Penderitaan Tahanan Pulau Buru dalam Sketsa

Oleh: Mutaya Saroh - 26 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Di Pulau Buru, ada kelaparan, kerja paksa, tapi ada juga kasih sayang sesama tahanan. Gregorius Soeharsojo Goenito, seorang eks tahanan, menumpahkan semua yang dialaminya ke dalam sketsa.
tirto.id - Gregorius Soeharsojo Goenito, seorang tahanan politik di Pulau Buru, menumpahkan apa yang dialaminya selama di pulau itu dalam sketsa yang kini telah terbit dengan judul Tiada Jalan Bertabur Bunga, Memoar Pulau Buru dalam Sketsa.

“Dulu, sewaktu di Pulau Buru, saya membuat sketsa-sketsa tentang pengalaman sehari-hari saya cuma dalam kertas seadanya,” kenang Greg. Buku itu terdiri atas 180 sketsa yang menggambarkan kegiatan sehari-hari 12.000 orang tapol yang dihimpun dengan narasi dan puisi-puisi yang ditulis sendiri oleh Greg.

“Ada pembinaan mental dan fisik, yang pertama kali dilakukan adalah pembinaan fisik, cara menggunakan peralatan pertanian dan membuka lahan,” ungkap Greg.

Menurut Greg, ia ditangkap bulan Juni 1966. Sepasukan tentara bersenjata lengkap menangkapnya kemudian membawanya ke pos penjagaan militer Unit Teritorial Perjuangan Rakyat (Uterpra). Dari sana, dengan kondisi kaki dan tangan diborgol rantai dan gembok besar, ia diperiksa dan dituduh menyembunyikan pelarian dari Jakarta dalam Gerakan 30 September 1965.

Ditangkap tanpa ada proses pengadilan, ia dibawa ke Pulau Buru pada 1970, dipaksa bekerja membuka lahan yang dikenal dengan proyek Repelita I.

“Sesudah saudara-saudara bisa berdikari bercocok tanam dan menghasilkan, keluarga saudara yang mau [ke Pulau Buru] akan didatangkan ke sini. Selain alat-alat pertanian dan obat-obatan, juga rencana akan dikirim sapi-sapi untuk menggarap sawah,” Greg menirukan ucapan petugas penyambut waktu itu.

Tentu banyak tapol ingin pulang, namun sampai 1979 mereka tidak dibebaskan. Maka, selama itu pula kegiatan sehari-hari mereka adalah seperti yang digambarkan oleh Greg: kerja, kerja, dan kerja setiap fajar tiba.

“Sesuai yang apa saudara lihat hari ini, inilah sketsa-sketsa saya selama di Buru, tentang kegiatan sehari-hari sampai tahun 78,” ucap pria yang termasuk ke dalam rombongan pertama penghuni Buru.

“Apa yang ada di sana [dalam sketsa] adalah apa yang kami jalani di Pulau Buru itulah yang saya anggap penting dalam peranannya dengan sejarah Indonesia,” tutur Greg.

Setelah kembali dari Pulau Buru, ia menyimpan sketsa-sketsanya hingga kemudian dibukukan. Para pekerja seni dan budaya pun menyambut baik.

“Buku ini kurang lebih berisi tentang situasi barak, pemukiman awal Pulau Buru yang berupa hutan, kegiatan tapol menebang pohon, membuat rumah, memasak, bersantai, ibadah, penduduk setempat, gambar wajah dan lain-lain,” kata Hairus Salim, budayawan dan pegiat LKIS Yogyakarta.

Yang juga penting, menurut Hairus, sketsa-sketsa Greg melengkapi catatan yang telah ditorehkan Pramoedya Ananta Toer, Hesri Setiawan, dan Gumelar Demokrasno soal yang terjadi di Pulau Buru.

Seperti yang digambarkan oleh Greg dalam sketsanya, Hairus memaparkan kerja utama para tapol di Pulau Buru adalah membuka lahan.

Pagi-pagi, tapol harus sudah melakukan apel, lalu membawa parang untuk menebang pohon. Itu digambarkan Greg dalam beberapa sketsa. Ada juga sketsa yang memperlihatkan para tapol sedang menebang pohon menggunakan pedang, diawasi oleh penjaga bersenjata.

Selama proses membuka lahan, banyak hal dialami Greg, mulai dari kejam sampai sisi manusiawi di antara tapol dan penjaganya. Tapol kelaparan digambarkan dengan jelas oleh Greg. Tapol ini menelan tikus kecil dalam sketsa yang diberi judul “Makan Cindil untuk obat.”

Dalam sketsa lain, tampak tapol-tapol mulai menggarap lahan. Lahan yang baru terbuka itu disiapkan menjadi lahan gembur agar siap ditanami.

“Pembabatan semak-semak rotan dan piyer telah selesai. Tahap selanjutnya giliran menyiapkan lahan untuk ditanami benih padi gogo yang sudah disiapkan pemerintah,” tulis Greg.

Meskipun selalu bekerja, kehidupan kekeluargaan juga nampak dalam sketsa, mulai dari tapol yang saling membantu saat waktu mencukur rambut, tapol yang sedang kerokan, dan lain sebagainya.

Yang paling menarik perhatian Hairus Salim adalah yang menggambarkan seorang petugas jaga mengenakan mantel karena kedinginan. “Saya paling suka dengan sketsa ini, judulnya 'Dia Juga Kedinginan',” kata Hairus.

Di dalam sketsa itu nampak lanskap yang luas, tapol berdiri berjejer di depan penjaga, sementara penjaga berjaket tebal digambarkan dalam bentuk yang lebih jelas, lebih besar daripada para tapol.

“Dari aspek visual tergambar dengan jelas pulau buru yang ganas, kerja paksa yang harus dijalankan oleh tapol, terlihat juga barang-barang yang digunakan tapol, narasi Pram dan Hesri bisa dibayangkan dengan kuat setelah melihat sketsa-sketsa ini,” lanjut Hairus.

Sketsa Sebagai Dokumentasi Sejarah

Selain karya Greg, masih ada sketsa lain yang juga berisikan memoar Pulau Buru. Karya tersebut berjudul Dari Kolong Sampai Pulau Buru, ditulis dan digambar oleh Gumelar Demokrasno.

Mencermati karya yang dibuat keduanya, semua orang akan dibuat sepakat tentang gambaran kerja tapol dan tentang Pulau Buru itu sendiri pada kurun waktu 1970-1979 memang ganas.

“Bedanya, Gumelar membuat sketsa belakangan, Greg membuat di sana dan menyimpan,” papar Hairus.

Karya Greg dan Gumelar sama-sama bisa menjadi jejak sejarah karena memvisualisasikan kenyataan berdasarkan pengalaman.

Seorang seniman asal Kulonprogo Yogyakarta, Teguh Paino, mengatakan dokumentasi dengan kamera masih sulit di zaman itu. Sketsa adalah pilihan terbaik. Ia bisa merekam momentum atau kejadian dengan cepat dengan menggunakan alat sederhana seperti pensil, pen, kuas, tinta bak (Cina) dan media kertas saja.

Kesulitan dalam mendokumentasikan peristiwa sejarah terutama perang menggunakan kamera juga diamini oleh Hairus. Selain kamera tidak mudah diakses, “hampir tidak mungkin kamera mendokumentasikan kegiatan sehari-hari dan kerja paksa,” kata Hairus.

Foto-foto pada masa sebelum reformasi kebanyakan adalah foto pose, sehingga sangat minim muatan historisnya, berbeda dengan sketsa yang dikerjakan di lapangan langsung seperti dilakukan oleh Greg maupun sketsa yang berdasarkan ingatan seperti karya Gumelar. Maka, keberadaan buku, sketsa, puisi, atau teks lainnya sangat penting untuk bangsa Indonesia, sebagai proses untuk belajar dari masa lalu.

“Buku ini adalah bagian dari proses itu (tidak mengulangi kesalahan masa lalu),” ujar Hairus.

Tapi ternyata tidak semua sketsa dapat menjadi pelengkap informasi peristiwa sejarah tanpa konteks.

Yosef Djakababa seorang konsultan pada American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) mengatakan tanpa konteks dan penjelasan mengenai latar belakang peristiwa, misalnya peristiwa 1965, sketsa tidak akan memiliki makna yang khusus dan penting.

“Konteks sangat penting untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui sketsa-sketsa tersebut, tanpa konteks sketsa hanyalah gambar semata,” kata Yosef kepada tirto.id melalui e-mail.

Infografik Sketsa sebagai dokumentasi sejarah


Sebagai sejarawan, ia memiliki metode khusus untuk memastikan sebuah sketsa berpotensi sebagai data sejarah atau tidak. Ia akan melakukan rekonstruksi sebuah peristiwa atau fenomena sejarah dengan menggunakan berbagai sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sketsa bisa menjadi sumber dan materi untuk merekonstruksi narasi sejarah, tapi ia memerlukan informasi tambahan. Misalnya dari sumber-sumber resmi seperti kearsipan pemerintah atau studi-studi terdahulu mengenai topik yang dibahas.

“Bisa juga dari sumber-sumber lain tertulis maupun tidak tertulis (sejarah lisan) yang mampu memperkuat konteks dan tafsiran yang diperlukan untuk sebuah penulisan sejarah,” papar Yosef.

Menurutnya, sketsa Greg telah memberikan impresi yang sangat kuat atas tragedi kemanusiaan yang terjadi pada masa ketika sketsa itu dibuat. Sehingga ia bisa memperkaya mengenai pemahaman mengenai tragedi 1965.

“Kita bisa membayangkan tantangan-tantangan berat yang dihadapi para tapol di Pulau Buru yang karena satu dan lain hal nasib membawa mereka ke tempat rehabilitasi Pulau Buru,” lanjutnya.

Tragedi 1965, menurut Yosef, bagaimanapun masih penuh kontroversi dan belum tercapai konsensus ihwal bagaimana peristiwa itu bisa diceritakan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, narasi-narasi tentang tragedi 1965 yang beredar cenderung mempunyai agenda atau kepentingan tertentu.

Baca juga artikel terkait PULAU BURU atau tulisan menarik lainnya Mutaya Saroh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight