National Rifle Association: Biang Kerok Penembakan Massal di AS

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 10 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Tiap kali penembakan massal terjadi di Amerika Serikat, telunjuk selalu tertuju pada National Rifle Association (NRA), organisasi pembela kepemilikan senjata api dengan lobi kuat di Kongres.
tirto.id - Puluhan orang berhamburan mencari jalan keluar dari restoran Borderline Bar & Grill, Thousand Oaks, negara bagian California, Amerika Serikat, setelah beberapa kali terdengar letusan peluru di dalam gedung.

Taylor Whittler, seorang mahasiswa Lutheran University yang kebetulan sedang berada di dalam restoran tersebut menuturkan bahwa para pengunjung bereaksi lambat ketika pistol pertama kali meletus. Pada tembakan-tembakan berikutnya, mereka baru mulai tiarap dan sisanya berusaha keluar menyelamatkan diri.

“Setidaknya 50 orang berusaha bangun dan berlari keluar melalui pintu belakang. Saya jatuh, terjebak di lantai, dan tersandung banyak orang,” kata Whittler. “Semua orang hanya berteriak, ‘Lari, dia datang!’”

Beberapa pria berusaha pasang badan untuk menghalangi-halangi sang penembak.

Horor di Thousand Oaks yang dialami Taylor dan puluhan orang lainnya pada Rabu (7/11) menewaskan 12 orang.

Sang penembak diidentifikasi sebagai Ian David Long, seorang veteran Marinir AS. Geoff Dean, Sheriff Ventura County, menyatakan bahwa peluru Long menewaskan seorang penjaga keamanan, pegawai, dan sejumlah pelanggan bar. Sang pelaku menjadi korban ke-13 dari aksinya sendiri.

Menurut keterangan penyelidik, pria 28 tahun itu menggunakan senjata api jenis Glock 21 berkaliber .45 yang dibeli secara legal. Pihak berwenang masih menyelidiki motif sang pelaku.

Ancaman Pembunuhan yang Tak Diregulasi

Maut di Thousand Oaks adalah peristiwa penembakan massal kesekian kalinya di Amerika Serikat. Perdagangan senjata api secara legal, termasuk jenis senapan serbu, ditengarai sebagai akarnya. Para politikus dan masyarakat terbelah menjadi dua kubu: yang ingin perdagangan senjata api diatur ketat dan yang menolak regulasi. Namun, dalam tiap kasus penembakan massal, telunjuk selalu tertuju pada National Rifle Association (NRA), sebuah ormas yang kerap menghalang-halangi inisiatif terkait kontrol kepemilikan senjata api.


Sebagaimana dicatat Time, NRA didirikan oleh dua orang veteran Perang Sipil AS dan seorang mantan reporter harian New York Times pada 1871 dengan tujuannya meningkatkan kemampuan menembak orang-orang dari negara-negara bagian utara, yang mayoritasnya adalah penduduk perkotaan. Menurut para pendiri NRA, penduduk utara kalah cakap menembak dari orang-orang selatan. Sebelumnya, orang-orang utara dan selatan terlibat dalam Perang Sipil (1861-1865). Yang utara mendukung penghapusan perbudakan, yang selatan ingin melanggengkan perbudakan.

Awalnya NRA mendukung agar senjata api dikontrol ketat. Namun, sebagaimana dilaporkan Washington Post, sikap itu mulai berubah pada 1963.

Pada 22 November 1963, Presiden John F. Kennedy tewas ditembak oleh Lee Harvey Oswald. Lima tahun kemudian, tuntutan agar kepemilikan senjata api diregulasi mengemuka setelah terbunuhnya pejuang hak-hak sipil Martin Luther King Jr. dan Jaksa Agung Robert Kennedy, serta maraknya kerusuhan di berbagai tempat di AS. Keluarlah produk hukum yang mengontrol kepemilikan senjata api, yakni Safe Streets Act dan Gun Control Act.

Aturan tersebut tak hanya melarang semua narapidana, pengguna narkoba, dan orang sakit jiwa membeli senjata, namun juga menaikkan batas usia konsumen (minimal 21 tahun) yang boleh membeli pistol dari dealer resmi. Selain itu, izin menjual senjata api juga kian ketat. Toko-toko bedil dan pistol wajib mengeluarkan catatan rinci mengenai senjata apa saja yang dijual.


Kala itu, masyarakat AS telah memandang senjata api sebagai perkakas pelindung vital, alih-alih sekadar alat olah raga.

Masih dari Time, Biro Alkohol, Tembakau, Bahan Peledak, dan Senjata Api AS menembak dan melumpuhkan seorang anggota senior NRA bernama Kenyon Ballew dalam sebuah penggerebekan pada 1971. Ballew diduga menimbun senjata ilegal. NRA pun mengeluarkan penyataan keras mengecam pemerintah dan menyebut agen-agen pemerintah federal sebagai “Treasury Gestapo”.

Tak hanya itu, NRA menggunakan argumen yang sebelumnya digembar-gemborkan oleh Black Panther Party bahwa Amandemen ke-2 AS menjamin hak individu untuk memiliki senjata. Black Panther Party adalah organisasi militan yang memperjuangkan hak-hak warga kulit hitam agar setara dengan warga kulit putih. Mereka kerap memanggul senjata kala patroli.

Tepat pada 1971 itulah NRA menjelma kelompok garda depan pecinta senjata api.

Monster Lobi Tingkat Tinggi?

Maraknya kasus penembakan massal di AS selama 20 tahun terakhir membuat mayoritas masyarakat AS sadar bahwa nyawa mereka terancam oleh aturan penjualan senjata api yang longgar. Quartz melaporkan, 60 persen warga AS menghendaki kontrol yang lebih ketat pada 2012. Sejak kasus penembakan di sebuah SMA di Parkland, Florida, pada Februari 2018, jumlahnya yang pro-kontrol senjata api bahkan meningkat menjadi 66 persen.

Namun, berkat lobi-lobi dari NRA, selama 20 tahun terakhir Kongres AS terus menggagalkan RUU apapun yang diharapkan mampu mengontrol penjualan senjata api secara drastis. Termasuk sejumlah RUU yang digulirkan setelah penembakan masal di SMA Columbine (1999) dan SD Sandy Hook (2012).

Jutaan dolar telah dihabiskan NRA untuk melobi politikus. Pada pemilu 2016, misalnya, organisasi tersebut menghabiskan 50 juta dolar AS hanya untuk membiayai lobi, demikian menurut laporan wajib NRA kepada Komisi Pemilu Federal. Namun, menurut laporan audit internal, NRA menghabiskan sekitar 75 juta dolar AS untuk lobi legislatif dan public relations pada tahun yang sama.

Jumlah ini luar biasa jika dibandingkan dengan ongkos lobi industri-industri lainnya. Industri farmasi AS, misalnya, yang memiliki pendapatan 450 miliar dolar AS pada 2016, ‘hanya’ menghabiskan sekitar 43 juta dolar AS untuk keperluan lobi. Di sisi lain, pendapatan dari industri senjata api di AS diperkirakan mencapai 9 miliar dolar AS di tahun yang sama.

Infografik The National Rifle Association


Uang lobi itu mengalir ke para politikus yang pro-kepemilikan senjata api, juga ke iklan-iklan yang sengaja dipasang untuk menyerang politikus pro-regulasi senjata. Hampir seluruh politisi pro-senjata api berasal dari Partai Republikan.

Menilik data dari Center for Responsive Politics, pada pemilu 2016, NRA bahkan memberikan porsi dana lebih besar untuk menyerang politikus yang pro-regulasi senjata api yang mayoritas berasal dari Partai Demokrat. Dana yang digelontorkan mencapai 34,5 juta dolar AS. Masih dari Quartz, jumlah ini hampir dua kali lipat dana yang dikeluarkan untuk iklan kampanye Donald J. Trump beserta politikus-politikus partai Republik lainnya yang mencapai 14,5 juta dolar AS.

Dalam analisisnya di The Conversation, profesor hukum dari Loyola University Chicago Samuel Bronson mencatat bahwa NRA berhasil menghimpun pendapatan sekitar 337 juta dolar AS pada 2016. Setengah dari angka itu berasal dari iuran keanggotaan, sisanya dari operasi media, donasi dan dana hibah.

Namun, tambah Bronson mengutip laporan Violence Policy Center, pemasukan yang diperoleh NRA dari perusahaan-perusahaan produsen senjata semakin meningkat dibandingkan sumbangan dari pemilik senjata di AS yang masuk ke organisasi tersebut. Dengan kata lain, kepentingan korporasi lebih menonjol dalam kampanye anti-regulasi senjata api.

Ratusan kasus penembakan massal menunjukkan bahwa NRA tak bergeming menghadapi tuntutan regulasi senjata yang kian populer di masyarakat. Gilanya lagi, kasus-kasus penembakan massal menjadi bahan kampanye yang efektif untuk menolak regulasi kepemilikan senjata. Buktinya, tiap kali terjadi penembakan massal dan muncul wacana regulasi senjata api, angka penjualan bedil dan pistol biasanya justru meroket.

Baca juga artikel terkait KASUS PENEMBAKAN atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Politik)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf