Mozaik

Pakwan Pajajaran Adalah Nama Ibu Kota Kerajaan Sunda

Kontributor: Muhamad Alnoza, tirto.id - 19 Agu 2023 17:05 WIB | Diperbarui 27 Sep 2023 06:37 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Orang banyak salah sebut Pajajaran sebagai nama sebuah kerajaan. Semestinya, ia adalah nama ibu kota Kerajaan Sunda.
tirto.id - Pada suatu waktu di awal abad ke-16, seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires singgah di Jawa. Di pulau itu, disebutnya eksis dua kerajaan, yaitu Sunda dan Jawa. Tentang kerajaan Sunda sendiri, Pires menceritakannya punya lima pelabuhan besar dan ibu kotanya terletak agak di pedalaman.

Mari kita periksa Suma Oriental, catatan perjalanan Tome Pires yang terkenal itu. Dalam edisi Suma Oriental: Karya Tome Pires, perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Fransisco Rodrigues (2018) terjemahan Armando Cortesao, kita dapati Pires menyebut Kota Dayo tempat raja menghabiskan sebagian besar waktunya dalam setahun.

“Orang-orang berkata bahwa Sang Raja memiliki rumah yang sangat bagus, dibangun menggunakan 330 pilar kayu setebal tong anggur, setinggi lima depa dan dihiasi ukiran yang sangat indah di bagian atasnya. Perjalanan ke kota ini memakan waktu dua hari dari pelabuhan utama bernama Sunda Kelapa (Calapa),” catat Pires.

Sebutan Dayo itu kemungkinan adalah cara Pires yang orang Portugis melafalkan kata Sunda dayeuh yang berarti ibukota. Seturut keterangan Pires pula, para arkeolog dan sejarawan dapat menerka bahwa lokasi Dayo itu berada di sekitar Kota Bogor sekarang.

Namun, orang Sunda tidak mengenal ibu kota kerajaannya di masa lalu sebagai Dayo atau Dayeuh. Pasalnya, beberapa sumber prasasti atau manuskrip Sunda Kuno tidak pernah menyebut dayeuh secara tunggal atau berdiri sendiri. Pun masyarakat Sunda lebih mengenal kota yang Pires sebut sebagai dayo itu sebagai “Pakwan Pajajaran”.

Setidaknya, nama itulah yang tercatat dalam beberapa prasasti berbahasa Sunda Kuno, seperti Prasasti Kebantenan dari Bekasi, Huludayeuh dari Cirebon, dan Batu Tulis. Ketiga prasasti yang dikeluarkan sekitar abad ke-15 hingga ke-16 itu menyebut nama seorang raja Sunda bersisian dengan tempatnya berkuasa, yaitu “Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran”.

Jadi, terang pula bahwa Pakwan (atau Pakuan) Pajajaran adalah tempat bertakhtanya raja Sunda, bukan nama kerajaannya sebagaimana yang diketahui jamak masyarakat sekarang.



Dipilih Bujangga Sedahmanah
Pakwan Pajajaran dalam sejarah Nusantara memiliki kedudukan yang unik. Pasalnya, ia merupakan salah satu kota kuno yang diketahui ditata secara khusus. Menurut studi Fragmen Carita Parahyangan (2003) yang disusun oleh Undang A. Darsa dan Edi S. Ekadjati, Kota Pakwan Pajajaran dibangun di atas pengembangan keraton Sunda yang bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.

Ia dirancang oleh seorang cendekia bernama Bujangga Sedahmanah. Dia dipercaya oleh Raja Trarusbawa untuk menentukan tempat yang baik untuk pendirian suatu pusat pemerintahan. Bujangga Sedahmanah kemudian memilih sebuah lahan yang terletak di antara dua sungai besar, yakni Ciliwung dan Cisadane.

Apabila dipandang dari utara, kota itu juga samar-samar dibayangi dua gunung besar Tatar Sunda, yakni Gunung Gede dan Gunung Salak.

Salah satu keunikan Pakwan Pajajaran adalah bentuk keratonnya. Menurut riset arkeolog Agus Aris Munandar dkk. dalam Bangunan Suci Sunda Kuna (2011), keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati merupakan kesatuan dari lima keraton yang didirikan dalam posisi berjajar. Dari itu pulalah nama Pakwan Pajajaran berasal—lima pakwan atau keraton yang berjajar.

Adapun masing-masing keraton memiliki fungsinya masing-masing. Hal ini tersirat dari penamaan masing-masing keraton itu. Keraton Bima berfungsi sebagai tempat bermukimnya para tentara Kerajaan Sunda, sedangkan Keraton Punta berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para abdi yang melayani raja.

Lalu, Keraton Narayana berfungsi sebagai pusat kesenian dan kebudayaan, sementara Keraton Madura berfungsi sebagai tempat para pejabat menghadap raja atau di masa Islam dikenal sebagai paseban atau pasewakan. Titik tersuci adalah Keraton Suradipati yang berfungsi sebagai tempat raja beserta keluarganya berkediaman.

Tarikh pendirian Pakwan Pajajaran yang persis belum dapat dipastikan sampai saat ini. Namun, periodisasi pendiriannya masih bisa ditaksir. Beberapa dugaan muncul, salah satunya dinyatakan oleh Munandar.

Munandar berpatokan pada keterangan yang terdapat di Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal memuat nama Raja Sanjaya yang kemungkinan merupakan menantu Raja Trarusbawa. Maka Kota Pakwan Pajajaran setidaknya sudah ada sejak abad ke-7 M.

Infografik Mozaik Pakwan Pajajaran
Infografik Mozaik Pakwan Pajajaran. tirto.id/Tino



Keruntuhan dan Pergeseran Makna Pakwan Pajajaran
Pakwan Pajajaran sebagaimana diduga oleh Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara (2009) runtuh akibat serangan Kesultanan Banten. Peristiwa ini dalam historiografi Sunda terjadi pada 1579 M. Meski demikian, beberapa peneliti lain masih menyangsikan angka tahun ini.

Keraguan itu agaknya berhubungan dengan telaah Atja dan Saleh Danasasmita (1981) atas manuskrip Carita Parahyangan. Dua peneliti itu menyebut bahwa orang Sunda abad ke-16 justru lebih mengingat Demak dan Cirebon sebagai penyebab runtuhnya Kerajaan Sunda dan Kota Pakwan Pajajaran.

Dalam tradisi Banten, terutama dalam manuskrip Sajarah Banten yang versi-versi awalnya diperkirakan ditulis pada abad ke-17, penaklukan Kota Pakwan Pajajaran secara simbolik diparipurnakan dengan pemindahan watu gilang (batu pelantikan kerajaan) Palangka Sriman Sri Wacana dari kota itu ke Keraton Surosowan di Banten.


Sementara itu, takluknya Pakwan Pajajaran disebut pula dalam cerita pantun Dadap Malang Sisi Cimandiri. Pantun Sunda itu mewartakan keruntuhan Pakwan Pajajaran secara dramatis. Itu bisa dimengerti mengingat Pakwan Pajajaran telah berumur sangat panjang dan punya posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Sunda di zamannya.

Nama Pakwan Pajajaran memang tetap bertahan dalam ingatan generasi kita di zaman ini. Namun, ia telah mengalami pergeseran. Alih-alih nama ibu kota kerajaan, Pakwan Pajajaran di benak orang-orang masa kini lebih identik sebagai nama sebuah kerajaan. Ia bahkan dipakai menjadi nama universitas negeri terkenal dengan melepas identitas kekotaannya.

Mengapa bisa demikian? Saleh Danasasmita dalam Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi (2015) menyebut bahwa perubahan makna ini kemungkinan bermula dari kebiasaan orang Nusantara yang mengidentikkan suatu kota sebagai representasi dari entitas yang lebih luas. Sebutan “orang Padang”, misalnya, yang jamak dipakai untuk menyebut keseluruhan etnis Minangkabau.

Namun, teori Danasasmita ini agaknya perlu ditinjau kembali mengingat sejak kapan tradisi penyebutan Pajajaran sebagai nama kerajaan belum bisa dijawab. Petunjuk lain yang agak lebih jelas atas fenomena ini bisa ditakik dari selembar piyagem (prasasti logam) yang dikeluarkan oleh Sunan Amangkurat IV dari Mataram. Piagam yang dikeluarkan pada abad ke-18 itu ditujukan untuk suatu daerah bernama Tunjungbang di Ciamis.

Berdasarkan pembacaan K.F. Holle atas sumber tertulis tersebut yang dimuat dalam Bijdragen tot de Geschiedenis der Preanger-Regenstschaapen (1869), pihak Mataram pada saat itu telah menyebut orang Sunda sebagai “orang Pajajaran”. Oleh karena itu, pergeseran nama Pajajaran kemungkinan mulai telah terjadi tak lama usai runtuhnya Kerajaan Sunda.

Baca juga artikel terkait SUNDA atau tulisan menarik lainnya Muhamad Alnoza
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Muhamad Alnoza
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight