Perang Peramban: Ketika Google Chrome Mengancam Windows

Oleh: Ahmad Zaenudin - 18 November 2021
Dibaca Normal 2 menit
Merasa tak aman menggantungkan diri pada Internet Explorer dan Firefox, Google menciptakan browser baru: Chrome.
tirto.id - Pada 1 April 2004, bertepatan dengan perayaan April Mop, Google merilis layanan email berbasis web bernama Gmail. Menawarkan penyimpanan sebesar 1 gigabyte, alias jauh lebih besar dibandingkan pelbagai email manapun yang kala itu hanya mentok di angka 100 megabyte, masyarakat internet menyangsikan produk baru ini. Menganggap Gmail hanya sebatas guyonan.

Tak disangka, di hari saat masyarakat diizinkan untuk berbohong itu, Google sedang tidak bergurau. Mereka sungguh-sungguh menghadirkan Gmail, produk yang akhirnya sukses merevolusi bagaimana manusia berkirim pesan. Kiwari, Gmail digunakan lebih dari 1,8 miliar orang di seluruh dunia, dan mesin utama 293,6 miliar email yang dikirim penduduk maya setiap hari.

Di hari yang sama, Google sebetulnya tidak hanya merilis Gmail sebagai senjata baru menguasai dunia maya. Terlahir 26 tahun sebelum Larry Page dan Sergey Brin sepakat membentuk Google, senjata baru selain Gmail itu adalah Sundar Pichai, alumni Indian Institute of Technology (IIT) Kharagpur angkatan 1989 yang diterima sebagai karyawan baru Google. Ia menjadi Produk Manager yang mengurusi layanan-layanan "kelas kedua" seperti iGoogle--semacam add-on (aplikasi tambahan/sampingan) yang dapat mengubah laman kosong (blank page) pada browser menampilkan shortcut layanan-layanan Google.

Pichai terus bertransformasi hingga akhirnya didaulat mengurusi layanan-layanan "kelas satu" seperti Google Search atas kinerjanya yang apik. Namun, menurut Jagmohan S. Bhanver dalam Pichai: The Future of Google (2016), bertranformasinya Pichai sebagai aset utama Google bermula ketika ia sukses menakhodai kelahiran produk bernama Google Toolbar, add-on yang berfungsi mengubah mesin pencari bawaan Internet Explorer hingga Firefox menjadi menggunakan milik Google (Google Search).

Dari kerjanya mengurusi Google Toolbar ini, sekitar tahun 2005 Pichai tersadar bahwa Google rawan didepak Microsoft (pemilik Internet Explorer) dan Mozilla Foundation (pemilik Firefox). Terlebih, tak lama setelah kelahiran Google Toolbar, Microsoft menyematkan mesin pencari rival Google di Internet Explore. Hal ini membuat Google kehilangan 300 juta pengguna.

Menurut Pichai, sebagai perusahaan yang hidup di dunia maya--dan dunia maya kala itu hanya dapat diakses menggunakan browser di komputer--Google seharusnya memiliki browser sendiri. Ini untuk meminimalkan ketergantungan terhadap Internet Explorer dan Firefox.

Terlebih, klaim Pichai, “kami semua di Google (dan seluruh warga maya) menghabiskan waktu menggunakan browser.” Maka, atas izin yang diberikan Chief Executive Officer (CEO) Google, Eric Schmidt, Pichai menginisiasi penciptaan browser "made by Google" bernama Chrome.

Secara teknis, Chrome dibuat menggunakan WebKit, browser engine--komponen utama perambah yang bekerja mengubah HTML/struktur lain dapat dimengerti komputer dan manusia--yang dibuat Apple sejak 2001 sebagai mesin utama Safari. Namun, menurut Klint Finley untuk Wired, karena Apple mengubah cara kerja WebKit di bagian multi-process architecture (rancangan teknis yang memungkinkan tab dalam browser bekerja sendiri-sendiri atau sandbox), sejak April 2013 Chrome beralih menggunakan Blink, browser engine yang dikembangkan Google sendiri.

Tak hanya itu, Chrome pun dikembangkan memanfaatkan V8, javascript engine yang disebut-sebut Google memproses Javascript--front-end-side programming language yang dapat mempercantik tampilan website--10 kali dan 56 kali lebih cepat dibandingkan Safari serta Firefox.

Untuk mempercepat pertumbuhan Chrome, Pichai bergerilya. Bekerja sama dengan pelbagai perusahaan pembuat komputer, semisal Hewlett Packard (HP), untuk menyematkan Chrome secara langsung pada komputer/laptop yang dibuat. Hasilnya, setelah hanya menguasai pangsa pasar sebesar 1,38 persen pada 2009, kerjasama ini akhirnya mampu menempatkan Chrome sebagai browser peraih 33,81 persen pangsa pasar setahun kemudian, unggul dari Internet Explore dengan 32,04 persen pangsa pasar. Dan perlahan, Chrome berlabuh menjadi browser utama warga maya dunia.


Infografik Macam-macam Sistem Operasi
Infografik Macam-macam Sistem Operasi


Untuk menyukseskan Chrome, Pichai tak hanya bekerja sama dengan pelbagai manufaktur komputer. Ingin membuat komputer yang dapat menyala seketika seperti bagaimana TV bekerja, Pichai pun mendalangi perombakan Chrome--aplikasi browser--menjadi sistem operasi, Chrome OS, mirip seperti Windows ataupun macOS.

"Untuk membuat penggunanya fokus di internet," ujar Pichai. Pengguna tak perlu memikirkan dokumen (file) tak dapat diakses di sembarang tempat karena Chrome OS bekerja sepenuhnya di dunia maya, cloud computing.

Meskipun Chrome OS kurang dilirik kalangan profesional atas keterbatasan aplikasi, namun sistem operasi ini sukses di kalangan pelajar. Juga laris manis digunakan pelbagai manufaktur laptop untuk memberdayakan lapto-laptop kelas bawah mereka. Ini membuat lebih dari 30 juta pelajar di Amerika Serikat tersengsem dengan Chrome OS. Suatu kenyataan yang membuat Microsoft--penguasa sistem operasi komputer--khawatir masa depan mereka runyam gara-gara Chrome OS.

Mulai pertengahan November 2021, tak ingin melihat para pelajar memantapkan diri menggunakan Chrome OS beserta produk turunanya seperti Google Classroom dan Google Docs, Microsoft bergerilya dengan menghadirkan Windows 11 SE. Microsoft mengklaim bahwa ini adalah versi sederhana Windows 11 yang dirancang khusus untuk kaum pelajar dengan dibuat atas bantuan para pelajar dan guru selama lebih dari 18 bulan.

Pada tahap permulaan, Windows 11 SE akan dijual Microsoft secara eksklusift pada komputer bertenaga rendah buatan mereka sendiri, Surface Laptop SE. Menurut rencana, Windows 11 SE pun akan dipasang pada laptop-laptop berharga murah dari Acer, Asus, Dell, Dynabook, Fujitsu, HP, hingga Lenovo.

Baca juga artikel terkait GOOGLE CHROME atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight