Menuju konten utama

Neymar Turun Kelas untuk Naik Kelas

Apa yang kira-kira dipikirkan Neymar saat memutuskan hijrah dari Barcelona ke PSG?

Neymar Turun Kelas untuk Naik Kelas
Neymar jr. FOTO/REUTERS

tirto.id - Neymar telah mengutarakan keinginannya untuk meninggalkan FC Barcelona. Pihak klub mengumumkan hal tersebut lewat situs resmi klub.

“Pemain yang bersangkutan, Neymar Jr, didampingi oleh ayah dan agennya, telah memberitahu FC Barcelona pagi ini mengenai keputusannya untuk meninggalkan klub dalam pertemuan yang digelar di kantor klub,” bunyi pernyataan pihak Barcelona.

Dengan menyampaikan niatan tersebut, Neymar secara otomatis dihadapkan kepada kewajiban menebus kontraknya sendiri. Pihak klub menjelaskan hal tersebut dalam pengumuman yang sama: “Dihadapkan kepada posisi ini, pihak klub telah memberitahu mereka untuk mengacu kepada klausul pemutusan dalam kontrak yang berlaku, yang mana per 1 Juli totalnya mencapai 222 juta euro yang mana harus disetorkan secara keseluruhan.”

Pengumuman ditutup dengan pernyataan bahwa Neymar secara teknis masih pemain Barcelona karena masih terikat kontrak. Satu kaki Neymar, walau demikian, sudah di Paris.

Normalnya, klub pembeli harus berkomunikasi dengan klub penjual untuk menyepakati harga jual pemain. Setelah harga disepakati, barulah klub pembeli dapat menjalin kontak dan menyodorkan kontrak kepada pemain yang mereka minati. Namun transfer pemain yang melibatkan klub Spanyol sedikit berbeda dengan transfer pemain yang tidak melibatkan klub Spanyol.

Klub-klub Spanyol menyertakan klausul pemutusan kontrak dalam kontrak setiap pemain karena hukum Spanyol mewajibkan hal tersebut. Secara teknis tidak ada klub yang membeli pemain dari klub Spanyol; yang ada adalah pemain menebus kontraknya sendiri untuk pindah ke klub tujuan – dengan dana yang mereka dapat dari klub tujuan.

Jika Neymar telah menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan Barcelona, maka itu berarti PSG telah membekali Neymar dengan sejumlah uang yang ia butuhkan untuk menebus kontraknya sendiri.

Bursa Transfer yang Gila

Hal ini belum resmi hingga Barcelona mengumumkan kepindahan Neymar atau hingga PSG mengumumkan kedatangan sang pemain – mana pun yang lebih dulu – namun dengan meninggalkan Barcelona, Neymar menjadi pemain termahal di dunia. Ia memecahkan rekor transfer terbaru, yang baru pecah tahun lalu.

Dana 105 juta euro yang berpindah dari rekening Manchester United ke Juventus sebagai bagian dari transfer Paul Pogba tahun lalu adalah hal besar. Perdebatan terjadi di sana-sini karena nilai transfer pemain tak pernah setinggi itu. Setahun berselang harga Pogba tak sampai setengah harga Neymar.

Yang membuat pecahnya rekor transfer kali ini menjadi lebih istimewa adalah karena 222 juta euro yang memuluskan kepindahan Neymar adalah harga tebusan kontrak. Klub memasang harga tidak masuk akal dalam klausul pemutusan kontrak untuk memagari pemain kunci dari klub lain, untuk membuat klub peminat berpikir ‘kami tidak akan mengeluarkan dana sebanyak itu, sehebat apa pun pemain yang kami minati – harganya tidak masuk akal’. Namun, kepindahan Neymar toh tetap terjadi, karena bursa transfer kali ini memang bursa transfer yang tidak masuk akal.

Harga pemain memang meningkat gila-gilaan di bursa transfer kali ini. Manchester City mengeluarkan dana sebesar 57,50 juta euro untuk Benjamin Mendy yang harga pasarnya hanya 13 juta euro. Agar konteksnya dapat dipahami dengan sempurna: Mendy didatangkan dari AS Monaco dan untuk klub Perancis, 13 juta euro sudah sangat mahal.

Contoh lain: Arsenal mengeluarkan 53 juta euro untuk Alexandre Lacazette, penyerang berkebangsaan Perancis yang bahkan jumlah penampilannya di tim nasional tidak lebih banyak dari penyerang Perancis lain yang Arsenal miliki, Olivier Giroud; untuk Giroud, Arsenal hanya mengeluarkan 12 juta euro.

Bahwa Arsenal sampai memecahkan rekor transfer klub “hanya” untuk Lacazette adalah sekuat-kuatnya bukti: harga pemain di bursa transfer kali ini memang tidak wajar. Dengan demikian, 222 juta euro untuk Neymar adalah wajar.

Tapi La Liga, otoritas pengelola liga di Spanyol, tidak begitu saja percaya. Presiden La Liga, Javier Tebas, justru mengutarakan sinyalemen bahwa PSG tidak cukup punya uang untuk menebus Neymar. Ia mencemaskan bahwa uang itu diperoleh dari kocek para pemilik PSG, bukan dari uang PSG itu sendiri. Tabes tidak percaya PSG lebih kuat secara keuangan ketimbang Barcelona atau pun Real Madrid.

"Kami telah melakukan studi ekonomi dan itu [keuangan PSG] tidak mungkin [menebusnya],” kata Tabes kepada Mundo Deportivo.

Sangat menarik mengikuti perkembangan transfer Neymar ini. La Liga bahkan dikabarkan terang-terangan tidak menyetujui transfer tersebut karena berpotensi melanggar Financial Fair Play. Drama kepindahan Neymar masih berlanjut.

Infografik Neymar Jr

Semua Karena Messi

Barcelona tidak bisa dan tidak boleh menolak keinginan Neymar. Jika sang pemain mampu menyediakan 222 juta euro untuk menebus kontraknya sendiri dan pindah ke Paris Saint-Germain, Barcelona tidak bisa mencegah. Satu-satunya pihak yang bisa membatalkan kepindahan Neymar adalah Neymar sendiri. Dan Neymar kelihatan sudah bulat dengan keputusannya. Ini yang sulit dimengerti, karena meninggalkan Barcelona untuk PSG berarti turun kelas.

Benar bahwa Neymar pindah dari satu klub besar ke klub besar lain, namun menempatkan PSG di posisi yang sama dengan Barcelona rasanya janggal. PSG menjadi klub besar sejak dibeli oleh Oryx Qatar Sports Investments pada 2011; Barcelona besar karena memiliki sejarah yang kaya dan identitas yang kuat. PSG baru mendominasi Perancis dalam beberapa tahun ke belakang sementara Barcelona sudah mendefinisikan sebuah era dengan gaya main mereka.

Neymar bergabung dengan Barcelona sejak 2013/14 dan sejak saat itu ia telah mengangkat sembilan piala: dua Liga Spanyol, tiga Piala Raja Spanyol, serta masing-masing satu Piala Super Spanyol, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Pada rentang waktu yang sama PSG mengumpulkan empat belas piala. Lebih banyak, namun tidak lebih baik. Yang paling bergengsi dari semuanya hanya tiga Liga Perancis (sisanya adalah piala kejuaraan minor: tiga Piala Perancis, empat Piala Liga Perancis, dan empat Piala Super Perancis) dan Liga Perancis sendiri tidak lebih bergengsi dari Liga Spanyol.

Dengan meninggalkan Barcelona Neymar juga merelakan keagungan bermain dengan Lionel Messi “hanya” untuk bekerja sama dengan Edinson Cavani, Angel Di Maria, Lucas, atau Julian Draxler. Namun justru barangkali itulah alasan utama Neymar: karena di PSG tak ada Messi. Sid Lowe, jurnalis Guardian dan pemerhati sepak bola Spanyol, bercerita bagaimana bahkan ketika Neymar menampilkan permainan terbaiknya, di titik paling berpengaruhnya, pujian dan perhatian tertuju kepada Messi. Sebesar apa pun pengaruh Neymar dalam kemenangan Barcelona, ia akan tetap menjadi figuran karena protagonisnya adalah Messi.

Jika teori ini benar, maka yang rugi adalah Barcelona. Neymar kehilangan anugerah berdampingan dengan Messi namun nyaris pasti akan menemukan status bintang utama yang ia cari. Barcelona, sementara itu, kehilangan pemain terbaik kedua di dunia, pemain yang ketika era dominasi Messi-Cristiano Ronaldo di pemilihan pemain terbaik dunia berakhir, akan langsung naik ke panggung tertinggi.

Baca juga artikel terkait NEYMAR atau tulisan lainnya dari Taufiq Nur Shiddiq

tirto.id - Olahraga
Reporter: Taufiq Nur Shiddiq
Penulis: Taufiq Nur Shiddiq
Editor: Zen RS