Para Politikus yang Dihajar Skandal Seks

Oleh: Yantina Debora - 12 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ada kasus Bill Clinton, Silvio Berlusconi, dan Yahya Zaini.
tirto.id - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan mantap mengusung Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Abdullah Azwar Anas untuk maju dalam Pilkada Jawa Timur 2018. Di tengah keriuhan pilkada yang juga akan dilakukan di berbagai wilayah, foto mirip Azwar Anas beredar luas.

Foto itu menampilkan seorang pria yang diduga merupakan Bupati Banyuwangi tersebut sedang memegang paha seseorang. Anas tak membantah pun tak mengiyakan soal sosok dalam foto itu adalah dirinya.

Anas malah membicarakan bahwa dirinya juga dikirim foto-foto lama. Namun, ia tak menjelaskan apakah foto tersebut sama atau berkaitan dengan yang foto tengah jadi perbincangan publik.

"Saya juga dikirimi macam-macam gambar di masa lalu untuk mencegah saya mengambil kebijakan-kebijakan tertentu. Tapi kan saya tetap lanjutkan apa yang baik bagi orang banyak,” kata Anas.

Foto itu membuat PDI Perjuangan angkat bicara. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa Anas adalah korban “politik kejam.” Tak menunggu lama, Anas pun mengembalikan langsung mandat sebagai cawagub Jawa Timur mendampingi Gus Ipul ke PDI.

Pengaruh Skandal

Shaun Bowler and Jeffrey A. Karp dalam tulisannya “Politicians, Scandals and Trust in Government” memaparkan bagaimana suatu skandal tak hanya mempengaruhi citra seseorang di hadapan publik namun memiliki konsekuensi luas hingga pada institusi politik.

Sebuah skandal tak hanya mampu membunuh karier seorang politisi, juga dapat mencoreng institusi sang politikus di hadapan publik. Suatu skandal bukan hanya mempengaruhi popularitas seorang kandidat, tetapi mengurangi kepercayaan terhadap pemerintahan.

Akan tetapi, meski sebagian masyarakat akan marah terhadap seorang politisi yang tersangkut skandal, ada beberapa politikus yang mampu mempertahankan jabatan atau kekuasaan dan terhindar dari jerat maut sebuah skandal. Hal itu diungkapkan Dimock dan Jacobson yang pernah meneliti sebuah skandal yang terjadi tahun 1992.

Bahkan, ada juga politikus yang terpilih kembali dalam pemilu meski hasil pemilu sedikit berkurang dari target suara yang diharapkan. Apa yang membuat politisi mampu bertahan dan dapat menghindari sebuah skandal?

Paul Gallagher dari Burson-Marsteller menjawab pertanyaan itu dengan dua kata yaitu political goodwill. Keinginan untuk memimpin dengan ditunjukkan melalui hasil kerja terkadang dapat membantu sang politikus untuk mendapat dukungan warga. Sebagian besar warga masih melihat pada kinerja, sehingga hal ini dapat menyamarkan skandal seperti seks atau foto, video asusila yang dibuat oleh seorang politisi.


Presiden AS tahun 1993-2001 Bill Clinton menjadi salah satu politisi yang mampu bertahan saat diterpa skandal seks tahun 1998 dengan dengan staf Gedung Putih Monica Lewinsky yang berusia 22 tahun.

Clinton membantah isu miring tersebut dan mengungkapkan bahwa ia tak mengenal Lewinsky. Penyangkalan kerap digunakan para politis namun terkadang itu tak akan banyak mengubah tudingan soal skandal yang menerpa dirinya. Kepada Hillary, Bill Clinton juga mengungkapan bahwa kabar tersebut adalah bohong.

"Saya tidak memiliki hubungan seksual dengan wanita itu [Lewinsky]," ujar Clinton.

Upaya Clinton untuk menghidar dari skandal itu gagal setelah Linda Tripp, pegawai Pentagon, secara diam-diam merekam percakapan Bill dengan Lewinsky. Tripp lalu menyerahkan rekaman itu kepada Kenneth Starr, seorang jaksa independen.

Pada 9 September 1998, Starr menyampaikan laporan rekaman ini ke Kongres. Usaha Clinton untuk membantah tuduhan tentang perselingkuhannya pun berakhir dengan ia harus menghadapi pemakzulan lantaran telah memberikan kesaksian palsu dan menghalangi proses hukum.

Senat pun harus mengambil keputusan dengan memilih apakah Clinton bersalah atau tidak dalam skandal seks, dan jika ingin menumbangkan Clinton maka suara senat harus mencapai dua per tiga dari 100 suara yang setuju Clinton bersalah.


Ternyata, sebagian besar senat masih menginginkan Clinton sebagai presiden. Ada 45 suara Demokrat dan 10 orang Republikan memilih bahwa Clinton "tidak bersalah."

"Pada saat skandal Lewinsky, Clinton memiliki persediaan pendukung Demokrat yang cukup bagus, dan opini publik juga agak berbalik melawan kaum Republik pada saat bersamaan," kata Gallagher.

Infografik skandal seks para politisi


Cara lain para politisi keluar dari jeratan skandal seks yaitu memanfaatkan media. “Aliran dan arus dari siklus berita memainkan peran penting dalam menentukan dampak dari skandal seks,” kata Gallagher.

Silvio Berlusconi yang diserang isu skandal seks saat masa jabatan ketiganya sebagai Perdana Menteri Italia mampu menghindar karena memiliki pengaruh yang kuat dalam berbagai sektor termasuk media. Selain sebagai pengusaha kaya raya, ia juga memiliki club sepakbola yang memiliki banyak penggemar.


Dengan pengaruhnya yang sangat kuat ia kerap terhindar dari skandal yang menerpanya termasuk skandal korupsi. BBC bahkan menyebutnya “Perdana Menteri yang tak tersentuh.”

Pengaruh media juga terjadi pada kasus skandal seks politisi Indonesia. Jauh sebelum skandal foto Anas, yaitu pada tahun 2006, Yahya Zaini menggemparkan publik terkait video mesum dengan pedangdut Maria Eva. Saat itu Yahya Zaini masih menjadi anggota DPR.

Mite Setiansah dalam tulisannya “Politik Media dalam Membingkai Perempuan” mengungkapkan bagaimana pemberitaan media yang membingkai Maria Eva sebagai sosok yang bersalah dalam kasus video seks ini.

Dosen komunikasi di Unsoed yang tertarik pada riset mengenai komunikasi, gender, budaya dan pemberdayaan masyarakat ini memaparkan media memang memiliki kekuasaan dalam mengarahkan keberpihakan, penilaian, pernyataan benar-salah dan sebagainya untuk pembaca.


Yahya Zaini, menurut penelitian Mite, terbantu oleh pemberitaan yang lebih banyak menggunakan model frame favorable atau pemberitaan yang menguntungkannya. Namun, Yahya memilih untuk mengundurkan diri dari DPR.

Meski demikian, setelah satu dekade tak tampak dalam kancah politik nasional, Setya Novanto memasukkan nama Yahya Zaini dalam DPP Partai Golkar sebagai Ketua Bidang Hubungan Legislatif, Eksekutif dan Lembaga Politik. Hal ini tak lepas dari peran Yahya sebagai tim sukses Caketum Setya Novanto dalam Munaslub Golkar.

Yahya Zaini juga dikenal sebagai salah satu politikus yang piawai melakukan lobi politik dengan jaringan yang begitu kuat. Setelah menghilang kabar skandal seksnya, ia pun kembali dalam kancah politik nasional.

Baca juga artikel terkait VIDEO SEKS atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Politik)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Maulida Sri Handayani
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live