Leonard Theosabrata

"Omong Kosong Jika Kita Bilang Bisa Bantu Seluruh UKM di Indonesia"

Oleh: Joan Aurelia - 18 Desember 2020
Dibaca Normal 4 menit
Sukses membentuk pasar lewat The Goods Dept dan Brightspot Market, kini Leonard mengurusi Smesco, layanan UMKM plat merah. Tantangannya adalah birokrasi.
tirto.id - Sebelas tahun lalu, bazar fesyen dan aksesori Brightspot Market mengubah persepsi orang muda Jakarta dalam memandang dan memaknai produk lokal. Pada dekade itu dan sebelumnya, kata produk kreatif lokal identik barang-barang fesyen, aksesori, atau kriya yang bernuansa tradisional (batik, misalnya).

Leonard Theosabrata, yang bekerja sama dengan Anton Wirjono dan Cynthia Wirjono mendirikan Brightspot Market, menilai anak muda kita mampu memproduksi ragam produk lokal dengan desain kontemporer dan mutu berkualitas. Barang-barang itu di antaranya sepatu bot kulit, dompet kulit, produk aksesori interior, dan fesyen.

Brightspot sukses. Ia menginspirasi para organizer bazar fesyen lain untuk mengadakan acara serupa. Dalam forum TedX pada 2012, Leonard berkata Brightspot pada awalnya hanya menyaring 30 brand lokal. Tahun-tahun berikutnya, ia mengkurasi ratusan brand lokal yang hendak mengikuti acara tersebut.

Orang-orang yang datang ke Brightspot lantas memiliki ciri khas dan karakter tersendiri. Dari sana muncul istilah gaya fesyen hipster atau gaya indie.

Kesuksesan Brgihtspot membuat Leonard dan kawan-kawan sepakat mendirikan The Goods Dept, multi brand store yang menjual busana dan aksesori dari desainer lokal, sebagian adalah tenant Brightspot.

Brightspot dan Goods Dept akhirnya menginspirasi calon wirausahawan muda membuat usaha dengan metode branding yang serupa. Ia jadi tempat yang dituju kala anak muda Jakarta ingin melihat barang-barang apa yang dipandang keren.

Di era media sosial, produk-produk yang dijajakan Brightspot turut jadi trendsetter produk gaya hidup yang diminati anak muda.

Leonard menilai platform untuk berjualan saja tidak cukup. Maka, ia mendirikan Indoestri Makerspace. Tempat ini ibarat workshop bagi anak-anak muda yang berminat jadi pengusaha, tapi tak punya peralatan berkarya, agar bisa membuat model produk yang berbahan dasar metal, kayu, atau tekstil.

Di tempat itu Leonard merancang berbagai kelas: dari kelas pembuatan berbagai jenis produk hingga kelas branding dan copywriting. Intinya, materi jadi pebisnis di industri kreatif. Orang juga bisa memilih kelas privat yang bisa didampingi seorang mentor ketika merampungkan produk.

Apa yang Leonard lakukan di Indoestri Makerspace ini kemudian jadi “modul” atau purwarupa program yang ia terapkan ketika diberi tanggung jawab untuk mengelola ruang kreatif Jakarta Creative Hub dan kini Smesco.

Saya mewawancarai Leonard pada Selasa (9/6/2020) melalui aplikasi Zoom. Jadwalnya sebagai Direktur Utama Smesco begitu padat, di antaranya meeting dengan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki. Saya hanya punya sedikit waktu untuk berbincang dengannya.


Anda membidani dan membesarkan The Goods Dept, Brightspot Market, dan Indoestri Makerspace. Kini Anda diajak pemerintah dan bertanggung jawab atas UKM seluruh Indonesia.

Sebetulnya dari dulu karier saya selalu bersentuhan dengan UKM. Bedanya kalau di Brightspot, UKM-nya “wangi, cantik, ganteng”; tapi sebetulnya UKM juga. Begitu juga dengan Indoestri. Sebelum itu, saya sempat terlibat di pameran furniture dan handicraft dan lain sebagainya. Jadi UMKM ini enggak asing di hidup saya. Keberadaan saya di Smesco sekarang saya lihat sebagai natural progression ketika dikasih kesempatan oleh Pak Menteri.

Saat pandemi COVID-19, sektor ini memang terdampak, tapi akan bounce-back. Waktu krisis ekonomi 1998, yang paling cepat pivot adalah UKM.

Lompat dari swasta ke pemerintahan jadi tantangan tersendiri yang sangat challenging, apalagi sektor swasta yang saya pegang bukan konvensional tapi yang bisa dibilang “sub-culture” dan cenderung independen.

Di pemerintahan, ada birokrasi yang kental. Ini tantangan tersendiri buat saya pribadi. Nonetheless, I think it’s something yang mesti dinikmati. And so far, sudah hampir enam bulan saya bergabung [wawancara dilakukan pada Juni 2020].

Enggak semua ide bisa dieksekusi karena banyak pertimbangan, terutama dari aspek penggunaan dana—apakah APBN atau aset negara. Jadi saya harus bisa menghormati sisi legalnya walau sebetulnya gemas, gemas sekali. Kalau di swasta, satu pekerjaan bisa jadi besok, kalau di pemerintahan butuh berbulan-bulan. Tapi ini membuat kita harus jadi kreatif menyiasati berbagai hal.

Saya lihat jadi bagian dari birokrasi itu justru mesti punya semangat wirausaha. Melihat opportunity. Cari cara lain kalau enggak bisa.

Tantangan yang besar itu sebetulnya kombinasi atau implementasi ke daerah. Apa yang dirumuskan di pusat belum tentu bisa dijalanin di daerah karena ada perbedaan sudut pandang, cakupan jaringan, dari orang-orang yang mengisi jajaran birokrasi.

Setiap daerah bisa memiliki kemampuan yang berbeda, demikian juga sumber daya atau kearifan lokal yang harus dipertimbangkan. Jadi, yang terbaik adalah kita harus jadi katalisator. Sub-culture sebetulnya juga begitu. Rata-rata berawal dari keinginan individu-individu yang berkembang jadi movement yang menginspirasi dan diikuti.

Mimpi kalau kita bilang bisa bantu seluruh UMKM di Indonesia. Saya rasa statement itu kosong. Ketepatan fokus itu yang penting. Setiap UKM bisa punya treatment yang berbeda. Pembelajaran yang kita berikan harus sesuai.

Fokus kami adalah membesarkan UKM menengah agar bisa membuat lapangan kerja untuk yang di bawah. Yang di bawah ini, saat ini apalagi setelah masa pandemi sebaiknya berkoperasi. Konsolidasi melalui koperasi produksi atau distribusi. Jadi mereka memiliki kekuatan kolektif yang nantinya bisa diadopsi dan diayomi atau dibeli. Intinya dikerjasamakan oleh orang yang di atasnya.


Apa contoh programnya?

Kami bikin program "kakak asuh" UKM. Kakak asuh ini orang-orang yang kita latih untuk jadi digital marketer yang punya empati. Seorang kakak asuh diwajibkan mengadopsi 3 UMKM yang tidak mampu untuk memberi pendampingan dari sisi penjualan maupun aktivitas promosi/branding seperti copywriting, fotografi, optimization. Kakak asuh didampingi oleh Smesco.

Kami launching program kerja sama kakak asuh dengan Lazada. Untuk pilot project, kami bekerja sama dengan Bolu (Belajar Online Yuk!) membuat program untuk melatih 60 kakak asuh via grup WhatsApp selama 14 hari dan didampingi selama 16 hari—total satu bulan. Sekarang mereka dalam tahap pairing (berpasangan) dengan UKM (usaha kecil dan menengah).

Kami harap UKM bisa masuk ke smart campus, ke platform belajar online yang lain. Di sini saya adaptasi pengalaman saya di Indoestri. Ada listing pelatihan dari para enablers yang ingin membuat pelatihan.

Sebentar lagi kami membangun makerspace terdiri dari food lab, studio fotografi, videografi, dan garage. Arahnya akan ke “future UKM”—ke “new normal” di mana UKM bisa survive post-pandemic.


Apa itu “future UKM”?

Salah satu contohnya kami merencanakan acara bertema ecotourism di salah satu properti hotel milik Smesco di Cisarua, yang akan dibuka pada Oktober 2020. Nama konsepnya Lokahejo. Ada sesi lokatani yang menampilkan berbagai metode bercocok tanam termasuk urban farming dan permaculture; lokaseni yang menunjukkan berbagai jenis kriya dari metal atau kayu; dan lokasaji yang menunjukkan berbagai olahan makanan yang disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing.

Kami merekrut tujuh orang dari berbagai bidang seperti legal, finance, food, kriya, fashion, culture, digital marketing, yang kami pikir bisa bantu mengimajinasikan dan mengimplementasikan berbagai sumber daya dan membuat program-program “future UKM ” ini.

Kami juga menggarap pusat konsultasi UKM terpadu. Bekerja sama dengan semua deputi Kementerian Koperasi dan UKM. Sekarang kami mendata 200.000 UKM yang paling terkena dampak pandemi.


Siapa yang ditargetkan jadi kakak asuh?

Siapa saja yang ingin jadi wiraswasta. Yang jelas dia harus digital savvy, punya empati, dan anak muda. Mahasiswa terutama mahasiswa 2020 yang mungkin saat ini ketersediaan lapangan kerja jadi terbatas sehingga mesti jadi pengusaha. Maka, jalan ini bisa jadi salah satu opsi.

Setiap perusahaan partner punya program pelatihan. Kakak asuh juga harus punya preferensi. Intinya bantuin yang di bawah biar tetap bisa berproduksi.


Menggandeng fintech besar yang punya kemiripan program, misalnya?

Sebetulnya kami ingin bekerja sama dengan semua platform besar di bidang fintech seperti Lazada, Tokopedia, Dana, OVO. Tapi kami mengalami kesulitan birokrasi yang membuat kami tidak bisa menjalin kerja sama dengan begitu banyak perusahaan. Sejauh ini kami kerja sama dengan Facebook.


Apa nilai penting yang selalu Anda pegang untuk tetap bertahan sebagai “makers”?

Semangat self-made yang sebenarnya saya terapkan ketika membuat Indoestri. Saya percaya proses. Jadi sebetulnya UKM harus melalui proses yang lebar dan harus dilengkapi skill set yang benar untuk bisa berkembang. Masalahnya proses ini butuh waktu. Saya pikir perlu ada pendampingan agar mereka tetap termotivasi konsisten. Itu step pertama.

Saya juga percaya mindset “tahu diri”. Enterpreneurship enggak untuk semua orang. Kamu bisa jadi baik di bidangmu dalam skala tertentu. Jangan terlalu larut dalam daydreaming.

Dalam berbisnis, buat skala yang sesuai kemampuan diri.

Saya lihat banyak mahasiswa yang di-brainwash oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang membuat mereka tidak bisa mengukur kemampuan mereka dengan realistis. Jadinya halu. Apalagi situasi sekarang, kita harus realistis.

Baca juga artikel terkait UMKM atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Artikel Lanjutan
DarkLight