The Jakarta Method

Penulis Jakarta Method: "Anti-Komunisme Fanatik Kini Berkuasa Lagi"

Oleh: Windu Jusuf - 20 Mei 2020
Dibaca Normal 7 menit
Sebuah buku tentang signifikansi global dari peristiwa 1965 diterbitkan. Apa yang baru?
tirto.id - Pada 11 September 1973, Salvador Allende, presiden sosialis Chili yang terpilih secara demokratis, digulingkan dalam sebuah kudeta militer sayap kanan. Ribuan pendukungnya dipenjara, dihilangkan, dan dibunuh. Pimpinan kudeta Augusto Pinochet menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata telah “bertindak menyelamatkan negara dari kekacauan besar” yang diciptakan pemerintahan Marxis Salvador Allende”. Menjelang kudeta, santer terdengar rumor bahwa “Jakarta akan datang” ke Chili.

Kudeta Allende memiliki pola yang sama dengan penggulingan Sukarno di Indonesia pada pertengahan 1960-an. Kedua presiden didukung partai komunis. Keduanya disikat kaum kanan yang disokong Paman Sam. Sejak pembantaian massal 1965-66, “Jakarta” menjadi metafor dan kode untuk pemberantasan kaum komunis dan penggulingan pemerintahan kiri populis di seluruh dunia.

Buku The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World karya Vincent Bevins menguak asal-usul metafor tersebut. Buku yang baru terbit pada 19 Mei 2020 ini juga merekam bagaimana kaum kiri di Asia dan Amerika Latin bereaksi terhadap pembantaian 1965. Sebagian kelak meninggalkan jalan demokratis menuju sosialisme dan kembali mengangkat senjata karena Washington “tidak bisa dipercaya”.

Vincent Bevins adalah koresponden New York Times, The Atlantic, The Economist, The Guardian, Foreign Policy, New Yorker, dan Folha de S. Paulo. Redaktur Tirto Windu Jusuf mewawancarainya pekan silam. Berikut petikannya.


Jakarta Method nampaknya menyasar pembaca Amerika yang tidak akrab dengan peristiwa pembantaian 1965 di Indonesia. Pembicaraan seputar pembantaian ini mendunia setelah dirilisnya film The Act of Killing dari Joshua Oppenheimer (2012). Saya ingin tahu sampai sejauh mana publik Amerika mengetahui isu ini. Bagaimana masyarakat Amerika saat ini, khususnya di bawah Trump, bereaksi terhadap politik anti-komunis AS selama Perang Dingin?

Jakarta Method memang ditujukan untuk khalayak umum, tidak melulu di Amerika Serikat, tapi untuk pembaca di mana pun di dunia yang tidak pemahaman yang khusus tentang Indonesia. Buku ini saya tulis karena banyak orang benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada 1965. Mereka juga tidak tahu apa pentingnya kejadian itu . Yang saya sasar juga bukan hanya pembaca biasa—misalnya bibimu yang menggunakan Facebook dan mendukung Trump—tapi juga editor dan jurnalis yang bekerja di media-media paling terhormat di seluruh dunia. Seperti yang saya katakan dalam buku ini, 1965 adalah salah satu titik balik terpenting abad ke-20.

Act of Killing benar-benar penting posisinya di Indonesia dan negeri-negeri berbahasa Inggris. Bukan film dengan produksi besar tapi banyak orang menyaksikannya. Joshua [Oppenheimer] membuat keputusan yang saya pikir sangat bijak secara estetik—yang menurut saya sangat bijak karena film ini adalah sebuah mahakarya—dengan memotret situasi dari jarak yang sangat dekat. Yang saya lakukan adalah kebalikannya: melihat peristiwa dari jauh, yakni dalam konteks global, dan menjelaskan apa yang terjadi sebelum dan setelah 1965. Buku ini tidak berfokus pada pembantaian itu sendiri, melainkan pada maknanya di masa lampau dan hari ini.


Jawaban singkat untuk pertanyaan Anda tentang Amerika di bawah Trump: kami benar-benar buta soal kejadian-kejadian berdarah pada masa Perang Dingin ini. Orang Amerika percaya—bahkan sangat mengimani—bahwa negerinya adalah kekuatan moral bagi seantero dunia. Walhasil, kami cenderung melupakan atau menyingkirkan narasi apa pun yang bertentangan dengan dogma itu.

Hal semacam ini tentu sangat buruk. Tapi, apakah sebagian besar orang Indonesia juga tahu kisah ini secara lengkap? Sebagian besar korban yang saya temui masih menderita setiap harinya karena berbagai macam kebohongan tentang diri mereka.

Dalam kasus Indonesia, saya pikir masalahnya bukan apakah kami mengetahui ada genosida pada 1965 atau tidak. Ini soal bagaimana Indonesia (terutama pemerintahnya) menyangkal setiap pengungkapan kebenaran.

Persis. Dan ini satu hal yang benar-benar mengejutkan orang-orang di belahan dunia Barat sana. Di Amerika Latin, negara telah meminta maaf kepada para korban setelah diadakan rekonsiliasi nasional, bahkan ketika tokoh-tokoh baru sayap kanan membenci proses semacam itu. Mereka kaget ketika tahu korban di Indonesia tidak mendapat perlakuan yang sama.

Anda cukup lama meliput Indonesia dan Brasil, dua di antara banyak negara yang beberapa tahun terakhir mengalami kebangkitan populisme kanan dan kembali maraknya propaganda anti-komunisme. Jakarta Method menuturkan pengalaman Anda bertemu Jair Bolsonaro satu atau dua tahun sebelum ia terpilih sebagai presiden Brasil. Bisa ceritakan sedikit tentang kebangkitan sentimen anti-komunis di Brasil era Bolsonaro?

Jair Bolsonaro datang dari faksi militer pro-kediktatoran yang selalu menentang pemulihan demokrasi. Kelompok inilah yang dikabarkan mengorganisir Operação Jacarta [Operasi Jakarta] di Brasil. Bolsonaro adalah orang yang sangat radikal. Dia bahkan dipaksa mengundurkan diri dari militer setelah memperoleh tuduhan merencanakan pemboman. Tiga puluh tahun duduk di kursi Kongres tak mengubah sikap radikal itu. Dulu, di hadapan massanya yang hanya segelintir, Bolsonaro selalu berkoar-koar bahwa kediktatoran militer di Brasil (1964-1985) baik adanya dan sudah semestinya mereka membunuh lebih banyak orang.

Kekerasan reaksioner semacam ini selalu mendapat tempat dalam sejarah Brasil—ingat, Brasil adalah koloni pendatang yang memperbudak banyak sekali manusia. Tapi kekerasan semacam itu baru menemukan ekspresinya yang sempurna selama Perang Dingin. Tiap kali muncul ancaman terhadap tatanan sosial yang tidak setara, kaum reaksioner ini akan siap melabelinya sebagai “komunis”. Mereka menggunakan dalih yang sama untuk menindas komunis dan mempertahankan privilese kaum elite.


Saya sempat ngobrol dengan Bolsonaro pada 2016, tepatnya di hari ketika Presiden Dilma Rousseff dimakzulkan. Tepat pada hari itulah kekuatan politik kanan tengah (center right) bunuh diri dan menciptakan kekosongan dalam politik Brasil. Dari spektrum politik kanan yang paling ekstrem, Bolsonaro berusaha merebut kekuasaan dan berhasil. Anti-komunisme dalam bentuknya yang fanatik hari ini kembali berkuasa. Menteri Luar Negeri Brasil, misalnya, menuduh virus Corona sebagai bagian dari konspirasi internasional untuk membawa masuk pengaruh komunis ke Brasil. Sang menteri, Ernesto Araújo, menyebutnya "communavirus”.

Anda membahas peran media Brasil tahun 1960-an dalam penyebaran kampanye anti-komunis. Bagaimana Anda melihat lanskap media Brasil di sekitar pemakzulan Dilma Rousseff dan naiknya Bolsonaro?

Pada abad ke-20, sangat jelas bahwa media berperan dalam kampanye anti-komunis. Semua media besar di Brasil mendukung kediktatoran militer yang dimulai pada 1964. Untuk abad ke-21 ini media bermain dengan cara yang lebih halus, tapi Anda harus melihat narasi sejumlah media arus utama sebagai bagian dari proses pemakzulan Dilma pada 2016. Media-media top baik di dalam maupun luar Brasil membangun kesan bahwa semakin lama Partai Pekerja [partai Rousseff) berkuasa situasinya akan sangat buruk. Hasilnya? Bolsonaro menang pemilu pada 2018.

Anda menulis kisah-kisah menarik tentang keluarga Indonesia Tionghoa yang melarikan diri ke Brasil tepat sebelum kudeta 1965; pelajar Indonesia yang berjumpa dengan serdadu-serdadu asal negerinya yang menerima pelatihan anti-komunis di Fort Leavenworth; dan editor berita asing Harian Rakyat yang melaporkan pembersihan kaum komunis di seluruh dunia. Bisakah diceritakan bagaimana Anda bertemu para narasumber ini?

Butuh waktu lama, mungkin plus dua tahun jika dibandingkan dengan, misalnya, saya menulis ringkasan peristiwa berdasarkan riset-riset akademik dan dokumen-dokumen yang sudah dideklasifikasi. Tapi karena saya hanya pernah bekerja sebagai jurnalis, saya perlu bertemu para narasumber ini dan menanyakan apa yang terjadi. Saya ingin buku ini menyampaikan kisah yang manusiawi sehingga orang paham apa itu Partai Komunis Indonesia (PKI). Saya juga cukup beruntung memiliki sumber daya untuk bepergian menemui narasumber. Saya mengunjungi 12 negara untuk keperluan riset buku ini.


Perjalanan dimulai di Jakarta. Saya memastikan saya bisa berbicara dengan para ahli dan menjelaskan apa yang saya sedang saya kerjakan. Saya sangat berterimakasih kepada Febriana Firdaus dan Baskara Wardaya. Mereka memperkenalkan saya dengan banyak penyintas. Bradley Simpson, sejarawan Universitas Connecticut, menjelaskan kepada saya tentang keterlibatan AS. Sejarawan University of British Columbia John Roosa mengarahkan saya ke beberapa pertanyaan riset yang menarik. Lalu saya mulai jalan-jalan, berjumpa banyak orang, memberi tahu mereka tentang proyek ini, dan bertemu orang-orang yang mau buka mulut. Sebelum memutuskan untuk memilih beberapa "karakter" utama dalam buku ini, saya melakukan sekitar 125-150 wawancara.

Anda menelusuri efek global dari pembantaian 1965. Karena 1965, banyak partai sosialis dan komunis Dunia Ketiga tak lagi percaya pada jalan demokratis menuju sosialisme dan memilih untuk angkat senjata. Tapi Jakarta Method tidak memaparkan dengan jelas bagaimana hal ini tidak terjadi di negara-negara Eropa Barat yang berjalan di atas konsensus negara kesejahteraan (welfare state) yang disokong kaum kiri pasca-Perang Dunia II. Pada saat yang sama, ada gelombang terorisme sayap kiri sejak akhir 1960-an hingga 1980-an, terutama di Jerman Barat dan Italia, sebagai respons kaum kiri jauh (far-left) terhadap konsensus tersebut. Saya pikir ini pokok yang penting untuk dibahas lebih lanjut.

Benar! Anda benar. Sedikit sekali bahasan tentang Eropa di buku itu, meski negara-negara ini punya posisi penting dalam sistem global. Saya kira sebagian besar buku ini adalah tentang hegemoni AS beserta pengaruhnya terhadap negeri-negeri pasca-kolonial.

Ada satu hal yang mengejutkan. Banyak orang Indonesia yang terpaksa mengungsi atau dicabut paspornya pada 1965. Begitu menginjakkan kaki di Eropa, mereka menyaksikan partai-partai Komunis diterima oleh sistem politik di sana. Wakil partai-partai komunis ada di parlemen di Perancis, Italia, dll. Mengapa ini diizinkan di Eropa, tetapi tidak di Asia atau Amerika Latin? Satu jawaban yang mungkin adalah rasisme. Jawaban lain: AS yakin Eropa tidak akan menggoyang sendi-sendi tatanan global Perang Dingin.

Ada beberapa paralel lain dalam cerita yang saya bahas dalam buku itu, misalnya bahwa Operasi Burung Kondor di Amerika Latin terkait erat dengan jaringan intelijen tersembunyi AS (“stay-behind”) di Eropa dan Operasi Gladio.

Saya kira Operasi Gladio bertujuan untuk mencegah serbuan dari Pakta Warsawa ke Eropa Barat—yang sangat tidak mungkin terjadi bahkan pada zaman itu. Upaya membendung pengaruh komunis juga bisa dilihat dalam konsensus negara kesejahteraan, yang secara politis memperbolehkan kaum komunis untuk duduk di parlemen (walaupun tidak pernah berkuasa).

Betul. Operasi Gladio adalah sebuah operasi rahasia lain yang sangat menarik. Dan tentu saja, CIA blak-blakan campur tangan di Italia ketika partai komunis diproyeksikan menang pemilu. Jadi hanya ada sejumlah kecil kebebasan bagi kaum kiri di Eropa Barat.

Salah satu pokok paling menarik dalam buku ini adalah kemiripan narasi propaganda anti-komunis di banyak tempat. Anda mengisahkan, misalnya, keberadaan rumor bahwa kaum komunis berencana membunuh para perwira tinggi ketika mereka tidur untuk membenarkan pembersihan anti-komunis di Brasil tahun 1930-an. Anda juga mencatat bahwa kaum konservatif Brasil yang pro-Washington di Brasil menggunakan narasi sejenis untuk menggulingkan Presiden Joao Goulart pada 1960-an. Tapi Jakarta Method tidak merinci bagaimana kemiripan-kemiripan itu bisa muncul. Bisa Anda jelaskan?

Tentunya sulit karena kita tidak tahu secara persis bagaimana narasi-narasi ini muncul. Kemiripan-kemiripan ini memang sangat mencolok di permukaan. Ada beberapa kebetulan yang sangat kentara jika Anda mengamati gerakan anti-komunis global beserta siasat mereka di berbagai negara pada era yang berbeda-beda. Masalahnya, ketika Anda berusaha mengorek informasi tentang pemerintah dan kekuatan politik yang senantiasa menggelar operasi-operasi terselubung, Anda hanya akan mendapat gambaran parsial. Anda harus telaten memeriksanya. Saya memilih untuk tidak bergulat dengan spekulasi dan hanya menjabarkan kebetulan-kebetulan itu.

Setelah banyak melakukan riset di Chili, akhirnya saya paham bagaimana metafora “Jakarta” muncul. Ada seorang pria Kroasia yang terobsesi dengan cerita ini dan terlibat aktivitas teroris sayap kanan. Namun, kita hanya punya sejumlah teori soal kebetulan dan kemiripan mencolok antara apa yang terjadi di Brasil dan Indonesia—bahwa di kedua negara tersebut ada narasi soal kaum komunis yang berencana menikam para perwira pada tengah malam.

Baik Indonesia maupun Brasil mengirimkan tentara mereka untuk belajar di akademi Angkatan Darat AS di Fort Leavenworth, Kansas, di waktu yang sama. Mereka bisa saja saling bertukar cerita dan saran. Gerakan-gerakan sayap kanan di kedua negara pun terus menjalin kontak dengan agen-agen AS


Ada juga kemiripan lain yang sangat mencolok. Pada 1970, ketika CIA mulai mengorganisir upaya-upaya untuk menjatuhkan Presiden Salvador Allende, pucuk pimpinan militer Chili menolak bekerjasama (seperti halnya Nasution mengatakan kepada Duta Besar AS Howard Jones bahwa ia tidak akan pernah mentolerir kediktatoran militer a la Amerika Latin di Indonesia). Teroris sayap kanan saat itu berencana menculik panglima militer Chili, mengkambinghitamkan kaum kiri, dan menggunakan penculikan itu sebagai dalih untuk mengambil alih kekuasaan. Rene Schneider, panglima angkatan bersenjata Chili waktu itu, terbunuh. Komplotan teroris sayap kanan saat itu malah tertangkap dan diungkap ke publik. Apakah ini upaya untuk mengulang “sukses” 1965 di Chili? Mungkin saja.

Tetapi saya membiarkan pembaca untuk berspekulasi. Untuk benar-benar mengetahui fakta sesungguhnya, kita memerlukan lebih banyak penelitian dan dokumen yang dideklasifikasi. Saya sempat menelepon CIA dan menanyakan apa yang mereka lakukan di Indonesia pada 1960-an. Mereka tidak memberitahu saya.

Anda menggambarkan intelijen AS sebagai sekelompok amatir—bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa mereka sangat berkuasa. Ada banyak kegagalan, kecelakaan, dan yang paling penting, kesalahpahaman yang luar biasa besar di pihak AS. Mereka gagal memahami Dunia Ketiga. Mereka gagal memahami watak kebijakan luar negeri Soviet. Washington bahkan membutuhkan Henry Kissinger untuk mengeksploitasi permusuhan China dan Soviet, untuk tahu bahwa kebijakan luar negeri Soviet secara umum berwatak konservatif. Hal-hal seperti ini mengingatkan kita kepada petualangan AS di Afghanistan dan Irak, atau yang terbaru, di Venezuela. Apakah mereka selalu bertindak bodoh seperti ini sampai-sampai mitra lokal mereka yang akhirnya mesti membereskan kekacauan?

Saya pikir ada dua pandangan berseberangan yang perlu dikoreksi dan saya ingin menulis esai panjang tentang ini. Di satu sisi, khalayak luas melihat CIA sebagai aktor yang sangat berkuasa. Tapi, ada juga pandangan lain (dan ini dinyatakan oleh Tim Weiner dalam buku Legacy of Ashes) bahwa CIA selalu bikin keributan dan mengacaukan kebijakan luar negeri AS.

Bagi saya, dua-duanya keliru. Intinya, jika Anda menduduki posisi hegemon, Anda diperbolehkan gagal berulang kali. Tak seorang pun akan mempermasalahkannya. Jadi, coba saja lagi. Di Guatemala, ada tiga upaya kudeta. Di Indonesia, AS mencoba dua taktik lain untuk menyingkirkan PKI sebelum 1965: pertama, menggelontorkan banyak uang ke Partai Masjumi [rival PKI pada 1950-an]. Kedua, invasi 1958. Ketika dua cara ini tidak berhasil, mereka akhirnya menyokong pembunuhan massal.

Jika Anda sekadar ingin menghukum negara yang terlihat terlalu independen, Anda tak butuh kerja-kerja yang luar biasa efektif. Anda hanya perlu mengacaukan situasi untuk menghadapi musuh. Untuk bikin kacau seperti ini tak butuh banyak ketelitian atau perencanaan.

=============

Wawancara diterjemahkan oleh Irma Garnesia

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Politik)

Reporter: Windu Jusuf
Penulis: Windu Jusuf

DarkLight