tirto.id - Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memaparkan rangkaian prosesi suksesi untuk penggantian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dia menjelaskan bahwa proses pergantian akan dilakukan melalui sidang khusus yang dihadiri oleh Dewan Pakar dan Dewan Ahli Iran.
"Kemudian sambil menantikan Dewan Pakar atau Dewan Ahli di negara kami mengadakan sidangnya, melalui sidang tersebut pemimpin agung pengganti bisa dipilih," kata Boroujerdi di rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).
Dia menyampaikan selama kursi pemimpin agung kosong, maka Iran akan membentuk dewan kepemimpinan yang terdiri presiden, kepala kekuasaan yudikatif dan dewan penjaga konstitusi. Diketahui bahwa saat ini, presiden Iran diemban oleh Masoud Pezeshkian.
"Tentu berdasarkan Undang-Undang Republik Islam Iran, kami memiliki mekanisme di negara kami, yaitu dalam situasi dikarenakan alasan apa pun, seorang pemimpin agung tidak dapat melaksanakan tugasnya, maka akan terbentuk sebuah dewan kepemimpinan sementara, yang anggotanya adalah tiga orang: Presiden, kemudian Kepala Kekuasaan Yudikatif, dan salah satu anggota dari Dewan Penjaga Konstitusi," ujarnya.
Dilansir dari Al Jazeera, mantan Presiden Iran, Hassan Rouhani, menjadi salah satu kandidat terkuat yang akan menggantikan kedudukan Ali Khamenei. Al Jazeera mengatakan Rouhani merupakan seorang veteran perang dan sempat memimpin proses negosiasi Iran dengan banyak negara mengenai kebijakan nuklir dalam negeri.
Menurut sejumlah analis politik, Rouhani dikenali dengan gaya kepemimpinan moderasi. Selama dia menjadi presiden yang berakhir pada 2021, Rouhani lebih terbuka terhadap negosiasi terutama perihal proliferasi nuklir Iran.
Meski demikian, Rouhani sempat terpinggirkan oleh sejumlah kelompok politik Iran karena berkembangnya kelompok konservatif yang mendukungnya.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id






























