Penumpang Khawatir Pencabutan Subsidi 5 Kereta Picu Kenaikan Tarif

Oleh: Mulia Ramdhan Fauzani - 2 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sejumlah penumpang khawatir pencabutan subsidi 5 kereta api jarak jauh memicu kenaikan harga tiket.
tirto.id - Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan memutuskan untuk menghapus subsidi lima kereta api rute antar kota antar provinsi mulai awal 2019.

Lima kereta api yang dicabut subsidinya ialah KA Logawa (Purwokerto – Jember), KA Brantas (Blitar – Pasarsenen), KA Pasundan (Surabaya Gubeng – Kiaracondong Bandung), KA Gaya Baru Malam Selatan (Surabaya Gubeng – Pasarsenen), dan KA Matarmaja (Malang – Pasarsenen).

Semenjak keputusan tersebut, kelima KA itu berubah status, dari KA ekonomi jarak jauh bersubsidi menjadi KA ekonomi non-subsidi.

Kebijakan tersebut membuat para penumpang mengkhawatirkan kenaikan harga tiket. Dwi Prasetyo (34), misalnya, yang hendak pulang ke Blitar selepas berlibur di ibukota. khawatir penarikan subsidi membuat harga tiket tak terjangkau kantong rakyat kecil.

"Maunya sih, [pemerintah] tetap mengasih subsidi. Ini kan, kelas-kelas begitu, kan, kereta rakyat, lah. [Harga tikek Kereta Gaya Baru Malam] cuma Rp125 ribu, masih terjangkau, sekarang," kata Dwi di stasiun Pasar Senen, Rabu (2/1/2018).


Kenaikan harga tiket kereta ekonomi dianggap tidak tepat bagi sebagian penumpang. Kenaikan harga yang wajar adalah untuk kelas bisnis dan eksekutif, bukan ekonomi. Salah satu penumpang KA Brantas, Sri Anis(35), adalah yang berpendapat demikian.

"Subsidi kalau dicabut, kebanyakan, [yang terdampak] kalangan menengah ke bawah. Jadi, kalau mau naikin, kereta menengah ke atas saja. Tapi, kalau kereta yang kecil-kecil, banyak kalangan menengah-ke bawahnya, jangan dicabut subsidinya," ujar Sri.

Ia merupakan pelanggan KA Brantas dan KA Matarmaja karena rutenya yang searah dengan rumahnya di Ngawi, Jawa Timur. Setiap tahun, Sri menyempatkan ke Jakarta untuk bertemu kerabat menggunakan KA Brantas yang ia pilih karena murah.

"Sekarang, sudah bagus itu [fasilitas dan pelayanan]. Kalau bisa jangan dicabut [subsidi]," ucap ibu dua anak ini.

Pendapat serupa disampaikan oleh Slamet Riyadi(67). Pria asal Tegal ini berpandangan, kenaikan harga tiket membuat banyak penumpang yang berasal dari kampungnya, Lebaksiu, Tegal akan kesulitan pulang kampung.

"Kalau mahal-mahal kasihan pedagang. Saya dari Lebaksiu [Tegal], berdagang martabak [di Jakarta]. Kasihan pedagang-pedagang asongan, gorengan, martabak [kalau harga tiket kereta ekonomi naik]," ujar Slamet yang sedang menunggu kedatangan KA Brantas, untuk kembali ke Tegal.

Kekhawatiran lain datang dari seorang ibu dua anak, Novriyanti (34), asal Pekalongan. Ia khawatir pencabutan subsidi lima kereta membuat banyak masyarakat enggan menggunakan kereta api.

"Kita sudah mulai senang pakai kereta yang bersih, tertib, rapih. Kalau tiba-tiba [subsidi] ditarik, terus biayanya lebih gede, nanti kita malah keberatan," ujar Novriyanti di stasiun Pasar Senen.


Bersama suaminya, Novriyanti hendak pulang menggunakan KA Majapahit. Biasanya, KA Brantas jadi pilihan Novri dan keluarga.

"Kalau hitung-hitungan, kan, sekarang kan ada jasa mobil online. Itu dihitung-hitung juga sama, murah juga. Jadi kalau ini masih terlalu mahal, ya, mendingan ke situ," imbuh Novriyanti.

Dia juga berharap pemerintah segera memastikan kemungkinan pencabutan subsidi membuat harga tiket lima kereta naik.

"Kalau dicabut, ya, bedanya berapa persen dulu [harga tiket]. Percuma kalau [setelah subsidi dicabut] harga terlalu tinggi, tapi fasilitasnya enggak memadai juga," ujar Novri.

Sementara itu, Kepala Humas PT KAI Agus Komarudin memberikan kejelasan terkini atas kemungkinan kenaikan tarif tiket lima KA.

"Masih sama seperti rilis pers yang kami keluarkan", ujarnya ketika dihubungi via telepon, pada hari ini.

Rilis pers yang dikeluarkan PT KAI pada hari yang sama, menyatakan harga tiket untuk kelima KA masih sama dengan sebelumnya meski subsidi dari pemerintah sudah dihapuskan. PT KAI akan menutupi kerugian dari harga yang belum disesuaikan usai subsidi dicabut.


Baca juga artikel terkait SUBSIDI KERETA API atau tulisan menarik lainnya Mulia Ramdhan Fauzani
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Mulia Ramdhan Fauzani
Penulis: Mulia Ramdhan Fauzani
Editor: Addi M Idhom
DarkLight