandiaga Uno (kanan) tiba untuk menjalani tes kesehatan di RSPAD, Jakarta, Senin (13/8/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

tirto.id - Ma'ruf Amin telah berusia 75 tahun, jelas tak bisa dikategorikan anak muda. Tapi dengan percaya diri Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) menyebut Ma'ruf adalah sosok "milenial" pada awal Agustus lalu.

Menurutnya milenial bukan perkara umur, tapi juga "perbuatan dan sikap."

Pernyataan OSO boleh saja dianggap gimik politik. Tapi penelitian terakhir memperkuat pernyataan OSO. Riset Lingkar Survei Indonesia (LSI) menyebut pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih diminati milenial ketimbang Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dalam survei yang dilakukan pada 12-19 Agustus dengan melibatkan 1.200 responden itu LSI menyebut tingkat kedipilihan Prabowo-Sandiaga dari milenial (17-39 tahun) sebesar 29,5 persen, sementara pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin 52,7 persen.

Meski kalah, Sandiaga mengaku tetap optimis bisa memenangkan pertarungan pada pemilu mendatang. Sebabnya, kata Sandi, tingkat kedipilihannya sekarang lebih besar ketimbang saat maju sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta.

"Justru tinggi sekali [tingkat kedipilihan] buat saya. Waktu saya awal-awal di DKI nol koma itu. Jadi terima kasih LSI. Kami malah tambah semangat," kata Sandi usai salat Idul Adha di Jatinegara, Jakarta Timur, pagi tadi (22/8/2018).

Angka ini masih sangat mungkin untuk diubah dalam waktu tujuh bulan ke depan, kata Sandi, optimis. Karena itulah, katanya, "[survei] itu akan memacu semangat kami" termasuk juga untuk meyakinkan pemilih milenial.

Peluang Sandi Memang Terbuka

Pengamat politik Yunarto Wijaya mengatakan pertarungan memperebutkan suara milenial memang ada pada sosok Jokowi dan Sandi, bukan Prabowo apalagi Ma'ruf. Prabowo dianggap terlalu sering membicarakan hal-hal besar, topik yang tak disuka milenial. Sementara Ma'ruf terlampau tua.

"Sandi dan Jokowi ada di wilayah itu. Jokowi berusaha mendekati komunitas milenial, seperti [komunitas] sepeda motornya, dengan berolahraga, menggunakan sneakers... Sedangkan Sandi, dia memiliki beberapa atribut seperti kemampuan enterpreneur, usianya juga masih muda, dia juga seorang runner. Mereka punya modal untuk bisa masuk," kata Yunarto.

Menanggapi hasil riset itu, Peneliti The Political Literacy Adi Prayitno mengatakan bahwa keunggulan Jokowi dalam menggaet suara milenial wajar belaka. Sebab apa pun yang dilakukannya sepanjang empat tahun belakangan adalah bagian dari kinerja sekaligus memoles citra di mata calon pemilih.

"Jokowi sudah all out menggarap semua segmen selama empat tahun ini. Sedangkan Sandi masih sebatas jargon," kata Adi saat dihubungi Tirto, Rabu (22/8/2018).

Meski begitu Adi memperkirakan Prabowo-Sandiaga masih dapat menyalip Jokowi-Ma'ruf di lintasan pemilih milenial. Faktor penentunya pada pasangan Jokowi sendiri. Adi menilai Ma'ruf Amin justru punya andil menggerus tingkat kedipilihan Jokowi pada segmen tersebut.

Namun kemungkinan ini juga sedikit banyak bakal dipengaruhi dengan apa yang bakal dilakukan Sandi ke depan, terutama ketika kampanye nanti.

"Akan beda ceritanya nanti jika Sandi memulai kampanye dengan ciri khasnya sebagai generasi milenial," tutup Adi.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Politik
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Hendra Friana
Editor: Rio Apinino