Periksa Data

Perempuan Memilih Biologi dan Farmasi, Laki-Laki Condong ke Fisika

Oleh: Irma Garnesia - 21 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Perempuan Indonesia lebih banyak yang mengisi bidang sains teknologi ketimbang perempuan di negara-negara Eropa Utara.
tirto.id - Saat ini, seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tengah berlangsung. Untuk periode 2014-2019, pemerintah melakukan investasi melalui LPDP dengan memberikan beasiswa kepada sekitar 27 ribu mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.

Pada 2018 ini, LPDP akan berfokus memberikan beasiswa di bidang sains dan teknologi. "Hal tersebut sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo untuk mendorong pembangunan nasional di bidang sains dan teknologi," jelas Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir.

Bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) seringkali diasosiasikan dengan kelaki-lakian dan maskulinitas. Secara global, perempuan memang belum terepresentasikan dengan baik dalam seluruh bidang STEM. Meskipun banyak yang memiliki minat tinggi dalam bidang life science atau biologi, persentase perempuan pada ilmu komputer dan fisika masih rendah.


Banyak Perempuan Lulusan STEM di Negeri-Negeri Muslim

Studi yang dilakukan oleh Jeff Sossamon dari University of Missouri yang berjudul "The Gender-Equality Paradox in Science, Technology, Engineering, and Mathematics Education" (2018) menemukan data yang menarik. Ternyata, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dengan skor kesetaraan gender rendah seperti Turki dan Aljazair memiliki lebih banyak lulusan perempuan di bidang STEM dibanding Finlandia, Norwegia, dan Swedia yang sering dianggap menerapkan prinsip kesetaraan gender. Indonesia juga boleh berbangga, karena studi ini menemukan bahwa lulusan STEM perempuan di negara kita lebih banyak, meski skor kesetaraan gender belum setinggi negara-negara Eropa Utara tersebut.

Pemerintah Indonesia juga terus berupaya memberikan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan. Upaya tersebut meliputi akses yang setara dalam pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Pendidikan Tinggi.

Perempuan Indonesia sudah terepresentasikan dengan baik di jenjang pendidikan tinggi, yang ditunjukkan jumlah nasional mahasiswa perempuan yang lebih banyak dibanding laki-laki. Dikti mencatat jumlah mahasiswa aktif perempuan pada 2018 adalah 3.077.254 siswa, lebih banyak sekitar 440 ribu siswa dibanding mahasiswa laki-laki yang berjumlah 2.636.495 siswa.

Persentase perempuan pada pendidikan tinggi juga dibuktikan dengan peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) di perguruan tinggi. Terjadi peningkatan APK perempuan mulai 2011 dan sejak 2012, angkanya mendominasi laki-laki. Pada 2016 sendiri terlihat perbedaan yang signifikan antara APK perempuan di perguruan tinggi dibanding laki-laki. Peningkatan ini merupakan kemajuan dalam pengurangan kesenjangan gender di bidang pendidikan. Meskipun masih menghadapi banyak tantangan, pengarusutamaan gender dalam pendidikan tinggi terlihat mengalami peningkatan.

Infografik Periksa Data Masa Depan Perempuan Indonesia Dalam STEM


Representasi perempuan yang baik pada pendidikan tinggi juga terlihat pada pendaftaran mahasiswa baru 2017 di lima universitas favorit versi Quacquarelli Symonds (QS). Jumlah mahasiswa baru perempuan mendominasi di empat kampus favorit, yaitu Universitas Gajah Mada (UGM, Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Hanya Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mahasiswa laki-lakinya mendominasi perempuan, sebanyak 1.894 siswa.

Infografik Periksa Data Masa Depan Perempuan Indonesia Dalam STEM


Meskipun jumlah mahasiswa perempuan tidak begitu mendominasi di jurusan teknik, seperti terlihat di ITB, tapi laporan Unesco 2015 (PDF) menemukan bahwa perempuan Indonesia terwakili dengan baik dalam beberapa bidang pendidikan STEM. Perempuan Indonesia cenderung menyukai disiplin ilmu farmasi dan biologi, serta menjadi mayoritas pada bidang kedokteran, kimia, dan matematika.

Persentase paling kecil ditemukan pada bidang fisika, direpresentasikan oleh 38,90 persen perempuan, sementara persentase laki-laki mencapai 61,10 persen. Unesco juga menjelaskan bahwa kesukaan perempuan di bidang kedokteran, kimia, dan farmasi ada hubungannya dengan konstruksi sosial, pengaruh orangtua, dan asosiasi gender pada lapangan kerja. Bidang kerja fisika dan teknik terasosiasi dengan laki-laki.

Infografik Periksa Data Masa Depan Perempuan Indonesia Dalam STEM


Temuan ini pun mengafirmasi laporan PISA 2015 (PDF): 22 persen perempuan Indonesia ingin berkarier di bidang sains, sementara laki-laki hanya hanya 9 persen. Sebanyak 9 dari 10 perempuan yang ingin berkarier di bidang sains pun spesifik ingin berkarier di bidang kesehatan dan menjadi dokter umum, dokter hewan, atau perawat (tenaga kesehatan profesional).

Di seluruh negara yang diteliti PISA, perempuan memang cenderung menyukai bidang kesehatan, sementara laki-laki lebih menginginkan profesi di bidang Information, Communication, and Technology (ICT), ilmuwan, dan keinsinyuran. Rata-rata di negara-negara OECD, hanya 0,40 persen perempuan yang ingin bekerja di bidang ICT, dibandingkan laki-laki yang persentasenya mencapai 4,7 persen.


Banyak Perempuan Jadi Sarjana Sains

Unesco Science Report Towards 2030 (PDF) juga menggarisbawahi partisipasi perempuan dalam sains secara global. Unesco menemukan bahwa perempuan mendominasi laki-laki pada jenjang pendidikan sarjana dan pascasarjana bidang sains, persentase keduanya mencapai 53 persen.

Namun, angka tersebut menurun drastis pada jenjang doktoral menjadi 43 persen. Akhirnya hanya 28 persen perempuan yang melanjutkan menjadi peneliti di bidang sains secara global, persentase yang sangat kecil dibanding laki-laki yang mencapai 72 persen.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Fenomena serupa juga ditemukan di negara kita di mana persentase perempuan yang menempuh pendidikan sarjana di bidang sains melebihi laki-laki, tapi pada jenjang doktoral jumlahnya semakin menipis. Perbedaan persentase antara mahasiswa doktoral laki-laki dan perempuan juga berbeda jauh, 64 persen berbanding 36 persen. Gap tersebut terus berlanjut di dunia riset dan penelitian: perempuan menjadi minoritas pada seluruh sektor penelitian. Sektor penelitian swasta, misalnya, didominasi oleh 82 persen laki-laki.

Infografik Periksa Data Masa Depan Perempuan Indonesia Dalam STEM


Pentingnya Hak yang Sama di Tempat Kerja

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, perempuan secara global dan di Indonesia mendominasi laki-laki di tingkat pendidikan tinggi, yaitu sarjana. Sayangnya, dominasi tersebut mulai menyusut pada jenjang pascasarjana, dan pada akhirnya jenjang doktoral.

Tenaga profesional STEM juga masih banyak didominasi laki-laki, baik secara global maupun nasional. Laporan OECD yang berjudul "Implementation of the OECD Gender Recommendations" (PDF) menyampaikan bahwa stereotip maskulinitas yang melekat pada STEM dan budaya patriarki pada generasi yang lebih tua, seperti pengekalan kodrat perempuan sebagai pengurus keluarga, menyebabkan minimnya representasi perempuan di bidang ini.

Menanggapi hal ini, OECD merekomendasikan agar kesetaraan gender, khususnya dalam pernikahan dan parenting, lebih diperdengarkan. Pemberian cuti melahirkan atau parental leave yang setara antara perempuan dan laki-laki seperti yang diberlakukan di negara-negara Skandinavia dan Perancis merupakan suatu kemajuan. Selain itu, mengurangi keajegan pemilihan karir bagi anak perempuan dan laki-laki juga dapat mengurangi gender gap antara perempuan dan laki-laki di bidang STEM. Tidak ada yang salah dengan perempuan yang bercita-cita menjadi arsitek dan laki-laki yang ingin menjadi perawat.

Bagi Indonesia, kita perlu mengurangi pemberian stigma bahwa perempuan hanya cocok pada bidang pendidikan tertentu. Memang butuh waktu lama untuk melampaui mitos gender di masyarakat. Namun, partisipasi perempuan Indonesia di bidang STEM perlu ditingkatkan sebab pemerintah telah berkomitmen terhadap pemerataan akses dan kualitas pendidikan bagi setiap anak Indonesia.

Hal ini juga sejalan dengan program pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yang tentunya tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Lagi pula, mencapai kesetaraan gender adalah cita-cita bangsa Indonesia sejak lama, kesetaraan dalam bidang STEM juga merupakan bagian dari cita-cita tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight