tirto.id - Perang Iran vs Amerika Serikat (AS) yang sudah berlangsung selama 98 hari pada Jumat (5/6/2026) masih saja menunjukkan kebuntuan negosiasi. Hal ini masih terjadi di tengah gempuran Israel di Lebanon yang tak kunjung dihentikan.
Seturut Al Jazeera, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, telah mempertanyakan draf kesepahaman antara Teheran dan Washington dengan sinis. Menurutnya, klausul kesepakatan masih mengandung “ambiguitas” yang perlu diklarifikasi.
Kepada stasiun televisi pemerintah Iran, Rezaei menduga pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah berusaha menekan Teheran dalam negosiasi ini. Washington disebutnya berusaha menekan dan membiarkan tuntutan Iran “dalam keadaan yang tidak jelas”.
Strategi Trump dalam negosiasi dengan Iran juga dipertanyakan secara domestik. Gedung Putih kini dilaporkan menghadapi makin banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya hendak dicapai Trump lewat kesepakatan dengan Iran.
Pernyataan itu terus mencuat dan meluas lantaran Trump berulang kali menyatakan bahwa operasi militer AS di Iran telah mencapai tujuannya, yakni menghancurkan program nuklir Iran. Namun, dengan kebuntuan yang terus terjadi dalam negosiasi, publik kemudian bertanya-tanya tentang urgensi kesepakatan itu jika tujuan operasi sudah tercapai.
Sementara itu, Trump baru-baru ini membuat pernyataan publik bahwa ia tidak berniat untuk mengambil uranium yang telah diperkaya milik Iran dalam negosiasi yang tak kunjung tercapai itu. Trump berujar bahwa AS bisa mengakses uranium Iran tanpa kesepakatan.
Akan tetapi, Trump tak merinci apa yang sebenarnya ia inginkan lewat kesepakatan. Ia hanya menyatakan bahwa ia tak berencana untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, meskipun peluang itu terbuka jika kesepakatan tercapai.
Situasi Politik Timur Tengah Belum Stabil
Dengan negosiasi diplomatik yang terus menemui jalan buntu, situasi di Teluk masih diliputi ketidakpastian.
Reuters belakangan ini melaporkan bahwa Oman telah menangguhkan operasi memuat minyak mentah di Mina al-Fahal, terminal minyak utama mereka. Penangguhan operasi pengangkutan itu disebut berkaitan dengan ledakan yang terjadi di dekat dermaga tambatan pelampung tunggal milik Oman. Ledakan itu diduga disebabkan oleh serangan drone.
Ketidakpastian juga secara kasat mata menghinggapi penduduk Lebanon selatan. Israel masih terus menggempur kawasan itu meskipun AS telah mengumumkan tercapainya kesepahaman antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah tentang gencatan senjata.
Kesepahaman terkait gencatan senjata Israel-Hizbullah yang sebelumnya diumumkan AS juga kini dipertanyakan. Hal ini terjadi setelah pemimpin Hizbullah Naim Qassem secara terbuka menolak perjanjian gencatan senjata yang dimediasi AS.
Qassem menyebut klausul dalam negosiasi itu sebagai “lelucon” dan memperingatkan bahwa Hizbullah akan terus menggempur Israel bagian utara jika pasukan Zionis tak segera ditarik dari Lebanon.
Pernyataan itu meningkatkan kekhawatiran akan adanya eskalasi konflik di kawasan tersebut, dengan Israel maupun Hizbullah berpotensi menggencarkan serangan masing-masing.
Pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang dipicu oleh Perang Iran-AS telah menempatkan masyarakat sipil Lebanon dalam bahaya berkepanjangan. Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon menyebut setidaknya 3.526 orang telah terbunuh dan 10.733 lainnya terluka karena serangan Israel di kawasan mereka sejak 2 Maret.
Pertempuran juga tampaknya makin tak populer di Israel. Ratusan warga Israel berhaluan ultra-ortodoks kembali menggelar protes menolak wajib militer baru-baru ini.
Ratusan massa ultra-ortodoks itu dilaporkan telah memblokir jalan raya dan menuntut agar wajib militer tidak dikenakan pada mahasiswa agama di sana.
Penolakan wajib militer telah menjadi isu yang lama dituntut kelompok ultra-ortodoks di Israel. Mereka menolak wajib militer dikenakan pada kelompok mereka, meski tidak menentang mekanisme wajib militer secara umum.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































