Menuju konten utama

Pemerintah Belum Maksimal Cegah Karhutla & Dampak El Nino

Teknologi modifikasi cuaca dan water bombing, menurut WALHI hanya mengeluarkan biaya mahal namun tak menyelesaikan akar masalah.

Pemerintah Belum Maksimal Cegah Karhutla & Dampak El Nino
Api membakar hutan dan lahan di Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/6/2023). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/aww.

tirto.id - Manager Kampanye Hutan dan Kebun Eksekutif Nasional WALHI, Uli Arta Siagian menilai upaya mitigasi pemerintah dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam mengantisipasi El Nino masih belum maksimal.

Upaya pemerintah lewat teknologi modifikasi cuaca (TMC) dan water bombing menggunakan helikopter, menurut Uli hanya mengeluarkan biaya mahal namun tak menyelesaikan akar masalah.

Menurutnya, ketegasan pada korporasi yang wilayah konsensinya terpantau kerap timbul peristiwa karhutla perlu ditinjau pemerintah, agar ada pertanggungjawaban dan penanganan menyentuh pokok masalah.

“Tapi harus dilihat sisi tanggung jawab yang diberikan pada korporasi. Karena berdasarkan catatan WALHI kebakaran hebat di tahun 2015 dan 2019 banyak terjadi di wilayah konsensi. Per Juni 2023 juga kajian kita hotspot api berada di wilayah perusahaan,” ujar Uli dihubungi reporter Tirto, Jumat (28/7/2023).

Uli menambahkan, upaya pemerintah saat ini memang bisa mengurangi dampak dari El Nino, tapi kejadian karhutla akan terus berulang jika tidak dilakukan evaluasi di area konsensi.

“Sehingga anggaran besar besaran untuk modifikasi cuacanya tida akan menjawab permasalahan. Akarnya adalah salah urusnya negara pada pengurusan ekosistem hutan dan gambut juga penerbitan izin secara masif pada kawasan hutan dan gambut,” jelas Uli.

Pemerintah, kata Uli, harus tegas untuk mencabut izin kepada korporasi yang terbukti melanggar. Selain itu, wilayah konsensi milik korporasi yang terbakar juga perlu dituntut pemenuhan hak dan pemulihan lingkungannya.

“Pemerintah perlu melahirkan kebijakan kebijakan untuk mengevaluasi perizinan, mengaudit lingkungan, dan menegakkan hukum bagi perusahaan yang melanggar,” ujar Uli.

Ia menuturkan, dampak dari kebakaran hutan besar pada 2015 dan 2019 sangat besar. Negara, kata Uli, mungkin rugi triliunan rupiah, namun masyarakat kehilangan banyak hal seperti waktu dan hak mencari pemenuhan ekonomis.

“Anak anak tidak bisa mendapatkan akses pendidikan, tidak bersosialisasi, dan berdampak pada perekonomian ini kan berdampa karena terdampak asap sehari-hari,” jelas Uli.

Uli mendorong pemerintah mulai menerapkan kebijakan untuk mencegah kelangkaan air bersih dan kekeringan di sejumlah daerah. Selain itu, perlu waspada bahwa El Nino tahun ini bisa berdampak lebih serius dari sebelumnya.

Uli menyatakan bahwa beberapa peneliti iklim mancanegara bahkan memperkirakan bahwa tahun ini masuk kategori super El Nino, yang artinya memiliki dampak jauh lebih besar.

“Peristiwa super El Nino ini akan lebih kering dan lebih panas sehingga situasi ini akan berdampak pada titik api atau hotspot pada wilayah-wilayah dengan karhutla besar,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait DAMPAK EL NINO atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Bayu Septianto