Menuju konten utama

Olimpiade Rio 2016, Untung atau Buntung?

Brazil menaruh asa yang besar pada penyelenggaraan Olimpiade 2016. Ajang olahraga terbesar di dunia itu diharapkan mampu membantu mendorong perekonomian negara yang sedang lesu. Tapi, Brazil harus belajar banyak dari kegagalan Yunani.

Olimpiade Rio 2016, Untung atau Buntung?
Ilustrasi Olimpiade Rio 2016 [foto/shutterstock]

tirto.id - Riuh gemuruh terdengar di dalam gedung Bella Center di kota Kopenhagen, Denmark 2 Oktober 2009. Suara gemuruh datang dari salah satu sudut ruangan yang terdiri dari delegasi Komite Olimpiade Brazil. Setelah melewati rangkaian pemilihan yang panjang, Rio akhirnya terpilih sebagai penyelenggara Olimpiade 2016.

“Ini adalah waktunya Brazil” adalah kalimat yang dilontarkan mantan presiden Brazil saat itu, Luiz Inacio Lula da Silva. Sesaat sebelum dilakukan voting di hadapan anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC). Kalimat tersebut menunjukkan bahwa Brazil siap untuk menjadi tuan rumah Olimpiade pertama kali.

Rio berhasil mengalahkan tiga kota lainnya yang lebih berpotensi dalam pemilihan seperti Madrid, Tokyo bahkan Chichago yang secara langsung didukung oleh orang nomor satu Amerika Serikat, Barack Obama.

Brazil menjadi negara pertama Amerika Selatan yang akan menyelenggarakan acara akbar olahraga terbesar di dunia. Dua tahun sebelum penyelenggaraan Olimpiade, Brazil juga menjadi tuan rumah Piala dunia 2014.

Keberanian Brazil menyenggelarakan dua acara olahraga terbesar secara berdekatan dapat dikatakan terlalu berani. Keberanian Brazil bukan tanpa perhitungan. Mereka meyakini “investasi” sebagai penyelenggara dua acara terbesar di bidang olahraga itu akan memberikan dampak pada perekonomian yang cukup besar.

Brazil sangat berharap dengan mengadakan acara-acara besar itu akan memberikan keuntungan berkali-kali lipat, seperti membuka lapangan pekerjaan baru hingga devisa dari kunjungan wisatawan asing. Acara ini juga menjadi ajang promosi kepada dunia internasional.

Olimpiade Rio 2016 akan mempertandingkan 39 cabang olahraga dari 207 negara peserta dengan atlet yang berkompetisi lebih dari 11.000 atlet. Atlet yang datang tentu tidak sendiri. Ada petugas pendukung, juga suporter yang akan berdatangan. Semuanya diharapkan bisa mendorong geliat perekonomian negara yang sedang dilanda resesi itu.

Jauh-jauh hari, pemerintah Brazil mengantisipasi lonjakan kedatangan turis asing dalam rangka Olimpiade. Pada tahun lalu menteri pariwisata mengambil kebijakan dengan memperbolehkan turis asing datang tanpa visa. Brazillian Tourism Institute melaporkan pemerintah Brazil menargetkan lebih dari setengah juta turis selama Olimpiade.

Dengan menyelenggarakan Olimpiade pemerintah Brazil memperkirakan keuntungan jangka panjang akan didapat. Penelitian yang dilakukan oleh University Of São Paulo Institute of Administration pada tahun 2009 memperkirakan akan 120.000 lapangan pekerjaan akan tercipta pada tahun 2016 dan akan meningkat 130.000 per tahun pada 10 tahun mendatang.

Beberapa sektor ekonomi juga diprediksi juga akan mendapatkan keuntungan dari olimpiade 2014. Diprediksi akan nada 55 sektor yang akan mendapatkan keuntungan. Misalnya saja sektor konstruksi yang diharapkan bisa tumbuh hingga 10,5 persen pada 2016. Real estate dan sewa rumah akan tumbuh mencapai 6,3 persen pada 2016. Minyak dan gas akan tumbuh mencapai 5,1 persen pada 2016.

Berkaca terhadap Olimpiade musim panas sebelumnya di London, kota tersebut mendulang sukses dan keuntungan. Brazil berharap bisa mendapatkan berkah yang sama. Hasil Studi terhadap Olimpiade mengungkap, Olimpiade akan menghasilkan 51,1 miliar dolar dalam perekonomian Brazil dari 2009 sampai 2027.

Namun, Brazil juga harus belajar dari kegagalan Yunani. Dua belas tahun silang, Yunani menjadi penyelenggara Olimpiade Musim Panas. Tepatnya diselenggarakan di Athena. Pemerintah Yunani gencar melakukan apa saja agar Olimpiade saat itu dipandang baik di mata internasional. Dengan Total pengeluaran saat itu hampir menyentuh 9 miliar dolar, jauh melampaui anggaran.

Anggaran yang berlebihan itu menyisakan utang yang besar bagi Yunani. Apalagi di kemudian hari, banyak fasilitas olahraga di negara tersebut yang akhirnya tidak terpakai.

Berkaca terhadap hal tersebut, Pemerintah Brazil harus melihat ini menjadi sebagai alarm bagi mereka. Terlebih Tercatat Pemerintah Brazil sudah mencatatkan kelebihan biaya sebesar 1,6 miliar Dolar Amerika Serikat dalam membiayai Olimpiade 2016.

Lima pekan sebelum Olimpiade 2016 dimulai bahkan masih terlihat beberapa venue-venue yang akan dipakai masih terlihat belum selesai sebulan sebelum Olimpiade dimulai. Veldrome, Lintasan Sepeda BMX adalah salah satu contohnya. Berbanding terbalik seperti Olimpiade 2012 di London, saat itu venue-venue sudah siap setahun sebelumnya.

Dengan semua fakta tersebut, Brazil layak berhitung ulang atas dampak Olimpiade terhadap negaranya. Sembari tentu saja berharap pelaksanaan Olimpiade berjalan mulus, sehingga memberikan “promosi” yang baik bagi negara tersebut.

Baca juga artikel terkait OLIMPIADE BRASIL 2016 atau tulisan lainnya dari Muhammad Fakhry

tirto.id - Indepth
Reporter: Muhammad Fakhry
Penulis: Muhammad Fakhry
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti