Menuju konten utama

Perbedaan Kota Monosentris, Polisentris, dan Metropolitan

Klasifikasi kota berdasarkan keberadaan pusat pelayanan terbagi atas tiga jenis yakni monosentris, polisentris, dan metropolitan. Berikut perbedaannya.

Perbedaan Kota Monosentris, Polisentris, dan Metropolitan
Suasana deretan permukiman dan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (25/5/2021). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/hp.

tirto.id - Kota adalah wilayah dengan aktivitas ekonomi non-agraris, fasilitas publik lengkap, serta jumlah penduduk lebih besar daripada desa.

Kota bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis, berdasarkan ekonomi, jumlah populasi, pusat pelayanan, serta tahap perkembangannya.

Berdasarkan pusat pelayanan, kota terdiri atas tiga jenis yakni monosentris, polisentris, dan metropolitan.

Namun, sebelum beranjak ke pembahasan perbedaan kota monosentris, polisentris, dan metropolitan, akan lebih baik jika memahami definisi secara lebih mendalam.

Pengertian Kota menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pengertian kota menurut para ahli:

1. Pengertian kota menurut Bintarto

Pengertian kota menurut Bintarto termuat dalam buku Interaksi Desa Kota dan Permasalahannya (1989). Bahwa kota adalah sebuah sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk tinggi dan strata sosial ekonomi heterogen dengan corak yang materialistis.

2. Pengertian kota menurut Harris dan Ullman

Pengertian kota juga diungkapkan oleh Chauncy Harris dan Edward Ullman melalui jurnal berjudul "The Nature of Cities" (1945). Kota adalah pusat untuk permukiman dan pemanfaatan ruang bumi yang dilakukan oleh manusia secara unggul. Dicirikan dengan pertumbuhan wilayah yang cepat dan luas.

3. Pengertian kota menurut Weber

Menurut Maximilian Weber atau biasa dikenal dengan Max Weber dalam bukunya, The City (1921), kota adalah daerah tempat tinggal yang dicirikan dengan kemampuan masyarakatnya untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal.

Apa Saja Klasifikasi Kota?

Seperti dijelaskan sebelumnya, klasifikasi kota bisa dibedakan berdasarkan ekonomi, keberadaan pusat pelayanan, tahap perkembangan, dan jumlah penduduk. Perbedaannya bisa dilihat salah satunya melalui struktur keruangan kota bersangkutan.

Sinulingga dalam buku Elemen-elemen Pembentuk Struktur (2005) mengklasifikasikan kota berdasarkan keberadaan pusat pelayanan (retail) menjadi tiga, meliputi:

1. Kota Monosentris

Pengertian kota monosentris adalah kota yang belum berkembang, jumlah penduduknya tidak banyak, dan hanya punya satu pusat pelayanan. Pusat pelayanan itu sekaligus berperan sebagai Central Business District (CBD). Ibu kota kecamatan menjadi contoh kota monosentris.

2. Kota Polisentris

Pengertian kota polisentris adalah kota berkembang yang memiliki pusat pelayanan lebih dari satu. Pusat pelayanan di kota polisentris mengikuti jumlah penduduk yang berdomisili atau tinggal. Kota-kota di daerah dan ibu kota kabupaten adalah contoh kota polisentris.

3. Kota Metropolitan

Pengertian kota metropolitan adalah kota besar yang dikelilingi kota-kota penyangga, dan terpisah cukup jauh dengan daerah peralihan--daerah yang beralih dari penggunaan lahan agraris ke non-agraris. Kendati berjarak cukup jauh, semua wilayah kota metropolitan membentuk satu kesatuan sistem dalam pelayanan penduduk. Contoh kota metropolitan adalah Jakarta.

Perbedaan Kota Monosentris, Polisentris, dan Metropolitan

Perbedaan kota monosentris, polisentris, dan metropolitan di antaranya perkembangan kota, jumlah pusat pelayanan, tata ruang kota, jumlah penduduk, mobilitas dalam perkotaan, serta polusi udara yang ditimbulkan.

Berikut ini perbedaan kota kota monosentris, polisentris, dan metropolitan:

Indikator PerbedaanKota MonosentrisKota PolisentrisKota Metropolitan
PerkembanganBelum berkembangTelah berkembangSangat berkembang
Pusat pelayanan atau retailHanya ada satu pusat pelayanan, yang sekaligus menjadi Central Business District.Pusat pelayanan lebih dari satu mengikuti jumlah penduduk.Pusat pelayanan sangat banyak
Jumlah pendudukPenduduk belum banyakPenduduk banyakJumlah penduduk sangat banyak sekurang-kurangnya 1 juta jiwa.
MobilitasMobilitas tidak terlalu padat karena jumlah kendaraan cenderung sedikit.

Mobilitas kendaraan cukup padat dan ramai karena jumlah kendaraan lebih banyak.

Mobilitas kendaraan dan perkotaan cenderung riuh dan padat. Jumlah kendaraan sangat banyak

Tata ruang kotaStruktur ruang kota monosentris cenderung terpusat sehingga rata-rata perjalanannya lebih pendek atau singkat.Struktur ruang yang tidak terpusat membuat perjalanan cukup panjang.Struktur ruang sudah jauh lebih kompleks.
PolusiTingkat polusi udara rendah karena jarak tempuh pendek.Tingkat polusi udara yang dihasilkan juga semakin tinggi dan semakin merusak lingkungan.Tingkat polusi udara sangat tinggi, karena mobilitas memakan jarak sangat jauh.

Contoh Kota Monosentris, Polisentris, dan Metropolitan

Terdapat beberapa kota di Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai kota monosentris, polisentris, dan metropolitan. Akan tetapi, pada dasarnya, tidak ada kota yang 100 persen monosentris. Begitu juga tidak ada yang 100 persen polisentris.

Berikut contoh kota polisentris, monosentris, dan metropolitan:

1. Contoh kota monosentris di Indonesia

  • Wonogiri
  • Trenggalek
  • Pacitan
  • Tuban
  • Klungkung
  • Bantaeng

2. Contoh kota polisentris di Indonesia

  • Probolinggo
  • Jember
  • Gresik
  • Bitung
  • Depok

3. Contoh kota metropolitan di Indonesia

  • Jakarta
  • Surabaya
  • Bandung
  • Semarang
  • Palembang
  • Medan
  • Makassar
  • Denpasar

Baca juga artikel terkait GEOGRAFI atau tulisan lainnya dari Syamsul Dwi Maarif

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Fadli Nasrudin