Nonaria dan Band-Band Wanita di Indonesia

Oleh: Nuran Wibisono - 31 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Nonaria hadir dengan musik bersuasana vintage. Bisakah ikonik seperti Dara Puspita di era 60-70-an?
tirto.id - Kedai kopi Coffeewar yang terletak di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, penuh sore itu. Beberapa orang mengantre untuk mengambil makanan yang disediakan. Ada nasi putih. Ayam goreng. Sayur tahu-tempe masak kuah santan, dan sambal.

"Sudah makan?" tanya seorang perempuan pada tamu yang datang.

Di bagian tengah kafe, tak jauh dari meja pemesanan, tiga orang perempuan bergaun seragam—merah marun dengan corak polkadot putih—tertawa riang sembari mengobrol.

Mereka bertiga adalah Nesia Ardi yang berkacamata dan berambut setengah jengkal di bawah telinga, Nanin Wardhani berambut sebahu, dan Yashinta Pattiasina yang berambut kribo. Ketiganya punya dua kesamaan. Pertama, rambut yang keriting. Kedua, mereka punya band yang sama: Nonaria.

Sore itu, 26 Januari 2018, Nonaria mengadakan peluncuran album pertama yang diberi judul sama dengan nama band. Para tamu undangan mendapat suguhan makanan yang mereka masak sendiri, serta musik yang turut mereka ramu sendiri.

"Kami bikin album ini sekitar setahun. Benang merahnya kira-kira musik, masak, dan cerita," kata Nesia yang menjabat pemain snare sekaligus vokal.

Nonaria sudah terbentuk sejak 2012 silam. Awalnya, Nesia dan Nanin ditemani oleh Rieke Astari yang memainkan akordeon. Namun pada 2016, Rieke harus pindah ke luar kota. Posisinya digantikan oleh Yasintha yang memainkan biola/violin.

Mereka memakai pendekatan vintage, dengan pengaruh musikal dari era 40 dan 50-an. Nonaria menyebut Bing Slamet, Ismail Marzuki, juga Sam Saimun sebagai salah satu pengaruh mereka dalam bermusik. David Tarigan, pengarsip musik, berjasa mengenalkan nama-nama musisi lawas Indonesia pada Nonaria.

Pengaruh musik Indonesia lawas itu tampak betul dalam album mereka. Suara mixing mereka seperti memancarkan gemerisik yang muncul saat orang memutar piringan hitam.

"Kenapa kami suka vintage, karena kami menemukan banyak keindahan di sana. Musik mereka juga tak lekang oleh waktu. Dari anak tiga tahun sampai oma 80 tahun, semua bisa ikut nyanyi," ujar Nesia.

Lagu mereka lumayan hangat, menyenangkan, meminjam istilah Andreas Harsono: seperti tetangga yang meriung dan bercerita dengan akrab. Temanya juga tak mengawang, dekat dengan keseharian. Bahkan terkesan amat sederhana dan nyaris tak terpikirkan.

Baca juga: Andreas Harsono


Coba tengok "Sayur Labu". Ternyata ada band ibu kota yang kepikiran untuk bersenandung tentang sayur labu, masakan yang jamak ditemui di seluruh warung makan mana pun di Jakarta. Lengkap dengan lirik deskriptif seperti "bawang merah dan putih, cabai, garam, dan gula, masaklah semuanya, dengan santan kelapa."

Tentu sebagai Homo jakartanensis, kurang afdol rasanya untuk tak "berkesah" tentang macet. Perkara tidak menyenangkan itu bisa disimak di "Antri Yuk". Lagi-lagi, liriknya membumi, dan tak merepotkan diri dengan menjalin kata-kata susah atau membakar.

Album seperti Nonaria ini bisa dibilang tak banyak ditemukan. Layak untuk disimak. Tentu saja ada beberapa catatan, semisal warna musik yang monoton. Tiga orang personel dengan tiga gawai musik yang sama, jelas rawan bikin lagu yang terdengar monokrom.

Kiprah Band-Band Perempuan di Indonesia

Kehadiran Nonaria kembali melanjutkan kultur all female band, alias band yang seluruh personelnya adalah perempuan. Ada banyak band dengan vokalis perempuan di Indonesia. Biduanita solis perempuan, lebih banyak lagi. Namun, band perempuan jelas bisa dihitung dengan jari.

Nama Dara Puspita pasti akan disebut pertama jika berbicara tentang band perempuan Indonesia. Mereka adalah legenda, sekaligus pembuka jalan bagi band perempuan di negara yang warganya secara umum masih melihat (industri) musik sebagai dunia laki-laki.

Dara Puspita berasal dari Surabaya, dibentuk pada 1964. Kuartet rock n roll ini terdiri dari Titiek Adji Rachman (gitar), Lies Soetisnowati Adji Rachman (bass), Susy Nander (drum), dan Ani Kusuma (gitar). Lies sempat meninggalkan band dan digantikan oleh Titiek Hamzah. Saat Lies kembali, ia menggantikan Ani, dan Titiek memegang bass.

Pada 1965, mereka hijrah ke Jakarta dan meraih popularitas. Namun, di periode yang sama, Sukarno menegaskan permusuhan dengan rock n roll. Koes Bersaudara dipenjara. Namun di tahun penuh turbulensi itu, Sukarno tumbang dan Orde Baru terbentuk. Di momen itu, Dara Puspita merilis album perdana Jang Pertama.


Popularitas mereka menembus batas negara. Mereka populer di Thailand dan Malaysia. Bahkan pada 1968, empat perempuan tangguh ini berangkat untuk tur ke Eropa selama beberapa tahun. Mereka bermain di Inggris, Belanda, Prancis, Belgia, Jerman, juga Hungaria. Bahkan mereka sempat bermain di Iran. Dalam rentang karier selama satu dekade, mereka telah merilis tujuh album.

Album terakhir mereka adalah Pop Melayu Volume 1 (1974) yang dirilis oleh Remaco. Di beberapa lapak penjual online, album Dara Puspita dibanderol dengan harga tinggi. Bahkan piringan hitam Pop Melayu Volume 1 ada yang dihargai Rp1,5 juta.

"Musik Dara Puspita memang terus hidup. Album mereka sekarang menjadi buruan kolektor dan dibanderol dengan harga sangat mahal," tulis situs Garage Hangover.

Setelah Dara Puspita bubar, Indonesia sempat mengalami paceklik band perempuan. Baru pada 1992, muncul Wondergel. Band asal Jakarta ini beranggotakan enam perempuan yang memainkan musik Britpop dengan oplosan new wave dan punk.

Mereka dianggap sebagai salah satu pelopor kancah musik independen di Jakarta. Mereka merilis album perdana sekaligus satu-satunya, Wondergel (1997) di bawah naungan M Music Production/ Musica. Mereka bubar tak lama setelah merilis album, dan sempat mengadakan reuni tahun 2017 silam.

Pada masa yang sama, nama Geger Band muncul. Mereka dibentuk pada 1996. Namun, baru pada 2001 mereka dikenal luas berkat album perdana, Tajir. Lagu "Tajir" memadukan pendekatan musik rock—lengkap dengan lengkingan vokal yang tinggi—dan unsur musik tradisional Jawa. Sayang, setelah album itu, Geger bisa dibilang menghilang.

Band perempuan yang kerap terlupakan adalah nama Traxap Loonatic. Band ini bisa dibilang alumnus Gang Potlot yang sering absen disebut. Para personelnya adalah Tathe dan Atik pada vokal, Regina main bass, Anissa dan Putri pegang gitar. Bimbim, drumer Slank, punya peran besar dalam mengorbitkan band ini.


Infografik Nonaria


Namun, mereka hanya bikin satu album: Berisik (1997), pun ada banyak sekali band bagus dari Potlot. Single "Buaya Darat" sempat wara-wiri di radio dan teve pada masanya. Sebuah ode tunjuk muka bagi para lelaki tak tahu diri. Bagi yang belum pernah tahu: video klip "Buaya Darat" terasa sekali aura cool-nya, lengkap dengan poster Trainspotting dan Pulp Fiction.

Setelah tiga nama di era 90-an itu, She dan Boys Are Toys adalah dua band perempuan yang menonjol di era 2000-an. Dua-duanya berasal dari Bandung. She masuk ke ceruk pasar yang lebih luas, sedangkan Boys Are Toys jejingkrakan di kancah independen dengan musik punk rock mereka. She merilis empat album, sedangkan Boys Are Toys merilis satu album bertajuk Weah Weah of the Blah Blah (2003).

Setelah nama-nama itu, ada beberapa nama band perempuan berseliweran. Mulai The Doctor, Clover, hingga Shima. Namun, rasanya belum ada yang benar-benar meninggalkan kesan seperti para pendahulunya. Beban band perempuan di Indonesia memang jauh lebih berat. Belum apa-apa, mereka mesti menghadapi pembandingan dengan band-band pria. Dan mau tak mau: Nonaria akan turut memanggul beban itu.

Baca juga artikel terkait BAND atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Maulida Sri Handayani
a