Misbar

Our Flag Means Death Bukan Kisah Perompak Biasa

Penulis: R. A. Benjamin - 3 Apr 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Meski longgar, Our Flag Means Death tetap setia pada narasi sejarah. Kesegaran muncul dari pendekatan komedi dan keseharian para perompak.
tirto.id - Adaptasi dan replikasi kisah bajak laut ke berbagai medium seperti tiada habisnya. Kesan maskulin dan imaji kebebesan yang sarat pemberontakan sejak lama menjadi daya pikat bagi para tokohnya. Selain petualangan bandit lautan yang penuh warna, romantisasi catatan sejarah juga membuat mereka terdengar nyaris seperti mitos.

Penceritaannya seakan bisa dihadirkan dan dikembangkan dalam wujud apa saja. Di televisi dalam dua dekade terakhir saja, muncul judul-judul seperti Black Sails milik Starz dan The Lost Pirate Kingdom oleh Netflix. Di layar lebar, eksistensi waralaba populer Pirates of the Caribbean milik Disney tentu tak bisa diabaikan.

Jika judul-judul itu bisa dibilang mengambil pendekatan petualangan dan drama yang lebih serius, tidak demikian dengan Our Flag Means Death—serial bajak laut baru yang mulai tayang di HBO Max pada awal Maret 2022.

Selepas film dan serial komedi soal kehidupan vampir What We Do in the Shadows dan bermain-main dengan Nazi dalam Jojo Rabbit (2019), Taika Waititi kembali terlibat dalam proyek kisah perompak yang di luar kebiasaan. Selain sebagai produser eksekutif, Waititi pun terlibat sebagai sutradara untuk episode pilotnya. Dia bahkan memainkan sendiri peran sang iblis lautan Edward Teach alias Blackbeard.


Kendati tak bisa benar-benar dibilang "serialnya Taika Waititi", serial yang ditulis oleh David Jenkins ini masih berbagi gaya humor yang sama, dengan kecanggungan sampai tahap tertentu, dan sederet karakter innocent nan jauh dari stereotip suatu golongan.

Our Flag Means Death menampilkan sosok Blackbeard yang terkenal menakutkan ke dalam gaya komedi. Sekilas, itu terdengar serampangan, tapi bukan berarti tak mungkin.


Bukan Perompak yang Kapabel

Untuk masuk ke dunianya Blackbeard, Waititi menggunakan kisah seorang perompak tak biasa yang sempat menjadi kolaboratornya: Stede Bonnet. Jika ada perompak abad ke-18 yang kisah hidupnya paling memungkinkan untuk ditampilkan dalam bentuk komedi, itu tak lain memang Stede Bonnet. Tak seperti kebanyakan kapten yang mengawali kariernya sebagai privateer atau pelaut, Bonnet adalah anak dari keluarga kaya Inggris pemilik lahan perkebunan di Barbados.

Suatu waktu, Bonnet merasa ada lubang menganga dalam hidupnya. Kehidupan tenteram lagi berkecukupan bersama keluarganya tidaklah cukup. Tanpa pemahaman apa pun soal laut, dia lantas memutuskan untuk menjadi bajak laut.

Dihantui keinginan membuktikan diri pada orang-orang terdekat yang meremehkannya, berangkatlah dia menyongsong kehidupan bebas lautan. Premis inilah yang mendasari kisah Our Flag Means Death.

Alih-alih mencuri kapal atau mewarisinya dari eks kapten seperti lazimnya perompak lain, Stede Bonnet (Rhys Darby) membeli sendiri kapalnya. Dia juga tak lupa membuat ruang kapten dengan desain khusus yang mewah.

Alih-alih pertumpahan darah, Bonnet pikir konflik bisa diselesaikan dengan berlaku ramah. Bonnet malah lebih condong dianggap seorang jentelmen daripada perompak. Menurutnya, kalau memang bisa, mengapa tak jadi keduanya sekaligus. Maka Bonnet melabeli dirinya sendiri sebagai gentleman pirate dan berupaya keras mempertahankan brand itu.

Infografik Misbar Our Flag Means Death
Infografik Misbar Our Flag Means Death. tirto.id/Sabit


Ketidakcakapan Bonnet sebagai perompak—apalagi kapten—juga menjadi sumber utama berbagai kelucuan di serial ini. Kapten bajak laut atau orang waras mana pula yang membeli peta harta karun dan mempercayai isinya?

Bonnet mengarungi Lautan Karibia dengan para awak multietnis yang sebagian besar buta huruf dan tak begitu cerdas—brigade imbisil, demikian Blackbeard menyebutnya. Kelucuan lebih lanjut pun datang dari orang-orang bergajul ini dengan dialog, situasi konyol, dan kelakuan menggelikan yang secara implisit menengarai kepolosan—atau malah kebodohan—mereka.

Perahu nelayan yang ditumpangi dua orang menjadi penyerbuan perdana kelompok Bonnet. Bola meriam yang dijatuhkan dengantangan kosong menjadi tembakan peringatannya dan kemudian mereka mendapatkan jarahan pertama berupa satu pot tanaman. Aksi konyol ini sekaligus begitu krusial karena, selain memberi gambaran kisah macam apa yang bakal kita hadapi, momen inilah yang menyelamatkan nyawa Bonnet dari eksekusi kelak.

Di samping plot utamanya, Our Flag Means Death menyajikan pula petualangan baru nyaris setiap episodenya. Aksi-aksi mereka pun tak melulu berarti pembajakan atau swashbuckling melawan angkatan laut—porsi untuk aksi khas perompak macam ini malah terbilang tak banyak. "Petualangan" dalam serial ini berarti Bonnet dan Blackbeard mengencingi palsunya pergaulan masyarakat kelas atas, mengerjai kapal musuh dengan sandiwara seraya memegang tengkorak bagai Yorick dalam Hamlet, dan berbagai kisah konyol di daratan.

Di antara petualangan itu, serial ini menampilkan satu hal yang bisa dibilang cukup jarang disorot dalam kisah-kisah bajak laut lainnya: kehidupan sehari-hari para bajak laut. Ini berarti para awak yang mendesain dan menjahit sendiri jolly roger mereka, mengurusi awak yang sakit, hingga mengalami krisis eksistensi. Kombinasi antara petualangan dengan gayanya sendiri dan slice of life kru bajak laut yang menyingkirkan bubuk mesiu demi memberikan tempat untuk tong-tong berisi marmalade.


Modifikasi Sejarah Perompak

Dunia Our Flag Means Death bisa dikatakan anakronistis alis tak sesuai zaman. Kita memang melihat penggambaran Karibia abad ke-18 yang cukup realistis (selain penampilan Blackbeard yang bagai baru pulang dari gig The Ramones). Tapi di saat yang sama, ia menetapkan standar sosial hari-hari ini.

Di sini, salah seorang awak Bonnet mengidentifikasi dirinya sebagai nonbiner dan menggunakan pronouns "they/them". Sementara itu, ada pula orang-orang suku pedalaman yang mampu berbahasa Inggris dengan fasih dan kerap menyindir kolonialisme Eropa. Tak habis itu, salah seorang karakternya seolah menyindir citra perompak dengan menyebut Republik Bajak Laut di Nassau sebagai "tempat yang tergentrifikasi".


Kreator serial ini sebenarnya bisa saja menggambarkan sosok dan kisah Bonnet yang benar-benar baru. Namun, mereka tetap mengangkat kisah hidup Bonnet dan zaman keemasan perompakan sebagaimana yang tercatat dalam sejarah—meski secara longgar. Kebanyakan fakta itu lantas dibengkokkan demi efek komedi atau mungkin juga memberi interpretasi baru.

Misalnya, sang perompak jentelman digambarkan mengoleksi banyak buku dan pakaian. Hal itu memang bersandar pada catatan sejarah—semasa Blackbeard memimpin kapalnya, Bonnet memang nyaris hanya membaca buku dan mondar-mandir belaka dengan pakaian-pakaian mewahnya di kapal.

Sebagaimana di dunia nyata, pemberontakan juga terjadi di kapal ketika para kru tak puas akan kepemimpinan kaptennya. Mitos perempuan sebagai pembawa sial di kapal juga disertakan. Dan Blackbeard ditampilkan melatih aksi teatrikalnya untuk menebar kesan menyeramkan pada mangsanya.

Beberapa perompak di sekitar Bonnet dan Blackbeard juga diangkat dari tokoh nyata masa itu. Sebutlah di antaranya Calico Jack, Izzy Hands (diangkat dari Israel Hands, komandan pertama Blackbeard), dan Bonifacia Jimenez yang direka berdasarkan Anne Bonny (satu dari sedikit perempuan yang pernah berlayar sebagai perompak). Ada pula tokoh mitos di Lautan Karibia saat itu, seperti bajak laut perempuan bernama Jacquotte Delahaye yang ditampilkan dalam karakter Spanish Jackie.

Menariknya, Our Flag Means Death tak melulu patuh pada catatan sejarah bajak laut yang memang kerap difabrikasi. Hal ini tampak misalnya ketika Blackbeard komplain soal penggambarannya dalam buku-buku di mana di tubuhnya selalu tercantel sejumlah pedang, pisau, dan pistol. Blackbeard dalam seri ini berbeda, dia tidak membawa senjata sebanyak itu.

Ini seolah mementahkan penggambaran para bajak laut masa itu yang kebanyakan bersumber dari buku A General History of the Pyrates yang ditulis Captain Charles Johnson.

Seperti halnya kisah-kisah romantisasi bajak laut lainnya, seri ini juga menampilkan kedai-kedai minuman sebagai tempat kongko, bisnis, dan melakukan perencanaan. Namun, rumah bordil—satu tempat favorit para perompak—justru absen dalam serial ini.

Para perompak lusuh dan bau memangku pelacur merupakan pemandangan biasa dalam banyak kisah romantisasi bajak laut. Tapi, serial ini nyaris sepenuhnya melawan narasi itu: tidak heteronormatif, plus menyingkirkan kesan queerbaiting dengan menampilkan sejumlah bajak laut gay. Bukan bromance, melainkan romance betulan.

Di kalangan perompak masa itu, perilaku gay dan biseksual memang bukan pemandangan aneh. Matelotage—semacam pernikahan sesama jenis antarperompak—bahkan jadi praktik yang lumrah. Lagipula, bajak laut kerap dipandang lebih demokratis dan egaliter ketimbang masayarakat sipil pada masanya. Our Flag Means Death mempertahankan karakteristik itu dan karenanya jadi berbeda dibanding kisah-kisah bajak laut kebanyakan.


Petualangan yang Belum Selesai

Kau bisa menganggap serial ini sebagai kisah soal keluarga atau cinta yang ditemukan di sepanjang jalan. Bukan penggambaran akurat suatu periode memang, tapi juga tak lepas sepenuhnya dari sejarah zaman keemasan perompakan.

Rhys Darby menjadi aktor yang tepat untuk memerankan perompak macam Stede Bonnet. Taika Waititi tampaknya bisa menjadi apa dan siapa saja dengan caranya sendiri. Begitu juga ulah para awak dengan segala kekonyolannya masing-masing yang layak dinantikan.

Sejauh ini, belum ada kepastian apakah serial ini bakal berlanjut ke musim berikutnya atau tidak. Meski begitu, finale seasonpertamanya memberikan kita harapan untuk bertemu kembali dengan Bonnet dan Blackbeard, juga petualangan tak lazim lainnya.

Our Flag Means Death mungkin bukan serial komedi paling lucu yang membuatmu terbahak di setiap kesempatan. Namun, kalau kisah perompak yang ringan dan di luar kebiasaan adalah preferensimu, ini adalah serial yang tepat. Kisah yang mungkin kau tak tahu kaubutuhkan.

Baca juga artikel terkait BAJAK LAUT atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Film)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight