Menuju konten utama

Bagaimana Whatsapp Berperan di Bursa Transfer Pemain Eropa?

Kontak ilegal antara perwakilan klub peminat dan agen pemain terjadi bukan melalui email ataupun pertemuan langsung, melainkan melalui aplikasi Whatsapp.

Bagaimana Whatsapp Berperan di Bursa Transfer Pemain Eropa?
whatsapp.foto/shutterstock

tirto.id - Bursa transfer Eropa terus berjalan, dan satu per satu kepindahan pemain bintang mulai memenuhi headline di berbagai media massa. Banyak pihak tidak menyadari bahwa sebelum terjadinya kepindahan-kepindahan para pemain tersebut, ada proses-proses rumit yang harus dilalui oleh setiap klub.

Jika harus disederhanakan, dalam prosedur transfer pemain yang benar, ada tiga tahap negosiasi yang harus dilalui secara berurutan. Tahap pertama adalah negosiasi antara klub peminat dan klub pemilik pemain. Dalam negosiasi ini, terjadi pertemuan antara kedua belah pihak guna membahas nominal biaya transfer, bonus untuk klub, dan sebagainya.

Jika sudah ada kata sepakat dalam negosiasi tahap pertama, barulah klub peminat boleh melakukan negosiasi tahap kedua, yakni tahap di mana klub peminat melakukan tawar menawar dengan agen guna membahas aspek-aspek personal untuk si pemain. Hal-hal tersebut antara lain seperti gaji, durasi kontrak, bonus, dan sebagainya.

Bila negosiasi tahap pertama dan kedua berakhir dengan kata sepakat, pihak klub peminat baru dihalalkan untuk melakukan negosiasi tahap ketiga dengan agen si pemain terkait pemberian upah untuk sang agen.

Namun, benarkah ketiga tahapan di atas selalu berjalan sebagaimana mestinya?

Kenyataannya, banyak dijumpai kasus di mana klub peminat melakukan kontak dengan agen atau perwakilan pemain tanpa izin klub pemiliknya. Pihak klub umumnya menggunakan jasa perantara agar kontak dengan agen tidak terendus oleh pihak klub pemilik pemain.

Biasanya, kontak ilegal antara perantara dengan agen dilakukan guna mengukur apakah si pemain tertarik bermain untuk klub peminatnya. Contoh terbaru adalah dalam kasus Virgil van Dijk dan Liverpool. Southampton yang berstatus sebagai klub pemilik van Dijk kemudian menggugat Liverpool atas tuduhan melakukan kontak dengan van Dijk tanpa seizin The Saints.

Hal di atas juga dibenarkan oleh Jack Cohen, salah satu pengacara olahraga yang sering menangani kasus kepindahan pemain-pemain terkenal dalam bursa transfer Eropa. Lebih lanjut, pada salah satu wawancaranya dengan The Independent, Cohen menuturkan bahwa umumnya kontak ilegal antara perwakilan klub peminat dan agen pemain terjadi bukan melalui email ataupun pertemuan langsung, melainkan melalui aplikasi Whatsapp.

Whatsapp dipilih karena banyak alasan. Pertama, aplikasi ini berbasis ponsel dan mudah diakses oleh siapapun. Whatsapp juga memungkinkan kontak terjadi dilakukan di belahan dunia manapun dan kapan saja.

Adanya fitur read receipt dan group chat juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak pihak perantara memilih menggunakan aplikasi tersebut untuk berhubungan secara langsung dengan agen si pemain. Terakhir, alasan yang mendorong dipilihnya Whatsapp adalah enkripsi end-to-end yang dimiliki oleh aplikasi tersebut.

Enkripsi ini menjamin bahwa hanya si pemilik akun dan orang yang berkomunikasi dengannya saja yang dapat membaca apa yang telah dikirimkan. Bahkan, pihak Whatsapp pun tidak bisa mengintip percakapan-percakapan dalam sistem yang dikelolanya.

Hal ini pula yang disinyalir memungkinkan seorang agen berperan lebih jauh dalam masa depan dan karir pemain. Keleluasaan kontak melalui Whatsapp memungkinkan suatu klub menarik minat pemain dengan cara menawarkan ‘pelicin’ kepada agen si pemain. Dalam hal ini, artinya perantara yang dikirim klub peminat terlebih dahulu melakukan tahap "negosiasi ketiga" sebelum terlebih melakukan tahap pertama dan kedua.

Tuduhan seperti ini belakangan ditujukan untuk Mino Raiola. Raiola yang merupakan agen dari pemain-pemain kelas atas seperti Paul Pogba dan Romelu Lukaku sering mendapat kecaman karena dianggap terlalu jauh mencampuri masa depan pemain-pemainnya.

Baru-baru ini, dilaporkan bahwa salah satu alasan mengapa Romelu Lukaku memutuskan bergabung ke Manchester United adalah karena klub tersebut bersedia membayar biaya agen lebih untuk Raiola.

Namun, praktik ilegal seperti yang dijelaskan Cohen memang sulit untuk diendus pengacara atau ahli hukum Pada akhirnya, pelanggaran prosedur tahapan negosiasi dalam bursa transfer tidak akan menjadi masalah, selama masing-masing pihak dalam negosiasi bisa sama-sama memperoleh keuntungan.

Baca juga artikel terkait BURSA TRANSFER PEMAIN atau tulisan lainnya dari Herdanang Ahmad Fauzan

tirto.id - Olahraga
Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Agung DH